Kegagalan Kelompok Radikal-Teroris Memaknai Taghut

1
108

Sangkhalifah.co — Kelompok radikal selalu mengatakan bahwa hukum yang dibuat oleh manusia dalam kehidupan bernegara seperti UUD dan Pancasila dianggap taghut. Kelompok radikal seperti eks FPI, eks HTI, JAD, ISIS dan sempalan-semapalannya berasumsi bahwa UUD dan Pancasila dibuat untuk menandingi hukum Allah (syariat Islam). Mereka berasumsi bahwa jawaban atas pilihan memilih syariat Islam atau Pancasila adalah Islam. Karena Pancasila (dan UUD 1945) diasumsikan sebagai hukum yang menolak hukum-hukum Allah. Secara serampangan, kelompok radikal menyamakan begitu saja antara UUD-Pancasila dengan taghut.

Raghib Al-Isfahani menyebut, makna taghut secara bahasa terdiri dari dua makna. Makna pertama adalah melewati batas (jawaz al-qadra) dalam kemaksiatan. Sedangkan makna kedua apa-apa yang disembah dan dianggungkan (selain Allah) karena kekufuran (irtafa’a al-kufra). Term taghut di dalam Al-Qur’an disebut sebanyak 39 yang terkumpul dalam 26 surah Al-Qur’an. Secara istilah, taghut bermakna melampai batas terhadap kemaksiatan; ketidaktaatan kepada keadilan; dan apa-apa yang disembah selain dari Allah SWT, yang menjadikan seseorang berpredikat kufur. Dari pemaknaan etimologi dan terminologi saja, sulit untuk memasukkan Pancasila dan UUD sebagai taghut.

Mengapa demikian? Ya, karena Pancasila dibuat bukan untuk menjadi ideologi yang menjadikan masyarakat Indonesia sebagai penentang syariat. Pancasila dibuat untuk menjadi ideologi yang menyatukan perbedaan dan keragaman. Justru, kedudukan Pancasila mengafirmasi kedudukan agama (ketuhanan) di dalam silanya. Yang demikain itu memberi kesempatan bagi masyarakat beragama Islam menyuarakan syariat Islam. Pun demikian dengan UUD, dibuat bukan untuk melawan Al-Qur’an dan Al-Hadits. UUD dibuat untuk memberikan ruang bagi semua pemeluk agama berkontribusi dalam memajukan bangsa.

Karakter orang yang menyembah taghut-dalam Al-Qur’an-pertama adalah lebih memilih menyembah selain Allah dan meninggalkan kitab suci. Seperti ditegaskan di dalam QS. An-Nisa Ayat 51, Allah SWT berfirman yang artinya, “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Kitab (Taurat)? Mereka percaya kepada Jibt dan Tagut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman.”  Menurut Hamka, ayat ini mengisahkan kejelekkan orang-orang Yahudi yang menolak kesucian Taurat dan Injil. Mereka justru meninggalkan keduanya dan menyembah taghut.

Sedangkan orang-orang yang taat pada Pancasila dan UUD bukan meninggalkan Al-Qur’an atau kitab-kitab suci lainnya. Sebab keduanya tidak dibuat untuk menandingi Al-Qur’an dan kitab suci. Keduanya dibuat untuk tata aturan kehidulan dan kenegaraan. Bukan pula untuk menolak syariat Islam.

Sehingga, meyakini UUD dan Pancasila sangat mungkin dengan juga mendalami kandungan Al-Qur’an dan mengimaninya. Di sini kegagalan utama kelompok radikal dalam memaknai taghut. Seolah-olah (menurut mereka), Pancasila dan UUD dibuat untuk disembah, dan mengharuskan bangsa Indonesia meninggalkan Al-Qur’an.

Karakter kedua disebut dalam QS. An-Nisa ayat 60, yaitu memilih hukum jahiliyah daripada ketentuan Nabi. Allah SWT berfirman, “Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada Tagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Tagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya.”

Quraish Shihab menyebut, taghut yang dimaksudkan dalam ayat di atas adalah Ka’ab Ibn Asyraf, yang merupakan Hakik orang Kafir. Sebagian orang Yahudi memilih mengikuti hukum yang dikeluarkan dari Ka’ab daripada dari Nabi Muhammad SAW.

Bagaimana dengan UUD dan Pancasila? Keduanya bukanlah hakim dan juga hukum yang lagi-lagi bukan dibuat untuk menolak syariat Islam. Justru keduanya hadir untuk menguatkan kedudukan syariat Islam dalam konteks keberagaman. Sedangkan ciri ketiga, mengikuti setan.

Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 76, “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan Tagut, maka perangilah kawan-kawan setan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” KH Ma’ruf Amin menyebut, Pancasila (juga UUD) bukanlah taghut. Keduanya dibuat sebagai titik temu (mitsaq galizan) bagi semua elemen bangsa.

Apa yang diasumsikan oleh kelompok radikal-ekstrimis bahwa UUD dan Pancasila adalah taghut tidaklah benar. Itu hanya karena kebodohan dalam memahami agama. Sebab taghut dalam Al-Qur’an adalah hakim jahiliyah atau hal-hal yang disembah untuk menandingi keesaan Allah. Apakah Pancasila dan UUD dibuat untuk melawan Allah? Jawabannya tidak. Keduanya dibuat untuk memberi ruang semua pemeluk agama untuk hidup berdampingan dalam keberagaman, sebagaimana juga pernah dipraktikkan oleh masyarakat Madinah dibawa kepemimpinan Rasulullah Saw. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!