Ketika Agama Dipermainkan; Telaah Kitab Usamah As Sayyid Al Azhari

0
765

Sangkhalifah.co — Tulisan ini merupakan sebuah ulasan singkat terhadap kitab Al-Haqq al-Mubîn fî al-Radd ʻalâ man Talâʻaba bi al-Dîn yang ditulis oleh Ulama muda kenamaan Mesir, Usamah As-Sayyid Al-Azhari. Secara garis besar kitab ini mengulas pemikiran kelompok-kelompok radikal yang mengatasnamakan agama Islam mulai dari Ikhwanul Muslimin hingga ISIS (Islamic State Iraq Syam).

Dalam penyajiannya Ulama muda yang sekaligus menjadi anggota dewan penasehat Presiden Mesir ini, menampilkan kritikan terhadap berbagai pemikiran aliran radikalisme seperti konsep takfir, jihad, tanah air, dsb. Bantahan yang dibangun oleh Usamah al-Azhari diolah dengan metode komparasi-kritis. Sejumlah pandangan para ulama besar baik klasik maupun kontemporer menjadi bahan komparasinya.

Ketika mengupas konsep takfir penulis mengkritik habis kitab Zhilâl Al-Qur’ân karya Sayyid Quthb. Menurutnya semua pemikiran takfiri menginduk pada kitab tersebut. Ini terbukti dalam buku yang ditulis salah seorang aktivis ISIS, Taha Shubhi Falahah yang berjudul al-Lafzh as-Sânî fî Tarjamah al-̒Adnânî yang menyebutkan Zhilâl Al-Qur’ân adalah kitab favoritnya sebab saat menelaah penafsiran Sayyid Quthb pada QS al-Maidah [5]: 44 membangkitkan semangatnya untuk mengkafirkan pemerintahan Syria. Gagasan Sayyid Quthb merupakan pengembangan dari pemikiran Abu al-A’la al-Maududi. Pengaruh Sayyid Quthb kuat bagi kaum takfiri juga ditegaskan oleh al-Qardhawi bukunya Ibn al-Qaryah wa al-Kitâb (2008).

Sejatinya madzhab takfiri adalah neo-Khawarij. Aliran yang menjadikan konsep hâkimiyyah (penegakan hukum Allah swt) sebagai ushuludin (dasar keimanan). Padahal ulama muktabar lintas generasi mulai sahabat hingga saat ini tak ada yang mengamini paham tersebut. Seharusnya QS al-Maidah [5]: 44 dipahami dengan tepat. Vonis kafir dalam ayat tersebut diarahkan bagi siapapun yang mengingkari hukum Allah swt sebagai wahyu yang hak. Sehingga mereka tak akan mau untuk menegakkannya. Salah besar jika vonis itu dialamatkan bagi yang mengimani hukum tersebut sebagai wahyu ilahi sementara penerapannya adalah hal yang sulit bahkan tak memungkinan. Bantahan ini disarikan oleh penulis dari penafsiran QS al-Maidah [5]: 44  dari para mufasir ternama di antaranya ar-Razi lewat Tafsir al-Kabîr-nya, al-Ghazali melalui al-Mustashfâ-nya, Ibnu Athiyyah dengan al-Muharrar al-Wajîz dan nama mufasir besar lainnya. (lihat hal. 18-23).

Saat berbicara tentang konsep jihad, penulis menegaskan bahwa konsep jihad kaum ekstremis merupakan hilir dari hulu yang bernama paham takfiri atas dasar konsep hâkimiyyah (penegakan hukum Allah swt). Sehingga kaum Muslimin yang sudah ada dicap sebagai kaum jahiliah yang kafir dan musyrik. Lalu cap kafir merambah pada undang-undang dan konstitusi yang ada sekarang. Sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk merebut kekuasaan dan mengubah sistem kekuasaan yang ada atas nama politik Islam. Siapapun yang menghadang akan mereka lawan baik dengan baku hantam maupun mengangkat senjata tajam. Itulah yang mereka namakan dengan jihad.

Orang yang memaksakan penegakan hukum Allah swt sama halnya dengan ambisi Muadz bin Jabal saat menjadi imam shalat. Ia memaksakan membaca surah al-Baqarah atau surah an-Nisa’. Tentu hal itu sangat memberatkan para makmum di belakangnya. Padahal di antara mereka ada yang sedang rehat bekerja. Bahkan sebagian mereka mengadukan kepada Rasulullah saw. Muadz pun mendapat teguran keras dari Nabi saw dengan ungkapan fattân sebanyak tiga kali. Ambisi Muadz untuk mendapatkan keutamaan shalat dengan bacaan panjang tentu sangatlah keliru. Pertama dia tidak paham kondisi sekelilingnya. Kedua dia tidak mempertimbangkan dampak buruknya yang bisa mengubah cara pandang orang-orang dengan syariat [agama] (lihat hal. 102-103).

Saat ekstremis meyakini membunuh dan berperang sebagai satu-satunya cara berjihad, al-Bahuti dalam Kasyf al-Qinâ-nya memberikan pandangan bahwa konsep jihad merupakan ladang yang luas dan punya banyak cara. Ketika Sayyid Quthb–dalam Ibn al-Qaryah wa al-Kitâb dan Malâmih Sîrah wa Masîrah– meletakkan jihad sebagai tujuan (goal), Ibnu Asyur melalui bukunya Maqâshid asy-Syarî’ah menegakan bahwa jihad merupakan wasilah (tool). Dalam Qawâ’id al-Ahkâm, al-‘Izz bin Abdussalam menyebutkan inna al-wasâ’il tasquthu bi suqûth maqâshidihâ (wasilah tidak akan berlaku lagi ketika tujuan sudah tercapai). Sementara as-Subki melalui Fatâwânya menegasan bahwa tujuan jihad adalah tercapainya hidayah bagi umat. Jika hidayah bisa sampai dengan majelis taklim dan diskusi ilmu mengapa harus repot-repot mendesingkan peluru. Dari sini kita bisa tahu bahwa tinta orang berilmu lebih afdal dari darah syuhada saat gugur beradu (lihat hal. 99-107).

Konsep wathan (tanah air) juga tak lepas dari sorotan Usamah al-Azhari. Lazimnya kaum takfiri dan jihadis sangat anti dengan konsep nation-state (negara tanah air). Mereka membangun narasi-narasi yang berupaya menyisihkan kamus wathan dalam Islam. Wathan bagi mereka tak ubahnya seperti segenggam tanah yang tak berharga. Padahal –bantah Usamah al-Azhari- wathan tidak hanya tanah dan wilayah saja tapi mencakup budaya, peradaban, sejarah, kejayaan dan segala isinya. Kerdil sekali jika wathan hanya dimaknai sejumput tanah yang ditinggali. Ketika cinta tanah air mereka ibaratkan seperti kecenderungan rasa manusia untuk bermaksiat, ad-Dinawari dalam al-Mujâlasah-nya menukil riwayat al-Ashma’i, jika ingin mengenal seseorang bisa kita lihat bagaimana rasa rindu dan cintanya kepada wathan-nya. Ar-Razi dalam tafsirnya saat menafsirkan QS an-Nisa’ [4]: 66 menegaskan bahwa Allah swt mensejajarkan beratnya rasa meninggalkan tanah air dengan rasa berat untuk bunuh diri. Pun sama halnya dengan Ali al-Qari dalam Mirqâh al-Mafâtîh yang menafsirkan kata fitnah dalam QS al-Baqarah [2]: 191 dengan terusir dari tanah air. Dikuatkan lagi oleh Ibn Hajr al-‘Asqalani dalam Fath al-Bârî fî Syarh Shahîh al-Bukhârî saat mengomentari hadis yang menceritakan kecintaan Nabi saw pada kota Madinah sesaat datang dari bepergian. (lihat hal. 157-173)

Qultu, melalui tulisan Usamah al-Azhari ini kita bisa menyimpulkan bahwa gagasan dan narasi kaum radikal yang mengatasnamakan agama sangatlah rapuh. Berangkat dari pemahaman keagamaan yang tak utuh, logika dan argumen yang mereka bangun tak kukuh, mudah sekali dibuat runtuh. Sejatinya pemikiran radikalisme tidak pantas disebut sebagai sebuah ideologi karena tak memiliki cukup pondasi dan cacat nalar. Senada dengan ungkapan Habib Ali al-Jufri, “Radikalisme bukanlah sebuah ideologi. Melainkan sebuah masalah kejiwaan yang mencari logika pembenaran”.    

Al-Haqq al-Mubîn fî al-Radd ʻalâ man Talâʻaba bi al-Dîn merupakan sebuah kitab yang sangat bernas. Kedalaman analisa dalam mengurai konsep kaum radikal menunjukkan pengetahuan khazanah keilmuan klasik penulisnya begitu luas. Kelengkapan berargumen baik menggunakan naqli maupun aqli dengan pendekatan jitu dan pemahaman sangat berkelas. Bantahan yang dibangun pun begitu menukik pada sasaran tanpa bertele-tele. Tak heran jika Usamah al-Azhari mendapatkan pujian banyak dari seniornya, “ilmunya melebihi umurnya”. []

*Ali Fitriana Rahmat, Dosen Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an Al-Hikam Depok    

Leave a reply

error: Content is protected !!