Kesengsaraan Umat di Bawah Naungan Khilafah

0
417

Sangkhalifah.co ― Khilafah adalah bagian dari produk ijtihad masa lalu. Mudah sekali untuk membuktikan itu. Dalam internal kelompok radikal sendiri, satu sama lain berbeda dalam memahami khilafah. HTI misalnya, menerjemahkan khilafah sebagai kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim yang menerapkan syariat Islam bagi seluruh warganya dan menyebabkan Islam dengan dakwah dan jihad ke seluruh penjuru dunia. ISIS, yang merupakan metamorfosis kelompok teror Al-Qaeda, menyebut khilafah sebagai kepemimpinan Islam untuk seluruh dunia yang diperjuangkan dengan jihad. Kacaunya, ISIS menggunakan cara-cara kekerasan di atas nama jihad dan perjuangan Islam. Namun demikian, setelah tahun 1924, khilafah telah usang. Mengutip pendapat Nadirsyah Hosen, khilafah sudah tidak lagi relevan untuk dihidupkan kembali. Ia juga menyebut bahwa khilafah bukan bagian inti dari ajaran Islam, sebab bukan bagian dari rukun Islam maupun rukun iman.

Pernyataan Nadirysah Hosen bahwa khilafah sudah tidak lagi relevan menemukan presedennya. Jika khilafah tegak, akan banyak kesengsaraan di mana-mana. Misalnya, agama tidak lagi menjadi panduan moral, akan tetapi hanya menjadi panduan bernegara. Apapun keputusan dalam sebuah negara harus tunduk pada keputusan Khalifah dengan mengatasnamakan agama. Di bawah naungan khilafah, agama hanya akan dijadikan pelampiasan nafsu kekuasaan para Khalifah. Mengatasnamakan agama. Sebagaimana penegasan Said Aqil Siraj, bahwa jika agama dikonstitusikan maka tinggal menunggu kehancurannya. Nilai agama sudah tidak lagi berharga. Sebab semua penafsiran agama akan didistorsir oleh pemikiran jahat para pengasong khilafah untuk memenuhi keinginan Khalifah dan membidik orang-orang yang tidak tunduk serta bergabung dengan khilafahnya.

Kesengsaraan jika khilafah tegak juga akan menghampiri penduduk non-Muslim. Mereka akan hidup di bawah tekanan sistem yang katanya Islam, namun penuh diskriminasi. Memang dalam sistem khilafah warga non Muslim dianggap Ahl Ad-Dzimmi, warga dijanjikan perjanjian, yaitu perjanjian untuk dilindungi di bawah naungan khilafah. Namun itu hanyalah fatamorgana. Sebab jelas dalam sistem khilafah, meskipun non Muslim berstatus Ahl Ad-Dzimmi, namun mereka diharamkan menjadi pemimpin atau bagian dari kepemimpinan negara khilafah. Warga non Muslim hanya bisa tunduk pada sistem khilafah yang tidak diyakininya dan tidak wajib mengikutinya. Kesengsaraan pada warga non Islam akan tak menemui ujungnya, sebab dalam khilafah tidak ada kesetaraan. Bahkan berpotensi hanya menjadi babu para penganut khilafah. Meskipun para penyeru khilafah berdalih akan menganggap setara warga non Muslim, namun itu hanya bualan semata. Belum tegak saja, para pengasong khilafah sangat benci dengan non Muslim, apalagi ketika sudah tegak.

Selain tidak akan pernah terwujud kesetaraan antar Muslim dan non-Muslim, dalam sistem khilafah satu pemimpin dengan pemimpin lain akan bertarung menempati kursi kekuasaan atas nama agama. Agama akan dipolitisasi sedemikian mungkin untuk membranding calon Khalifah yang belum tentu jelas model kerjanya. Sejarah telah membuktikan ini. Masih di zaman Khalifah Ali Bin Abi Thalib. Satu kekuasaan di bawah komando Sayyidina Ali dan kekuasaan lain di bawah kekuasaan Muawiyah Bin Abi Sufyan. Perseteruan antar dua khalifah itu salah satunya berujung pada terbunuhnya Hasan dan Husain, dua cucu Nabi. Hasan dibunuh dengan diracun oleh istrinya atas perintah pihak Muawiyah. Husein pun dipenggal kepalanya oleh tentara Muawiyah. Dalam konteks masa kini itu terjadi pada ISIS dan para pemimpin negara di Afghanistan, Suriah dan Irak. ISIS dengan mengatasnamakan agama merampas dan terus berusaha mengkudeta kepemimpinan negara-negara tersebut. Jika para pemimpin hanya sibuk mengurusi nafsu politik, bahkan atas nama agama, bagaimana mungkin rakyat akan terurus?

Kita juga tidak bisa menafikan bahwa pada dasarnya sistem khilafah tidak pernah menyatukan umat. Sejak zaman Khalifah Ali Bin Abi Thalib saja masih ada kelompok yang tidak puas kepada Khalifah dan terus berseteru serta ingin mengkudeta kepemimpinan. Kita juga bisa melihat bagaimana pada masa akhir kepemimpinan Bani Umayyah. Abu Bakar Assaffah, yang mengaku sebagai keturunan Rasulullah, melakukan kudeta pada Marwan I, Khalifah terakhir Bani Umayyah. Id dibunuh sebelum kemudian Assaffah mendeklarasikan diri sebagai Khalifah. Salah satu Khilfah Bani Umayyah, Maarwan II, ketika para prajurit pemimpin Assaffah memasuki tanah kekuasaan Bain Umayyah, ia dipenggal kepalanya ketika hendak kabur dari negaranya. Masih banyak sejarah yang membuktikan bahwa khilafah tidak pernah menyatukan umat. Sikap bengis sebagian para pemimpin khilafah diwarisi para penyeru khilafah pada masa sekarang. Mereka gemar mencaci bahkan upaya mengkudeta banyak negara, termasuk Indonesia oleh eks Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Para penyeru khilafah mengklaim bahwa khilafah adalah sistem tatanan dunia baru. Faktanya, tidak sama sekali. Khilafah tidak lain kecuali sistem usang yang tak pernah berhasil menyatukan tatanan dunia global bahkan sejak masa kekhalifahan Khulafa Al-Rasyidun. Justru, keberadaannya penuh getir, kesengsaraan, dan pertumpahan darah. Mengutip pendapat Ahmad Syafi’i Ma’arif, apa yang diperjuangkan para pendukung khilafah selalu dibumbui dengan wahyu. Kelakuan para pendukung khilafah yang mengancam tatanan dunia selalu mengatasnamakan perintah wahyu. Padahal, kenyataannya jauh panggang dari api. Khilafah yang saat ini diperjuangkan baik oleh HTI maupun ISIS, hanya akan menyengsarakan umat. Wajar jika negara-negara Muslim di dunia seperti Arab Saudi, Mesir, Palestina, Bahrain, dan lainnya telah sepakat menolak khilafah. Khilafah tidak lain hanya intrik politik yang dibungkus dengan label ayat-ayat suci untuk menipu awam.

Apa yang digaungkan para pengusung khilafah bahwa khilafah akan mensejahterakan umat adalah fiktif. Khilafah identik dengan peperangan, perebutan kekuasaan dan kudeta, atas dasar perintah agama. Bagaimana mungkin mereka mau peduli dengan nasib rakyatnya. Apa yang diusung para pemimpin khilafah bahwa hanya sistem tersebut yang akan membawa kejayaan umat adalah fatamorgana. Negara-negara di dunia sudah sepakat menolak khilafah, karena memang sistem yang diusung penuh utopia dan khayalan semata.

Dalam sistem khilafah, tidak akan ada kesetaraan, tidak pernah akan tegak keadilan bagi seluruh rakyatnya, dan rakyat hanya akan menjadi penonton kebusukan para Khalifah berebut harta dan kekuasaan di atas ayat-ayat suci Tuhan. Apa yang diserukan para pengasong khilafah bahwa hanya sistem gagal tersebut yang akan bisa menerapkan syariat Islam secara total adalah fiktif. Tidak ada bukti sejarah di literatur Islam manapun bahwa syariat Islam telah teraplikasi secara sempurna ketika khilafah tegak. Yang ada justru memperkosa syariat Islam, untuk keperluan perang antar saudara, berebut kekuasaan, dan menggunakan ayat Tuhan untuk kepentingan menikam satu sama lain. []

Leave a reply

error: Content is protected !!