Kesadaran Identitas Indonesia Sebagai Pencegahan Terorisme dan Radikalisme

1
178

Sangkhalifah.co — Maraknya praktik kekerasan yang mengatasnamakan golongan tertentu memang kian ramai terjadi di banyak tempat. Ditambah dengan adanya media sosial, kekerasan yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku beragama terekspos dengan jelas dan tak bisa ditutup-tutupi. Praktik radikalisme baik tindakan maupun ucapan tidak bisa dibantah oleh siapapun. Nurdin Zuhdi mengatakan bahwa aksi radikalisme yang seringkali berujung pada tindakan terorisme dilakukan karena adanya memori kolektif dan penafsiran agama yang eksklusif dan merasa paling benar sendiri. Selain itu, aksi radikalisme dan terorisme selalu dilakukan dengan bersembunyi di balik simbol ideologi dan teologi tertentu. Haryatmoko dalam buku Etika Politik dan Kekuasaan mengatakan aksi-aksi tersebut juga berawal dari adanya pengajaran agama yang disampaikan dengan cuci otak atas pelajaran-pelajaran yang kontra-produktif.

Kelompok teror dan radikal seringkali memiliki dua wajah dalam beragama. Di satu sisi mereka mengakui bahwa agama adalah tempat di mana mereka bisa menemukan ketenangan, kedamaian dan kedalaman hidup, sementara di sisi lain menjustifikasi agama sebagai dasar kekerasan yang dilakukannya. Sehingga, agama menjadi alat politik, digunakan untuk melakukan tindakan kebencian kepada orang lain yang berbeda keyakinan dan pandangan keagamaan. Bahkan, tidak jarang hasil pemahaman agama yang dilakukannya menjadi dasar melakukan kekerasan secara masal. Kelompok teror dan radikal akhirnya sudah tidak peduli dengan kekejaman dan kekerasan. Apalagi dengan iklim demokrasi yang identik dengan kebebasan yang menjadikan mereka bebas mengekspresikan wajar garangnya.

Setara Institut pada tahun 2017 menyampaikan bahwa aksi kekerasan yang dilatarbelakangi faham keagamaan telah masuk dalam ranah pendidikan. Hal itu yang kemudian menjadikan Indonesia menjadi sorotan dunia dalam isu keamanan global. Bom Bali yang meletus pada tahun 2002 silam dianggap sebagai aksi terorisme terparah di Indonesia sekaligus menjadi awal mula benih-benih terorisme lahir di berbagai sudut negeri. Bali yang dikenal sebagai head quarter peristiwa di Indonesia menjadi sasaran aksi terorisme. Nama Indonesia kemudian ikut tenar dan menjadi pusat perhatian dunia lantaran peristiwa yang amat mencekam itu. Tentu saja kita tak ingin Indonesia menjadi negara seperti negara-negara Timur Tengah seperti Irak, Yaman, Palestina, Suriah dan Sudah, yang gagal dalam mengelola keragaman dan keagamaan masyarakatnya. Sehingga, kembali sadar akan identitas keindonesiaan adalah jalan terbaik keluar dari lubang radikalisme.

Suhardi Alius, mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menegaskan bahwa jati diri nasionalisme bangsa Indonesia dapat menjadi tawaran membendung lajur radikalisme dan terorisme. Menurutnya, jika aksi jihad ekstrim, doktrin khilafah dan takfiri tidak bisa ditangani dengan kesadaran identitas berindonesia, maka bukan hal yang mustahil jika ke depan bangsa Indonesia akan sama dengan negara-negara yang berkecamuk di Timur Tengah yang terus dilanda konflik. Rasa keterikatan antar bangsa dengan keragaman yang begitu kompleks harus menjadi kesadaran warga Indonesia jika tidak ingin Indonesia menjadi negara yang berkecamuk seperti Timur Tengah. Kesadaran keragaman suku, ras, budaya, bahkan agama, harus menjadi kesadaran penuh setiap warganya sehingga iklim damai dalam bernegara akan terus terwujud di tengah masyarakat.

Kesadaran identitas Indonesia yang selanjutnya adalah kesadaran akan Pancasila yang menjadi dasar bernegara. Dengan menyadari lima silanya, yaitu sila pertama yang menghargai orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita dan kebebasan memeluk agama. Sila kedua, yang mengajarkan kesadaran bahwa kita semua adalah manusia, yang berasal dari satu saudara, meskipun berbeda ras, suku, dan bahasanya. Sila ketiga, yang menjunjung tinggi arti pentingnya persatuan. Sila keempat, yang mengetuk hati kita akan pentingnya musyawarah dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di tengah masyarakat sehingga dapat mencapai mufakat dalam berdemokrasi. Dan sila kelima, yang menyadarkan kita akan pentingnya keadilan bagi semua warga Indonesia. Dengan menyadari identitas tersebut, maka kita akan terbebas dari kekejaman radikalisme dan terorisme yang masih membayangi bangsa Indonesia yang multikultural dan multiagama ini.

Kesadaran identitas Indonesia yang juga penting adalah kesadaran harmoni Islam dan negara yang sudah sejak lama menjadi ciri khas Indonesia. Indonesia, sebagaimana menurut Gus Dur, bukan negara Islam dan bukan negara sekuler. Bukan negara Islam dalam arti bukan negara yang hanya mementingkan satu agama saja dan mengesampingkan agama-agama yang lain. Negara Indonesia bukan juga negara sekuler yang menolak agama menjadi bagian dari negara. Negara Indonesia adalah negara yang menerapkan prinsip beragama dan bernegara secara seimbang, sehingga tidak menganaksemaskan agama tertentu sekaligus tidak menolak agama apapun untuk menjadi bagian Indonesia. Demikian itu sejalan dengan konsepsi negara Madinah yang dibangun di atas landasan harmoni agama dan negara, dan berhasil mewujudkan masyarakat yang ideal.

Dengan menyadari tugas aspek identitas keindonesiaan kita, yakni kesadaran keragaman, kesadaran ideologi Pancasila dan kesadaran harmoni Islam dan negara maka menjadi modal penting untuk meneguhkan kebangsaan dan menolak tindakan radikalisme dan terorisme. Radikalisme yang seringkali menyempitkan kebenaran dan mengkapling kebenaran Tuhan akan tertolak dengan kesadaran keragaman yang sejatinya juga merupakan realitas yang Tuhan wujudkan. Radikalisme, dan juga terorisme, yang seringkali menolak persatuan antar-bangsa dan mengedepankan musyawarah mufakat, akan tertolak secara permanen dengan kesadaran berpancasila. Terakhir, radikalisme dan terorisme yang selalu mengatasnamakan wakil Tuhan, akan tersadarkan dengan adanya realitas manusia di dunia sebagai konsekuensi kehidupan di muka bumi yang harus membumi dengan hukum alam. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!