Kebusukan Nicko Pandawa; Dari Mencatut Peter Carey Hingga Alwi Alatas

0
764

Sangkhalifah.co — Hobi adalah kesenangan kepada sesuatu dan mengistimewakannya. Setiap orang memiliki hobi yang satu sama lain berbeda. Hobi dapat menuntun seseorang meminati sesuatu dan susah untuk lepas darinya. Hobi bukanlah hal negatif, justru itu dapat memicu kreativitas seseorang untuk berkarya. Akan tetapi, bagaimana jika hobi dilakukan terhadap sesuatu yang negatif? Bagaimana jika hobi digunakan untuk mengelabuhi atau menipu orang lain agar sama-sama tersesat? Bagaimana pula jika hobi dilakukan dengan mencatut nama orang lain tanpa sepengetahuannya dan atau memanipulasi ayat Al-Qur’an demi nafsu politiknya? Begitulah hobi para pengasong khilafah. Mereka gemar mencatut nama-nama tokoh dan memperkosa ayat Al-Qur’an demi kejahatan yang ditutupinya dengan simbol-simbol agama.

Hobi para pengusung khilafah soal catut mencatut memang sudah ada sejak dulu. Namanya juga hobi, susah merubahnya. Tidak akan takut dengan dosa. Pada tahun 2013 saat Muktamar HTI, ketika HTI belum dibubarkan, HTI pernah mencatut logo Ansor dan NU dengan diberikan narasi “warga Nahdliyyin mendukung khilafah”. Dikonfirmasi oleh Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kemen-Kominfo), pada saat HTI berbohong mencatut organisasi Nahdliyyin NU. Apa yang dilakukan oleh aktivis khilafah, menurut Kominfo, demi mendapat dukungan dan simpatik warga Nahdliyyin.

Tidak lama kemudian itu dikonfirmasi oleh PCNU Sumedang, bahwa apa yang dilakukan HTI pada spanduk Muktamar Khilafah di Jakarta tidak ada kaitan dengan NU. Itu hanya hoax yang dilakukan oleh HTI. Hobi ini memang sudah melekat pada aktivis khilafah. Mereka siap melakukan itu untuk membohongi publik. Sudah tak pernah takut dengan yang namanya dosa. Bagi aktivis khilafah, dosa itu ketika orang Islam tak berjuang menegakkan khilafah. Kalau berbohong, mengelabuhi, dan mencatut, tidak dosa, bahkan harus menjadi hobi. Hobi aktivis khilafah ini misalnya ketahuan pada 5 Januari 2015 melalui tulisan yang dipsoting Fanspage Muslimah Menyongsong Khilafah yang merupakan media afiliasi HTI. HTI dalam postingannya menyebutkan bahwa salah satu ketua PBNU di tahun 2015, Ustadz Farozi, mendukung HTI dengan menyatakan “umat Islam harusnya bersyukur dengan adanya HTI. Sebab konsep khilafah menjadi tegas”.

Kelakuan para aktivis khilafah ini memang keterlaluan. Ternyata setelah dikonfirmasi, Tim Sarkub PBNU menyesalkan kelakuan jahat HTI yang mencatut PBNU. Dalam faktanya ternyata, di lingkungan Ketua PBNU tidak ada yang bernama Ustadz Faozi. HTI baru mau jujur setelah dicecar Tim Sarkub bahwa tokoh PBNU dalam postingan itu adalah tokoh fiktif. HTI lagi-lagi tidak lagi kenal namanya dosa. Hobi buruknya tidak tanggung-tanggung, bawa nama tokoh NU untuk jualan khilafah murahannya itu.

Hobi aktivis khilafah yang akhir-akhir ini sedang viral adalah pencatutan tokoh-tokoh luar negeri dalam launcing film Jejak Khilafah. Rupanya, setelah mencatut tokoh-tokoh Indonesia dan selalu gagal menipu umat, aktivis khilafah mulai melampiaskan hobinya pada tokoh-tokoh luar negeri. Film jejak khilafah ini merupakan hasil Skripsi aktivis khilafah Nicko Pandawa di UIN Syarif Hidayatullah. Pertama, Nicko mencatut nama Alwi Alatas, sejarawan Malasyia, untuk mendukung launcing jejak khilafah di Nusantara pada 02 Agustus 2020.

Melalui Facebooknya, Alwi Alatas mengkonfirmasi bahwa dirinya memang pernah diminta wawancara oleh Nicko saat mengerjakan Skripsi, itu tanggung jawabnya sebagai sejarawan. Akan tetapi jika namanya dibawa-bawa untuk kampanye ideologi terlarang khilafah, iya tidak ikut-ikutan dan bahkan tidak merestui sama sekali. Hobi aktivis khilafah ini benar-benar membahayakan. Melegalkan kebohongan banyak orang untuk nafsu khilafah yang tidak jelas arahnya.

Hobi mencatut nama tokoh demi jualan khilafah ini berujung pada pencatutan Sejarawan Universitas Oxford Peter Carey dalam acara launcing yang digelar aktivis khilafah. Acara itu mengundang Rokhmat S Labib eks Ketua HTI, Felix Siauw simpatisan HTI, dan sejumlah tokoh lainnya. Setelah dikonfirmasi pihak Media Tirto, Peter merasa kecewa sebab dalam acara tersebut yang menampilkan nama dan fotonya, dirinya tidak pernah diundang sesuai prosedur. Peter memang pernah diwawancari soal kaitannya antara Kerajaan Turki Usmani dengan Pengeran Diponegoro. Dirinya pun tidak memberikan informasi soal dukungan Diponegoro atas khilafah Turki Usmani. Disebut dalam berita Tirto (05 Agustus 2020), Peter merasa menyesal karena namanya dicatut tanpa konfirmasi untuk kegiatan yang bertujuan mengkampanyekan ideologi terlarang di Indonesia.

Nicko sang pembuat film ini adalah aktivis Gema Pembebasan UIN Jakarta. Sebuah organisasi underground HTI yang misinya sama yaitu menegakkan khilafah dan mengkafirkan serta men-taghut-kan siapapun yang percaya dengan Pancasila, UUD, dan NKRI. Bagi aktivis khilafah, sepertinya dosa tak perlu lagi ditakuti. Hobi berbohong mengatasnamakan organisasi lain maupun mencatut tokoh-tokoh nasional adalah perbuatan yang menjadi kebiasannya. Gema Pembebasan sebagai aktivis khilafah di kalangan Mahasiswa ini juga pasti akan gemar berbohong mencatut nama-nama tokoh guna jualan ideologi murahan khilafah di Indonesia. Tugas kita bersama adalah menyelediki dan melaporkan ke pihak berwajib atas perilaku jahat para pengasong khilafah yang tak lagi takut dosa. Kalau sudah tidak takut dosa dengan kebiasaan mencatut nama orang lain untuk nafsu khilafahnya, jalan satu-satunya adalah melaporkan para pengasong khilafah ke pihak berwajib agar kebohongan itu tidak menjalar ke luar aktivis khilafah.

Ketidaktakutan akan dosa para pengasong khilafah ini sebetulnya bukan dalam hal catut mencatut nama tokoh, tetapi juga lebih ekstrim berbohong atas nama Al-Qur’an. Mereka gemar mengkampanyekan ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan khilafah untuk menjadi dalil kewajiban mendirikan sistem terlarang itu. Ayat-ayat Al-Qur’an dimanipulasi, bahkan diperkosa demi keinginan kekuasaan di atas nama khilafah islamiyyah.

Para aktivis khilafah lihai dalam mencatut ayat-ayat suci Al-Qur’an guna mengelabuhi orang-orang awam agar terperangkap ke jalan yang penuh noda khilafah. Sehingga, setiap orang yang tergabung dengan aktivis khilafah bukannya menambah pintar, akan tetapi semakin “bodoh” memperkosa ayat-ayat Al-Qur’an tanpa takut lagi dengan dosa. Sekali lagi sebab bagi mereka, dosa itu hanya bagi mereka yang tidak berjuang mendirikan khilafah versinya. Selain itu, termasuk mencatut nama orang dan memanipulasi ayat, bagi aktivis khilafah, tak perlu ditakuti dosanya. Nauzubillah. []

Leave a reply

error: Content is protected !!