Kelompok Radikal-Teroris; Penelikung dan Perusak Agama

3
454

Sangkhalifah.co — Menelikung dalam istilah Jawa bermakna ‘mengikat kaki dan tangan’ sehingga tidak bisa bergerak bebas, baik itu manusia, hewan, atau sesuatu yang bersifat abstrak seperti agama, ideologi, dan lain sebagainya. Islam, sebagai agama yang ‘dilegitimasi’ sekelompok radikal dan teror, sungguh telah ditelikung oleh mereka. Kelompok radikal-teror telah menelikung agama sejadi-jadinya sehingga menjadikan mereka malas berfikir kreatif, menghasilkan pemaknaan agama yang moderat. Akibatnya, agama menjadi beku, tak bisa memberi solusi atas persoalan-persoalan modern yang dihadapi bangsa. Fikirannya menjadi jumud dan tidak mau berkembang. Fanatisme menjadi ciri khas nan melekat pada diri kelompok ini.

Bagi kelompok radikal dan teror agama harus menjadi fosil yang membeku, yang tidak bisa memberikan solusi atas pelbagai masalah kemanusiaan. Islam di masa kini harus mewujud wujud fisiknya sama dengan ketika dipraktikkan 14 abad silam. Budaya orang Arab diklaim sebagai ajaran agama yang tak bisa ditawar-tawar. Akibatnya beragama terkesan sempit. Simbol-simbol budaya Arab, seperti jubah, cadar, jenggot, celana cingkrang, dan semacamnya, lebih diurusi ketimbang mengurusi akhlaknya. Menyalahkan kelompok lain yang berbeda keyakinan menjadi tugas pertama yang cakap dilontarkannya dengan cacian dan kebencian tanpa batas. Sehingga misi kerahmatan Islan menjadi hampa di tangan mereka.

Kelompok radikal-teroris ini juga merupakan kelompok yang tuna kreativitas. Diktium ini terus menjadi keyakinan yang mengakar dan ditelan terus menerus tanpa bosan. Telikungan yang dilakukan mereka sarat akan kehilangan dinamika agama yang segar, dan agama hanya diklaim sebagai perwujudan sektarianisme dan radikalisme yang berujung pada terorisme. Islam dimanipulasi demi kekuasaan duniawi, dan itu telah berjalan panjang. Islam seperti ayam yang kehilangan induknya. Amat mengerikan dan tak perlu ditiru oleh umat Islam di Indonesia.

Namun sayang sungguh disayang, tipikal kelompok Islam yang menelikung agama dan tuna kreativitas ini naasnya ditiru oleh sebagian kelompok yang mengaku beragama Islam di Indonesia dan berisik dalam beragama. Parahnya lagi, jubah dan tasbih panjang seringnya hanya dipakai untuk mengelabuhi umat yang masih awam untuk sama-sama melakukan penelikungan dan buta perkembangan. Pekikan takbir sudah bukan lagi menjadi kalimat sakral untuk melawan kezaliman namun hanya dijual murah di jalan-jalan ketika demo berbeda pilihan politik kekuasaan. Agama dimanipulasi untuk mendukung kekuasaan elit politik yang menungganginya.

Maka jalan satu-satunya untuk keluar dari kebisingan ini ialah memisahkan Islam yang dibawa oleh nabi dengan politik kekuasaan dan sektarianisme yang kini terus dijalankan oleh kelompok radikal dan teror tanpa merasa dosa. Al-Qur’an telah jauh-jauh hari mengajarkan umatnya untuk mewujudkan persaudaraan universal, tidak dibatasi oleh mazhab atau agama tertentu. Nabi Muhammad sebagai pembawa wahyu juga telah lama menerapkan konsepsi persaudaraan universal. Saat di Madinah, beliau berhasil menyatukan masyarakat Muslim, non-Muslim, dan non-Beragama sekalipun, dalam satu visi yaitu persaudaraan. Jika memang kita waras, maka harusnya kedua pedoman ini menjadi pijakan utama dalam beragama.

Tidak ada hak bagi mereka untuk memonopoli kebenaran Islam sebagaimana dilakukan oleh radikal-teroris. Akibatnya perang internal Islam tak bisa dibendung di berbagai negara. Gerakan Al-Qaeda, ISIS, Wahabisme dan Hizbut Tahrir, ialah yang telah melahirkan suasana Islam yang keruh dalam beragama dan ekslusif dalam menjalankan faham keagamaan. Dampak buruknya, masalah internal ini dipermainkan oleh Barat untuk terus mengoyak Islam melalui orang dalamnya.

Kita tak boleh pesimistis untuk melawan eksistensi radikal-teroris yang kian hari makin merajalela dan berkembang biak dengan cukup subur. Umat Islam Indonesia harus menolak egosisme dan fanatisme sebagai sesembahan. Umat Islam di Indonesia harus bisa membakar api sektarian, untuk menegakkan misi Islam sebagai rahmatan lil alamin. Fazlur Rahman pernah berkata, “Jika bahan bakar lenyap dari bumi pasti akan ada gantinya. Tapi jika Islam yang hilang, maka tak pernah akan ada gantinya.” []

*Lufaefi, Pimpinan Redaksi Media Sang Khalifah

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!