Kesadaran Pluralitas Agama Sebagai Jalan Menuju Moderasi Islam

0
253

Sangkhalifah.co — Indonesia kini tengah dilanda krisis kemanusiaan yang bertumpu pada keberagamaan. Ajaran agama yang seharusnya menjadi penuntun kedamaian berubah menjadi alat menghakimi orang lain. Isu agama seringkali diangkat demi kepentingan individu maupun kelompok.

Menjual isu agama kian menjadi tren tersendiri yang marak diminati. Gagasan agama kemudian menjadi sempit hanya dalam jargon ‘membela Tuhan’ yang kering akan nilai-nilai. Sebab, dalam praktiknya hanya memperjuangkan iman atas nama institusi semata. Akibatnya, mereka terjebak dalam proposal kosong tawaran ‘agama tanpa nilai’.

Wacana membela Tuhan kemudian menjadikan seseorang atau kelompok merasa seakan paling benar. Mereka berdalih apa yang diperjuangkan semata-mata atas nama agama. Padahal, membela agama juga harus mempertimbangkan aspek-aspek lain sebagai bentuk keadilan beragama. Sebut saja, perjuangan atas nama kemanusiaan lebih diutamakan daripada sekadar berkoar-koar atas nama ‘agama’.

Dalam hal ini, keadilan dan kesetaraan dalam universalitas kemanusiaan harus  seimbang dengan prinsip ketuhanan yang sejatinya dimiliki agama-agama. Sebab, secara faktual Tuhan menciptakan perbedaan yang mendorong adanya persaingan alamiah di antara sesama manusia.

Islam sendiri bukan satu-satunya agama di Indonesia. Secara berdampingan agama-agama lainnya berada dalam lingkup kehidupan sosial bangsa Indonesia. Ini fakta yang tidak dapat terhindarkan. Konsekuensi logis dari keberagaman ini adalah pembentukan kesadaran saling memahami dan menghargai.

Perbedaan tersebut bukan penghalang berarti untuk berkompetisi dalam beragama. Tentang ini, Haidar Bagir menulis bahwa sikap hidup seseorang harus ditunjukkan dalam model penghayatan terhadap Tuhan sebagai wujud perilaku positif “seperti Tuhan” (Haidar Bagir, 2015: 72). Perilaku positif boleh juga disebut sebagai perilaku yang berada dalam lingkup ‘hikmah’.

Pendapat di atas didukung oleh al-Rāzi ketika mendefinisikan makna hikmah dalam QS. al-Baqarah [2]: 269. Menurutnya, hikmah berarti melakukan kebenaran yang dibatasi dalam perbuatan yang meliputi ‘Akhlaq Allah’. Sementara dalam praktiknya menurut tingkat kemampuan manusia (al-Rāzi, :7/58). Hal ini seperti ditulis dalam bahasa agama dengan perintah:

 تَخَلَّقُوا بِأَخْلَاقِ اللَّهِ تَعَالَى

“Berperilakulah seperti Allah berbuat.”

Pernyataan di atas membuktikan kebenaran bukan milik individu atau kelompok tertentu. Titik poin dari kebenaran adalah sesuatu yang mengacu pada Akhlaq Allah. Setiap orang berhak mendapatkan porsi kebenaran berbuat dalam batasan tersebut. Apabila meleset dari batas-batas tersebut jalan terbaik harus dikembalikan kepadanya. Sehingga, kebenaran secara normatif dipandang sebagai nilai-nilai hikmah yang luas cakupannya. Melalui nilai-nilai tersebut, kesadaran pluralitas agama dapat diwujudkan.

Cinta Kasih Sebagai Bahasa Moderasi Agama

Agama secara normatif mengusung misi kemanusiaan lebih besar dalam porsinya. Misi kemanusiaan itu dikenal dalam Islam sebagai rahmatan lil ‘ālamīn. Dalam kristen disebut cinta kasih. Agama Buddha menyebutnya saraniyadhamma (welas asih). Sedangkan Hindu menyebut sebagai bhakti yang lebih dekat dengan cinta kepada Tuhan. Dari sini, kita disadarkan betapa luasnya makna cinta kasih melingkupi agama-agama.

Tidak jarang ditemukan teks-teks keagamaan begitu memperhatikan nilai-nilai seperti keadilan, persamaan, kesetaraan, dan pembebasan. Nilai-nilai universal tersebut seringkali disebut sebagai ruh bagi setiap agama. Maka, tidak heran apabila seruan kemanusiaan oleh agama-agama selalu menyertakan keempat nilai tersebut.

Perwujudan nilai-nilai tersebut akan menjadi penentu arah tujuan misi agama yang secara umum adalah mewujudkan perdamaian di tengah kehidupan yang plural. Boleh dikatakan bila agama merupakan perdamaian. Sangat naif bila agama hanya dikaitkan dengan pedang dan peperangan.

Dalam konteks ini, cinta kasih menjelma sebagai bahasa moderasi dapat menjadi titik temu atas segala perbedaan.  Islam sendiri mengenal moderasi dengan bahasa wasathiyah yang berarti pertengahan. Sikap tawassuth harus dikedepankan dalam rangka menyikapi aneka ragam dan perbedaan tak terhindarkan.

Sebab, secara historis Islam merupakan agama terakhir yang telah didahului agama-agama sebelumnya. Sehingga, hal ini mendorong umatnya untuk tampil di tengah sebagai bentuk persaksian terhadap perbuatan manusia (QS. al-Baqarah [2]: 143).

Kata wasath pada ayat tersebut oleh Quraish Shihab disebut sebagai posisi yang menjadikan manusia tidak memihak ke kiri atau ke kanan. Posisi ini juga disebut sebagai kondisi yang dapat mengantarkan manusia untuk berlaku adil. Di posisi itulah, kemudian seseorang didapuk menjadi teladan bagi semua pihak (Shihab, 2012: 1/415).

Oleh karenanya, perwujudan moderasi harus didasarkan pada pluralitas agama. Cinta kasih menjadi bahasa sepadan yang dapat mempertemukan perbedaan di antara agama-agama. Wacana keadilan dan kesetaraan dalam kemanusiaan harus diterjemahkan secara terbuka sesuai konteksnya. Adapun dalam praktiknya, spirit kemanusiaan harus diunggulkan atas segalanya.

Dalam pandangan luas, agama bukan lagi soal benar dan salah. Lebih dari sekadar menyatakan benar pada dirinya sendiri, seseorang mampu menjadikan agama seiring dengan misi perdamaian dalam kehidupan yang plural. Sedikitnya melalui agama, apapun tidak dipandang secara sempit. Sehingga, moderasi agama menjadi leluasa bermakna dalam cakupan makna cinta kasih dalam keadilan sesama manusia. [Abdul Fattah]

Leave a reply

error: Content is protected !!