Kemendikbud: Konten Pendidikan Harus Selaras dengan Pancasila dan Kearifan Lokal

1
353

Sangkhalifah.co — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI mengatakan bahwa konten-konten pendidikan yang akan dan ingin dihasilkan oleh berbagai pihak, terutama para akademisi dan edukator harus dipastikan bahwa konten tersebut selaras dengan nilai-nilai Pancasila dan kearifan lokal.

“Kita punya Pancasila, etika, norma, kearifan lokal yang semuanya tidak bisa dilepas dalam pembuatan konten pendidikan. Semua konten yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keindonesiaan akan menjadi penghalang terciptanya masyarakat yang harmonis dan yang berkeadaban”, kata Plt Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikbud, M Hasan Chabibie saat di wawancara Media Sangkhalifah.co usai webinar via zoom, 06/06/2020.

Dalam webinar bertajuk “Menghentikan Mata Rantai Paham Radikal di Lembaga Penyiaran dan Medsos”, ia mengatakan konten pendidikan yang dihasilkan oleh akademisi, edukator dan pihak-pihak pendidik lainnya harus mengadopsi dari kearifan lokal dan berasas Pancasila.

“Di samping jenis konten itu, pendidik harus berupaya maksimal menanamkan nilai-nilai Pancasila, nilai-nilai keindonesiaan dan mengajarkan konten-konten keagamaan dengan toleran dan bijaksana,” katanya.

Dalam upaya mendukung kebijakan pemerintah, kami dari Mendikbud akan melakukan ragam potret di dunia pendidikan, seperti potret intoleransi dan radikalisme di semua jenjang pendidikan.

“Selama ini, kita hanya menerima hasil riset dari eksternal. Sebab itu, kita membutuhkan data yang dihasilkan oleh internal, kemudian kita cocokkan dengan riset dan hasil penelitian dari lembaga-lembaga lain, kemudian kita integrasikan hasil penelitiannya. Dengan begitu, kita akan mendapatkan data yang valid dan bisa menjadi pedoman dalam membuat peraturan kedepannya,” ungkap Hasan Chabibie yang juga diamanahkan sebagai Plt Ketua Umum PP Mahasiswa Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah al-Nahdliyyah.

Selain itu, kata Hasan, Kemendikbud menegaskan bahwa dalam dunia pendidikan, kita harus mengedepankan akhlak dan menggunakan pendekatan tasawuf dalam mengajarkan siswa dan siswi atau mahasiswa dan mahasiswa.

“Pendekatan tasawuf yang dimaksud, menurut Hasan, kita berupaya semaksimal mungkin untuk merubah siswa dari yang tidak bisa menjadi bisa. Yang sudah bisa, kita tingkatkan kualitasnya; begitu juga. Jika ada siswa nakal, maka kita rubah dan arahkan ke potensi yang dimilikinya. Jika sudah baik, maka kita tingkatkan kebaikannya dan kualitas siswa-siswi itu,” tutupnya.

Ia menyakini, dengan berbasis pada Pancasila dan kearifan lokal serta dalam mengajarkan kita menggunakan pendekatan tasawuf dalam dunia pendidikan, maka akan semakin banyak generasi bangsa yang mampu mengajarkan Islam yang ramah, toleran, gotong royong dan tentunya setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!