Kekeliruan Kaum Radikalisme Dalam Menggunakan Ayat Qur’an

0
374

Sangkhalifah.co — Adanya pandangan kaum non-Muslim terhadap Muslim sangatlah beragam bentuknya. Ada yang berpandangan bahwa kaum Muslim itu baik dan tidak baik. Tentu pernyataan ini ada benar dan salahnya. Benar ketika mereka berkaca kepada Muslim yang hanya memiliki yang dangkal, akan tetapi sebaliknya keliru apabila menilai Muslim yang paham betul dengan keislamannya.

Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kaum non-Muslim sehingga mereka bisa menganggap Islam itu agama dengan penuh kekerasan. Sebab memang benar adanya sekelompok dari umat Islam sendiri yang memiliki sifat keras. Bahkan mereka keliru dalam memahami teks atau ayat dalam kitab sucinya, yakni Al-Qur’an.

Seperti pada surah Al-Fath yang berjumlah 29 ayat, surah ini turun dalam konteks Perjanjian Hudaibiyah. Paham radikalisme dan terorisme yang dilakukan sebagian kaum Muslim, yaitu mereka  menganggap ayat ini merupakan pegangan mereka untuk berani melawan non-Muslim bahkan kafir yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Tidak hanya itu mirisnya dalil yang dijunjung berupa potongan-potongan ayat yang belum selesai pembahasannya.

Bisa dilihat penggalan ayat 29 berikut,“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang bersamanya adalah orang-orang keras terhadap orang-orang kafir, tetapi sesama mereka berkasih sayang….” Jika salah memahami pesan utuh ayat ini, sudah tidak mungkin lagi sangat berpotensi menimbulkan pergolakan sosial pada masyarakat majemuk, seperti di Indonesia. Sudah terbayangkan betapa ganasnya saudara kita kepada non-Muslim atau bahkan kepada sesama Muslim yang sudah dianggap kafir olehnya. Karena fatal sekali mereka memahami sebagai kewajiban bersikap kasar.

Sebetulnya jika dikaji lebih dalam, ayat itu turun dalam konteks suasana yang penuh ketegangan, bukan dalam masa tenang atau kedamaian. Jadi, jika menggunakan ayat tersebut untuk berinteraksi sosial dalam kehidupan di masyarakat tentu sangat tidak relevan. Keutuhan isi dari ayat 29 ini sebetulnya ini berawal dari mimpinya Rasulullah yang memasuki Kota Makkah sebagai kemenangan yang dengan “fathan qariban” lalu pada tahun keenam hijriah para sahabat bersama Rasul memasuki Kota Makkah dan berhaji.

Singkat cerita, kaum kafir Makkah menghalangi dan memaksa Rasul dan para sahabat untuk kembali ke Madinah lewat sebuah perjanjian di Hudaibiyah, dan perjanjian tersebut sangat merugikan umat Islam. Dalam suasana demikianlah Al-Fath turun, sebab Allah menenangkan umat Islam yang sudah patah semangatnya, ada juga sebagian yang mempertanyakan kebenaran mimpinya Rasul. Hingga kebenaran mimpi itu ditegaskan Allah dalam akhir ayat surah Al-Fath berupa kepastian kemenangan (dibuktikan dengan Fathu Makkah) dan kebenaran Muhammad adalah utusan Allah.

Ibn Abbas menafsirkan ayat 29 Surah Al-Fath yaitu, Muhammad adalah utusan Allah, bukan seperti Suhai bin Amr. Ia memaksa Rasul untuk menghapus kalimat Muhammad Rasulullah dalam naskah Perjanjian Hudaibiyah dengan diganti dengan Muhammad bin Abdullah. Orang-orang yang bersama Rasul, yaitu Abu bakar beliau yang pertama kali mengimani Rasul. Keras yang dimaksud pada ayat ini mengarah kepada Umar bin Khattab yang keras kepada kaum kafir untuk membela Muhammad, berkasih sayang dengan sesama ini ditujukan kepada Utsman bin Affan.

Ini membuktikan sangat keliru sekali jika kaum radikalisme mendasari ayat ini, padahal asbabun nuzul-nya sudah jelas akibat ketegangan peristiwa Hudaibiyah. Bahkan Allah telah mengatur bagaimana sikap kita terhadap kaum kafir dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 8 yang artinya “Allah tidaklah melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kalian karena agama dan tidak pula mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” [Syfa Fauziyah]

Leave a reply

error: Content is protected !!