Kemerdekaan dan Urgensi Penguatan Wawasan Moderasi Beragama

0
214

Sangkhalifah.co — Kita patut bersyukur sampai saat ini masih dapat menghirup udara kemerdekaan setelah 76 tahun merdeka dari segala bentuk kolonialisme penjajahan. Kita perlu bersyukur integritas wilayah NKRI masih aman di tengah masih banyaknya kelompok separatis yang berupaya memecah belah persatuan bangsa. Namun di usia yang cukup matang ini, Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara pada gilirannya masih memiliki banyak tantangan, khususnya tantangan maraknya banjir hoaks dan aksi serta narasi radikalisme.

Oleh karenanya penting di momen HUT RI ke-76 tahun ini kita perlu melakukan refleksi kebangsaan, apa yang perlu kita antisipasi dalam menangkal problem sosial tersebut. Menurut hemat saya, saat ini yang perlu kita lakukan adalah memperkuat insfrastruktur wawasan moderasi beragama di tengah-tengah masyarakat. Mengingat sebagian masyarakat kita masih cukup mudah terhasut atau terprovokasi informasi palsu dan acapkali melakukan tindakan radikal baik yang sifatnya verbal maupun non-verbal di publik.

Di momen yang sakral ini, kita perlu refleksi diri bahwa sejatinya perjuangan kita sebagai bangsa belumlah usai. Kita perlu terus berupaya menjaga kondusifitas masyarakat dari potensi perpecahan, mengingat menjaga serta membela negara adalah kewajiban kita bersama sebagai warga negara. Dalam hal ini, peristiwa konflik yang terjadi di Afganistan beberapa waktu lalu bisa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia akan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Perpecahan kekuasaan yang terjadi di sana, jika kita telaah lebih jauh adalah akibat dari krisis wawasan moderasi beragama.

Aktualisasi Moderasi Beragama

Dalam konteks ini, tentunya perjuangan kemerdekaan di era saat ini berbeda dengan era pra-kemerdekaan. Jika di masa revolusi, bambu runcing merupakan infrastruktur untuk meraih kemerdekaan, maka di usianya yang genap 76 tahun ini perlunya kita menguatkan infrastruktur moderasi beragama sebagai modal sosial untuk merekatkan pluralitas dan religiusitas sebagai karakter bangsa demi mengisi pembangunan dan peradaban bangsa berdasarkan ideologi Pancasila. Moderasi beragama menjadi ikhtiar bangsa untuk merawat keagamaan dan kebangsaan yang harmonis, damai, dan toleran menuju Indonesia maju (Suwendi, 2020).

Dalam buku Peta Jalan (Roadmap) Penguatan Moderasi Beragama Tahun 2020-2024, moderasi beragama didefinisikan sebagai suatu “Cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejewantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan bangsa”.

Jika saat itu bambu runcing merupakan media untuk menghadapi musuh dari negara lain yang berupaya merongrong kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Maka saat ini moderasi beragama merupakan konsep dan strategi bangsa untuk menghadapi cara pandang, sikap, dan praktek beragama yang meruntuhkan harmoni kehidupan keagamaan dan kebangsaan. Moderasi beragama hadir untuk menghadapi cara pandang, sikap, dan praktek beragama yang ekstrim dan berlebihan, yakni cara pandang yang mengatasnamakan agama tetapi mencederai nilai luhur kemanusiaan, bertentangan dengan kesepakatan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan melanggar ketentuan hukum yang berlaku.

Agama dan Nasionalisme

Negara Indonesia adalah negara konsensus (kesepakatan), yang di dalamnya terdapat aturan dan kesepakatan bersama antar masyarakat di Indonesia, yang terpadu secara sistematis dalam sila Pancasila. Sedangkan fungsi moderasi beragama di sini adalah untuk mendorong semua elemen bangsa agar menjadikan perspektif keagamaan sebagai bagian penting dalam membangun bangsa. Agama dan kebangsaan (nasionalisme) bukan dipertentangkan apalagi dinegasikan, tetapi keduanya harus saling memberikan penguatan antar satu dengan yang lainnya secara konstruktif.

Mengingat mencintai dan membangun bangsa Indonesia ini merupakan manivestasi dan bukti nyata akan komitmen keagamaan dan kebangsaan kita sebagai warga negara dan umat beragama. Oleh karenanya, moderasi beragama mensyaratkan kepada kita untuk memiliki cara pandang, sikap, dan praktek beragama yang teguh terhadap komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan ramah terhadap tradisi serta mengedepankan prinsip kemanusiaan. Di momen kemerdekaan ini kita perlu terus membumikan wawasan moderasi beragama dan kebangsaan untuk mewujudkan harmonisasi masyarakat.

Akhirnya, sebagai bangsa yang pernah meraih kemerdekaannya dengan senjata bambu runcing, dan kini gilirannya kita untuk mengisi kemerdekaan itu dengan wawasan moderasi beragama guna mewujukan kehidupan beragama dan berbangsa yang harmonis, damai, dan menjunjung tinggi keragamaan yang ada di Nusantara. Dirgahayu Indonesia. []

*Ferdiansah, Peneliti The Al-Falah Institute Yogyakarta

Leave a reply

error: Content is protected !!