Kegagalan Kelompok Radikal Atas Makna Jihad

2
513

Sangkhalifah.co — Kelompok-kelompok Islam radikal telah mempersempit dan mereduksi makna jihad dari arti yang sebenarnya. Dari reduksi itu kemudian menjadi dalil gerakan mereka yang hobi mengafirkan kelompok lain jika tidak sependapat. Selain itu, pembantaian terhadap sesama manusia menjadi hal yang halal dan wajib untuk “ditegakkan” oleh kelompok radikal ini.

Sebenarnya, istilah jihad memiliki pengertian yang luas, bukan hanya mengangkat senjata. Jihad merupakan salah satu instrumen dakwah untuk menyebarkan agama Islam sesuai dengan prinsip-prinsip maqashid syariah. Pemikiran bahwa jihad dengan mengangkat senjata hanyalah relevan manakala mendapat perintah dari kepala negara dan keadaan yang genting. Sebaliknya, jika tidak demikian, mengangkat senjata menjadi sesuatu yang diharamkan dalam agama.

Jika pun situasi dan kondisi sudah relevan untuk jihad dengan mengangkat senjata, tetap ada aturan-aturan dan dilakukan secara proporsional serta memperhitungkan dampak yang akan ditimbulkan. Dalam jihad mengangkat senjata harus dilakukan dengan nilai-nilai luhur yang lebih mengedepankan maslahat yang bersifat umum, para mujahidin dilarang memotong pepohonan, membunuh hewan, membuat rasa takut dan khawatir pada orang-orang yang sedang melakukan ibadah di tempat ibadat mereka. Jika keluar dari aturan-aturan itu, praktik jihad akan mengalami reduksi dan bukan malah mengajak, tapi justru kezaliman yang ada.

Untuk lebih jelasnya, berikut penulis bandingkan pengertian jihad antara mayoritas ulama (jumhur ulama) dan kelompok Islam radikal. Al-Bahuti dalam kitab Kasyful Qina (3/36) dan Mathalib Ulinnuha (2/503) menjelaskan pengertian jihad dengan sangat luas. Jihad yang disyariatkan oleh Allah selalu bermuara pada nilai-nilai luhur, yang dalam manifestasinya bisa mewujud dengan pelbagai hal; bisa dilakukan dengan hati, dakwah, argumentasi, penjelasan, pendapat, dan pengetahuan.

Dalam kondisi tertentu jihad diekspresikan dengan mengangkat senjata, sehingga jihad dilakukan dengan perang. Sementara kelompok Islam radikal berbeda dengan apa yang diungkapkan di atas. Mereka mereduksi dan mempersempit makna jihad hanya dalam pengertian mengangkat senjata, lebih jauh lagi mereka mengartikan perang hanya dengan membunuh.

Mayoritas ulama mengatakan bahwa adalah sebuah sarana atau wasilah untuk menggapai tujuan. Bukan tujuan itu sendiri. Sarana merupakan hukum yang ditetapkan untuk mencapai hukum yang lain. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh ilmu maqashid, Imam Thahir bin Asyur dalam kitab Maqashid Syari’ah, hal: 148. Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara jihad dan perang. Tetapi berkaitan dengan sesuatu yang merealisasikan tujuannya.  Sementara kelompok Islam radikal mengakatakan bahwa peperangan adalah sebuah tujuan yang harus diraih.

Mayoritas ulama juga mengatakan bahwa tujuan jihad adalah supaya orang-orang yang kita jihadi mendapatkan hidayah (petunjuk). Dalam kitab al-Fatawa (2/340), Imam Taqiyuddin al-Subki berkata: “Sabda Nabi Muhammad Saw. kepada nabi mengutus Ali ke Khaibar: Sungguh Allah memberi hidayah pada seseorang karenamu, lebih baik dari onta merah.” Dari sabda nabi itu dapat dipahami bahwa jika membuat orang bertauhid bisa dengan berdiskusi, maka perang tidak lagi perlu. Berbeda dengan kelompok radikal yang mengatakan bahwa jihad dan perang sama sekali tidak memiliki peran dalam menyebarkan hidayah.

Jika memang jihad tidak bisa terwujud kecuali dengan mengangkat senjata (perang), maka dalam perenang itu harus berpegang teguh untuk mewujudkan satu dari  tiga hal berikut; 1). Mengajak manusia hingga Allah memberikan hidayah (petunjuk), ini tingkat paling tinggi. 2). Untuk memperoleh status gugur sebagai syahid, ini tingkat tengah-tengah. Dan 3). Untuk bisa membunuh orang kafir. Yang terakhir ini bukanlah tujuan.

Dapat kita simpulkan bahwa ajaran Islam memiliki pandangan luas terkait makna jihad, sehingga Islam tetap terjaga, sebagai agama rahmatan lil alamin, agama penebar kasih bagi semesta alam. Mereka yang membatasi jihad dengan mengangkat senjata, hanya mencatut Islam untuk melegitimasi tindakan mereka yang justru bukan ajaran Islam. [Muhamad Abror]

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!