Kelompok Teror; Memakai Hadis Untuk Berlaku Bengis

1
116

Sangkhalifah.co — Kegemaran yang bertentangan dengan agama Islam yang dilakukan oleh kelompok teror seperti ISIS adalah memanipulasi sabda-sabda Nabi untuk kepentingan kekerasan yang dilakukannya. Misalnya yang diriwayatkan oleh Abu Ishaq bin Abdurrohman, “berjihadlah kalian di jalan Allah. Sebab jihad adalah pintu dari beberapa pintu surga. Allah akan menghilangkan kegelisahan dan kesedihan di dalam jiwa”. Begitu pula dalam riwayat lain, “Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang, Allah adalah satu-satunya yang disembah dan tidak ada sekutu baginya. Rezekiku di bawah tombakku…” (hadis nomor 5114).

Melalui dua sabda di atas, ISIS menjadikan jihad dengan maksud berperang sebagai ajaran utamanya. Jihad perang dengan maksud memusuhi dan membunuh siapa saja yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Dengan memerangi orang-orang yang tidak sekeyakinan, ISIS memanipulasi aksi kekerasannya atas dasar menjadikan kalimat Allah.

KH. Said Aqil Siraj dalam artikelnya berjudul Teror yang Menyejarah dan Kidung Sufi menyebutkan bahwa perilaku politisasi hadis yang dilakukan oleh kelompok teror dipandang sebagai perilaku pembangkangan terhadap agama Islam. Ketua PBNU itu juga menegaskan, fenomena yang dilakukan oleh kelompok teror identik dengan apa yang telah dicatat oleh sejarawan Yunani bernama Xenophon (430-349 SM).

Pada 337-341 M, Kaisar Tiberius dan Caligula dari Romawi, melakukan penangkapan dan ekseskusi terhadap musuh-musuhmya tanpa melalui pengadilan dan kemudian menebarkan teror. Melalui analisa ini, apa yang dilakukan oleh ISIS sesungguhnya bukan karena hendak menegakkan agama, akan tetapi karena kepentingan politik untuk menghancurkan orang-orang yang menghalangi diri mereka menegakkan kekuasaan di muka bumi.

Jika dirunut, penggunaan hadis yang dilakukan oleh ISIS karena pengaruh pola-pola pemahaman yang dulu pernah dilakukan oleh Khawarij dan juga Wahabi. Dalam pandangaj Harun Nasution, kelompok radikal sebagimana ISIS dikatakan memiliki pemahaman iman kuat, akan tetapi pemikirannya sempit dan identik dengan sikap fanatik yang membabi buta.

Akibatnya, mereka tidak bisa mentoleransi kekeliruan-kekeliruan di luar kelompoknya, meskipun sekadar kesalahan kecil. Padahal Nabi Muhammad ketika ada umatnya yang salah justru ia menasehatinya dengan cara-cara lembut dan bijak. Namun apa yang dilakukan ISIS dan kelompok teror sesamanya justru bertolak-belakang dengan apa yang dilakukan dengan nabi.

Mereka dengan sembarangan menggunakan hadis untuk menghalalkan peperangan.Sejarah telah membuktikan betapa kekerasan yang difasilitasi dengan baju agama menjadi peristiwa yang melelahkan. Misalnya, perang Salib yang melibatkan Salahuddin Al-Ayyubi dengan Raja Richard. Selain itu konflik antara Katholik dan Polrotestaan saat awal-awal perkembangan Protestan, yang mengejewantah dalam bentuk tindakan-tindakam sadis. Kelompok Protestasn dianggap pembawa ajaran yang hanya akan menjadikan kelompok Katholik murtad. Sejarah-sejarah ini merupakan sejarah kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Dalam kitab Manhaj al-Naqd, Nuruddin ‘Ithr menegaskan bahwa untuk memahami hadis diperlukan ilmu-ilmunya agar dalam membaca tidak tekstual dan serampangan dan bisa berakibat kepada pemahaman yang ekstrim. Dengan memahami ilmu-ilmu hadis, seseorang setidaknya akan bisa mendapatkan tiga hal penting. Pertama, ia akan bisa memahami dalam rangka untuk mengawal ajaran Islam agar tidak distorisir. Kedua, ilmu tersebut dapat memproteksi seseorang yang meriwayatkan dari sebuah ancaman kesalahan periwayatan. Dan ketiga, ilmu tersebut juga dapat menjauhkan seseorang dari khurafat dan israiliyyat. Sayangnya, ISIS memiliki keyakinan yang picik, karena menganggap ilmu hadis tidak penting.

Apa yang dilakukan oleh kelompok teror dengan menggunakan hadis tanpa melalui ilmunya adalah logika yang cacat. Sebab, ketika mereka memahami teks hadis tidak menggunakan ilmu hadis itu sama saja mereka mahami teks hadis dengan pemikiran kosong diri mereka saja. Akibatnya, tekstualitas hadis bagi kelompok radikal memiliki otoritas tinggi dibanding dengan esensi atau konteks bagaimana hadis itu harus dipahami.

Sejatinya untuk memahami hadis perlu mengetahui bagaimana Ashab al-Wurud-nya; konteks ketika hadis itu disampaikan Nabi. Menyamakan begitu saja antara konteks 14 abad yang lalu dengan abad sekarang adalah kebodohan yang nyata. Sebab konteks akan selalu dinamis, sehingga memahami teks hadis pun perlu memperhatikan konteks masa lalu dan masa sekarang. Dengan demikian, hadis tidak akan menjadi alat untuk melakukan perbuatan sadis dan bengis sebagaimana dilakukan ISIS. [Lufaefi]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!