Kepahlawanan, Muslim dan Tantangan Radikalisme Agama

1
205

Sangkhalifah.co — Hari Pahlawan selalu identik dengan semangat para pejuang yang telah berani mengorbankan jiwa dan raganya demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Momen 10 November kemarin diperingati setiap tahun sebagai momentum menguatkan kembali nasionalisme dan patriotisme kebangsaan kita semua. Namun, Hari Pahlawan tak hanya tentang nasionalisme dan patriotisme. Hari Pahlawan juga menyimpan sejarah menarik terkait peran penting umat Islam seperti kiai dan santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Perang besar 10 November di Surabaya yang kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan, tak bisa dilepaskan dari fatwa Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari. Mula-mula, di tengah kondisi bangsa yang baru saja memproklamasikan kemerdekaan dan belum stabil, sejumlah daerah kembali jatuh ke tangan Inggris atas nama NICA. Akhir September 1945, Jakarta kembali diduduki Inggris. Kemudian, pertengahan Oktober 1945, pasukan Jepang merebut kembali beberapa kota di Jawa seperti Bandung dan Semarang, dan menyerahkan kepada Inggris. Dan pada 25 Oktober 1945, NICA yang membonceng pasukan Inggris akhirnya tiba di Surabaya.

Kedatangan sekutu di Surabaya tersebut membuat gelisah masyarakat Surabaya, termasuk para kiai dan santri. Mereka resah karena bangsa penjajah kembali datang dan bertindak semena-mena. Seolah tak peduli kemerdekaan republik yang baru saja diproklamasikan. Sementara itu, pemerintah RI cenderung menahan diri untuk melakukan perlawanan dan mengharapkan adanya penyelesaian secara diplomatik.

Melihat situasi tersebut, kalangan agama bergerak. Rakyat harus berjuang menjaga kehormatan negara Indonesia merdeka. Pada 21 dan 22 Oktober 1945 delegasi Nahdlatul Ulama (NU) se-Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. Hadir pula ulama-ulama dari Al Irsyad, Muhammadiyah, dan lain-lain. Pertemuan yang dipimpin langsung pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari tersebut menghasilkan Resolusi Jihad yang menyatakan: perjuangan kemerdekaan sebagai jihad atau Perang Suci dan menentang kembalinya Belanda adalah kewajiban (fardhu ‘ain) bagi setiap Muslim (Historia.id, 7/11/2011).

Setelah kedatangan tentara NICA yang membonceng pasukan Inggris pimpinan Brigadir Jenderal (Brigjen) Mallaby, beberapa hari kemudian pertempuran pecah. Pada 30 Oktober 1945, bentrokan memuncak, sampai Brigjen Mallaby meninggal. Panglima pasukan Inggris tersebut tewas setelah mobil yang ditumpanginya meledak. Dan ternyata, seperti pernah diceritakan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, pejuang yang memasang bom di mobil Brigjen Mallaby adalah seorang santri dari Pesantren Tebuireng Jombang, bernama Harun (CNN Indonesia, 22/10/2017).

Resolusi Jihad juga disuarakan saat Muktamar Umat Islam Indonesia di Yogyakarta pada 7-8 November 1945, yang diselenggarakan Masyumi. Saat itu, NU menjadi salah satu anggota. Warta Indonesia 17 November 1945 mengabarkan, resolusi tersebut berbunyi, “Tiap bentuk penjajahan adalah kezaliman yang melanggar perikemanusiaan dan diharamkan oleh Islam. Untuk membasmi tindakan imperialisme, setiap Muslim wajib berjuang dengan jiwa raga bagi kemerdekaan negara dan agamanya. Untuk itu, harus memperkuat umat Islam untuk berjihad fisabilillah” (Historia.id, 7/11/2011).

Resolusi Jihad tersebut berhasil membakar semangat juang para pemuda Islam untuk berjihad membela agama. Orang-orang tergerak untuk perang membela agama dengan cara memerangi sekutu demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Kiai dan santri di berbagai daerah di Jawa Timur bergerak ke Surabaya untuk berperang. Ada yang dari Pasuruan, Blitar, Bangil, hingga Malang. Pesantren-pesantren di Jawa dan Madura menjadi markas pasukan Laskar Hizbullah dan Sabilillah.

Setelah meninggalnya Brigjen Mallaby, pasukan NICA geram dan semakin menyerang membabi buta. Sedangkan semangat juang para pejuang Tanah Air juga sedang membara karena Resolusi Jihad yang dikeluarkan para kiai dan ulama. Puncaknya, meletuslah pertempuran 10 November di Surabaya. Saat itu, banyak pengikut NU terlibat pertempuran di berbagai tempat seperti di Jembatan Merah, Wonokromo, Waru, Buduran, dan tempat-tempat lain di Surabaya.

Banyak pejuang Tanah Air gugur di pertempuran Surabaya tersebut. Momentum 10 November 1945 ini pun kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan, untuk mengenang dan menghormati jasa para pejuang yang gugur karena mempertahankan kemerdekaaan.

Membela Agama, Menjaga Bangsa

Menyimak sejarah di balik Hari Pahlawan tersebut, kita disadarkan bahwa perjuangan membela harga diri bangsa adalah selaras dengan ajaran agama, sebagaimana ditunjukkan para kiai, ulama, dan santri zaman dahulu dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan. Jihad para kiai dan santri melawan bangsa penjajah adalah jihad memerangi apa-apa yang dilarang dalam Islam, seperti radikalisme agama, imperialisme, kezaliman, kekerasan, dan ketidakadilan. Dengan kata lain, itu adalah perjuangan menjaga dan mempertahankan kemerdekaan bangsa demi terciptanya keadilan, kedamaian, dan keberadaban.

Peran besar kalangan Islam seperti kiai dan santri dalam perang mempertahankan kemerdekaan tersebut penting ditekankan. Terutama, dalam konteks melawan narasi kelompok radikalisme agama yang juga kerap menyuarakan jihad atau perang menegakkan khilafah sebagai bentuk kepahlawanan.

Dilandasi pemahaman agama yang kaku, tekstual, eksklusif, dan radikal, mereka meneriakkan perang kepada siapa pun yang berbeda pemahaman. Bahkan, mereka ingin mengganti Pancasila dan UUD 1945, karena dianggap thogut, tak sesuai syariat Islam. Alih-alih menjaga bangsa, gerakan radikalisme agama yang dilakukan mereka malah mengancam keutuhan bangsa. Jelas, ideologi radikalisme agama tersebut berbahaya jika dibiarkan berkembang di Indonesia. Narasi kepahlawanan dalam benak umat Islam di Indonesia jangan sampai didominasi narasi radikal tentang jihad menegakkan khilafah yang mengancam kebhinekaan, persatuan, dan keutuhan bangsa.

Momentum Hari Pahlawan bisa menjadi momen refleksi bagi kita semua tentang nilai-nilai patriotisme kebangsaan dan kaitannya dengan perjuangan Islam. Bahwa berjuang menjaga negara dan bangsa juga bisa dimaknai sebagai perjuangan membela agama. Menjadi pahlawan agama bukan dengan berperang menegakkan khilafah, namun bisa dengan berjuang menjaga dan membangun bangsa demi terciptanya kehidupan bangsa yang adil, makmur, aman, dan sejahtera. Inilah perjuangan paling relevan saat ini, demi meneruskan dan menjaga apa yang telah diperjuangkan para kiai, ulama, dan para santri di zaman dahulu. Mereka adalah pejuang  yang rela mengorbankan jiwa, raga, dan nyawanya demi mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

*Al-Mahfud, penulis, lulusan STAIN Kudus

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!