Kekalahan Rijikers

3
3347

Sangkhalifah.co — Pola video adzan ngajak jihad dan mempertontonkan parang, mengikuti pola Apel Kebangsaan yang digelar secara virtual atau daring dengan melibatkan kader-kader Banser di seluruh Pulau Jawa, Minggu, 29 November 2020. Direkam dari beberapa tempat. Untuk menunjukkan bahwa Rijikers banyak, ada di mana-mana, berani dan “syar’i”.

Bisa jadi video tersebut jawaban atas seruan Ketua GP. Ansor pada tersebut, untuk mengingatkan kembali kepada seluruh elemen bangsa bahwa menjaga persatuan dan kesatuan dalam perbedaan pandangan politik ataupun agama adalah satu-satunya cara yang harus dipertahankan. Rijikers merasa tersinggung. Lalu melawan.

Rijikers mengalami kekalahan politik beruntun: Kemenangan pasangan Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin pada pemilihan Presiden 2019, Pak Prabowo masuk kabinet Jokowi, Ahok keluar dari penjara lalu menjadi komisaris utama Pertamina, izin ormas FPI tidak diperpanjang, penangkapan Rijikers yang melanggar hukum dan pemanggilan Rizieq Shihab dan menantunya oleh Polda Metro Jaya atas kasus kerumunan di masa pandemik Covid-19.

Sedangkan di ruang-ruang publik, Rijikers tidak mampu menunjukkan argumen yang kuat untuk membenarkan kesalahannya dan menutupi kekalahan-kekalahan politik mereka. Rijikers kalah berdebat di berbagai media. Mereka gagal membingkai opini masyarakat. Kepentingan kognitif mereka tidak kesampaian.

Baca: Gorontalo Tidak Kecolongan Dalam Aksi Kelompok Terorisme

Menurut Habermas berupa kepentingan-kepentingan yang membentuk pengetahuan dalam masyarakat yakni kepentingan empiris analitis, kepentingan hermeneutik historis dan kepentingan emansipatoris-kritis (Miller, 2002: 66 di dalam Sindung Tjahyadi: 184).

Ideologisasi dan proses pembingkaian pemikiran masyarakat merupakan upaya pemaksaan klaim kebenaran (truth), ketepatan (rightness), autensitas, kejujuran (sincerety) dan konprehensibel (comprehensibility). Aktivitas komunikasi berorientasi pada klaim yang valid yang secara nyata berbeda, tetapi terkait dan saling melengkapi satu sama lain (Habermas, 1948 di dalam T.M. S. Poespowardoyo Jo dan A. Seran, 2016). Lagi-lagi Rijikers gagal melakukannya.

Rijikers bermasalah di dalam mengkomunikasikan aspirasi, opini dan kepentingan mereka. Gaya-gaya otoriter sudah usang, apalagi di era digital sekarang. Masyarakat tidak mungkin dipaksakan oleh satu narasi. Harus ada dialog, negosiasi dan kompromi, agar suara Rijikers diterima. Selain, soal adab (etika) komunikasi.

Kata Habermas, agar diterima, maka harus memenuhi syarat-syarat komunikasi yang menurut teori etika diskursus adalah: 1) Setiap orang yang mampu berbicara dan bertindak diizinkan mengambil bagian dalam pembicaraan bersama. 2) Setiap orang diizinkan untuk mempersoalkan atau menerima apa pun yang dibicarakan. 3) Setiap orang diizinkan untuk meyataklan pendapatnya tentang apapun dalam pembicaraan bersama.

Habermas melanjutkan: 4) Setiap orang diizinkan untuk menyatakan sikap, keinginan dan kebutuhannya. 5) Tidak ada orang yang dihalangi berpendapat menyangkut hak-haknya seperti yang disebut dalam (1) dan (2) baik oleh tekanan di dalam proses pembicaraan maupun tekanan dariu luar. (Habermas, 1979 di dalam T.M. S. Poespowardoyo Jo dan A. Seran, 2016).

Dari syarat-syarat komunikasi di atas, tidak ada yang bisa dipenuhi oleh Rijikers. Komunikasi satu arah (top down) yang mentradisi di lingkungan Rijikers, tidak bisa dibawa ke luar. Mayoritas umat Islam di Indonesia bukan Rijikers. Bagi mereka Rizieq Shihab manusia biasa. Memang beliau seorang habib tapi bukan nabi yang ma’shum.

Video adzan ngajak jihad dan mempertontonkan parang menunjukkan kekalahan politik dan intelektual Rijikers. Selain itu, adab (etika) komunikasi mereka sangat buruk. Jadi, jangan salahkan umat yang makin tidak simpati kepada Rizieq Shihab dan Rijikers ajma’in. []

*Ayik Heriyansyah, Mahasiswa Kajian Terorisme SKSG UI

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!