Kemenangan Ganda Putri dan Kegagalan Gerakan Radikal Menolak Nasionalisme

0
196

Sangkhalifah.co — Seluruh masyarakat Indonesia bangga ketika ganda putri bad mintonnya lolos sebagai peraih medali emas di olimpiade Tokyo 2020 beberapa hari kemarin. Kebanggaan itu dirasa dari mulai Presiden Jokowi hingga masyarakat di akar rumput. Terlebih ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan di arena perlombaan di Jepang, tak hanya wakil ganda putri Indonesia Greisya Polii dan Apriyani Rahayu yang menangis bangga, semua masyarakat Indonesia terharu lagu kebangsaannya disaksikan dunia. Sikap bangga ini merupakan bentuk nasionalisme yang dimiliki bangsa Indonesia. Tanpa memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, tidak mungkin merasa senang saat wakil Indonesia mengenalkan kehebatan bulu tangkis ganda putri di dunia dengan kemenangannya.

Rasa bangga yang dimiliki setiap orang atas kemajuan bangsanya merupakan unsur dari sikap nasionalisme (Anthony, 1998). Ini terjadi ketika laga bad minton ganda putri di Tokyo dimenangkan oleh wakil Indonesia. Para tokoh, dari mulai tokoh politik hingga tokoh agama, kompak mengucapkan bangga dengan Indonesia yang sudah meraih emas dari gelaran bad minton di negara Jepang. Dari artis hingga orang biasa, merasa senang karena negaranya dikenalkan di dunia melalui kemenangan itu. Semua kenyataan di atas membuktikan bahwa secara tabiat, nasionalisme sudah ada pada jiwa manusia. Setiap orang yang menolak nasionalisme, sama dengan keluar dari tabi’at sebagai manusia.

Ini berbeda dengan kelompok radikal eks HTI maupun kelompok Salafi dan Wahabi. Tidak terdengar kabar dari mereka, ucapan selamat atau bangga atas kemenangan Indonesia dalam laga final tim bulu tangkis Indonesia dengan China. Justru, mereka tetap kekeuh setia dengan menebar jargon khilafah. Akun Facebook Eks Ketua HTI; KH. Rokhmat S. Labib, terkahir memposting status pada 11 Juni 2021, tentang Tafsir Al-Wa’ie miliknya. Tafsir ini isinya kampanye eks HTI menegakkan khilafah Islamiyyah dan negara Islam di seluruh dunia dan menolak nasionalisme. Buku ‘menyesatkan’ ini tidak pantas berada di tengah-tengah masyarakat yang sebagai bangsa yang beragam.

Akun “Kajian Ustaz Khalid Basalamah” pun sama. Akun itu tidak sama sekali menunjukkan simpatinya pada keberhasilan ganda putri yang telah mengharumkan nama baik negara di mata dunia. Dua hari terakhir (02/08/2021) akun ini hanya memposting Istri wajib memakai jilbab. Pada hari-hari setelahnya, akun ini sama sekali tidak respect terhadap keberhasilan bangsa Indonesia atas capaian emas di laga Tokyo itu. Ini bisa menjadi isyarat, kalau Wahabi tidak setuju dengan nasionalisme. Wahabi pada akhirnya ingin agar Indonesia menjadi negara Islam di bawah naungan khilafah Islamiyyah laiknya HTI.

Tetapi, alih-alih kelompok radikal (dan teroris) hendak menolak nasionalisme dalam konteks kemenangan Greiysa Polii dan Apriyani Rahayu, mereka gagal total. Masyarakat Indonesia sadar kalau nasionalisme merupakan hal penting yang harus dimiliki setiap orang agar negaranya dihormati oleh negara lain. Masyarakat tidak mau lagi dibodohi kelompok radikal Salafi Wahabi dan HTI yang menolak nasionalisme. Justru dengan nasionalisme, wibawa diri bangsa dan negara semakin terangkat di kancah dunia. Ketika masyarakat bangga dengan bangsa Indonesia, Tuhan pun pasti bangga. Tuhan amat menghargai usaha-usaha manusia.

Nasionalisme bukan sistem yang haram dipraktikkan oleh orang Muslim. Sebab, Nabi Muhammad SAW saja memiliki jiwa nasionalisme. Misalnya, saat di Makkah, ketika beliau diusir oleh orang-orang Kafir, dan beliau hendak hijrah ke Madinah, maka beliau menangis. Beliau bersumpah bahwa kota kelahirannya (Makkah) adalah tempat yang diridhoi Allah. Bagi Nabi, Makkah merupakan tanah kelahiran yang membanggakan. Pun demikian, saat di Madinah, para sahabat Nabi berdoa, agar mereka selalu diberikan anugerah selalu mencintai negeri Madinah, sebagaimana mereka mencintai Makkah. Ini semua membuktikan bahwa Nabi dan para sahabatnya sudah sejak zaman dahulu peduli akan nasionalisme.

Kecintaan Nabi atas negeri Makkah tidak sekadar digambarkan dalam kitab-kitab sejarah. Kitab suci Al-Qur’an menegaskan hal itu. Di dalam Al-Qur’an surah Al-Qashash ayat 86, Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali. Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.” Al-Maraghi menyebut, ayat di atas membuktikan kecintaan Nabi pada negerinya. Nabi memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Jika kita tidak memiliki jiwa nasionalisme, lantas kepada siapa kita mencari teladan? Wallahu A’lam. []

Leave a reply

error: Content is protected !!