Kaum Radikal: Menegakkan Nafsu Berbalut Agama

2
218

Sangkhalifah.co — Membela Allah, membela Islam, membela agama, membela syariat, membela tauhid, dan membela atribut-atribut agama lainnya, adalah sederet dari bentuk kesombongan kelompok radikal baik di dunia nyata maupun dunia maya. Dengan teriak-teriak atas nama agama seolah-olah mereka sudah menjadi pemeluk agama paling taat tingkat dunia atau bahkan mungkin tingkat akhirat.

Padahal, belajar agama hanya melalui kursus, baca buku terjemahan, atau mentok dengan mendengarkan ceramah-ceramah di YouTube. Tidak salah sih memang. Tapi menjadi problem manakala usaha belajar yang dilalui dengan cara instan itu dipraktekkan dengan perilaku menyalahkan, bahkan mengkafirkan, siapapun yang tidak sepaham dengan pendapatnya. Menjadi masalah jika usaha dadakannya itu dipakai untuk menghakimi dan nyinyir ulama-ulama yang puluhan tahun belajar tentang Islam dan perangkat-perangkatnya.

Kebiasaan buruk lain dari kelompok radikal ialah mencampuradukan, kalau tidak menyamakan, istilah-istilah yang jelas-jelas berbeda. Misalnya, khalifah disamakan dengan khilafah. Khilafah disepadankan dengan imamah. Dan dalam konteks ini, Islam dicampuradukan dengan syariat Islam, bahkan dengan fikih. Buya Syafi’i Maarif menegaskan demikian bahwa sebagian kelompok Islam pejuang Negara Islam kerapkali tidak memahami posisi-posisi istilah Islam, syariat, dan fikih, namun mereka memukul rata semuanya sebagai Islam. Ketiganya tidak ada perbedaan sama sekali. Hal ini menurutnya sangat kacau dan bisa berakibat pada lahirnya tindakan yang memunculkan radikalisme, bahkan teror.

Yusuf Qardhawi menyebut, Islam di dalamnya terdiri dari syariat dan akidah. Syariat merupakan seperangkat aturan yang diturunkan untuk mengatur hidup manusia dalam hal keagamaan dan dunia. Syariat menurut Qardhawi, memiliki ciri khas maslahah untuk semua umat. Itu artinya, syariat yang justru menimbulkan rasa kesombongan, kebencian kepada yang lain yang berbeda faham, bukanlah syariat Islam, bisa jadi syariat setan. Sementara fikih adalah hasil olah fikir manusia yang merincikan pola-pola yang ada dalam syariat Islam. Pada ini para ulama kemudian berbeda-beda pendapat dalam banyak hal. Sehingga menjadi suatu keniscayaan adanya perbedaan pendapat ulama-ulama fikih dalam persoalan banyak hal. Mempersoalkan perbedaan fikih hingga timbul perpecahan adalah murni bentuk “kebodohan” yang nyata.

Maka jelaslah memperjuangkan Islam bukan memperjuangkan syariat dan bukan pula memperjuangkan fikih. Memperjuangkan syariat Islam merupakan suatu keharusan bagi Muslim, akan tetapi perlu digarisbawahi, sebagaimana penegasan Al-Qardhawi, itu harus mencapai pada pemberian kemaslahatan dan perbaikan pada umat. Bilamana tidak demikian, perjuangannya bukan untuk Islam atau syariat, namun nafsu beragama yang tak mendasar.

Begitu juga memperjuangkan pemahaman fikih baik dalam masalah ibadah, muamalah, munakahah, jinayah, dan lain sebagainya, adalah sah-sah saja. Namun Islam mengecam jika perjuangan itu berdampak pada tindakan saling menyinggung, nyinyir, menjelekkan satu sama lain, atau bahkan menimbulkan perpecahan. Sehingga pada dasarnya, perjuangan Islam, syariat, atau fikih sekalipun, semuanya berujung pada nilai-nilai kemaslahatan dan kebaikan bagi umat.

Allah melalui Al-Qur’an memberikan predikat hamba Allah yang berakhlak buruk ketika menyebut orang-orang yang berbohong atas nama agama atau apa-apa selalu mengatasnamakan agama. Lihatlah makna QS. Al-Mâ’un dari ayat pertama hingga terakhir. Dalam pada itu Allah memberi stempel orang yang dusta atas nama agama (alladzî yukadzibu bi ad-dîn) dengan penghardik anak yatim (yadu’ul yatîm), tidak peduli kepada kemiskinan (lâ yahuddu ‘alâ tha’âmil miskîn), dan lalai akan ibadah shalat (wail lil mushallîn).

Sebaliknya Al-Qur’an memberikan predikat senagai Muslim sejati bagi mereka yang mengutamakan akhlak, moral dan perilaku yang baik, tidak selalu mengatasnamakan Islam. Lihatlah QS. Fusshilat: 33 Allah menegaskan bahwa siapa saja yang ucapannya baik (man ahsanu qaulan), mengajak kepada Allah (man da’â ilallâh), beramal salih (amila sâlihan), maka mereka sesungguhnya Muslim sejati (innanî minal muslimîn). Keterangan ini memberi penegasan bahwa orang-orang yang apa-apa selalu bawa-bawa nama agama maka perlu dicurigai sebagai orang yang tidak baik menurut Allah. Sebaliknya, hamba yang baik adalah mereka yang amal dan tindakannya mencerminkan kebaikan dan kesalehan.

Maka kemudian wajar jika Abdurrahman Wahid memberikan adagium yang cukup menyentuh inti pembelaan terhadap Islam yang sejati, bahwa menurutnya Islam tidak perlu dibela karena Islam sudah sempurna, ia agama yang komprehensif dan tak butuh dibela manusia yang banyak berdosa. Yang perlu dibela adalah orang-orang yang tertindas, dan kemanusiaannya diinjak-injak oleh ketidakadilan dan oleh kekerasan atas dasar agama.

Membela agama bagi Gus Dur, panggilan akrab Almarhum KH Abdurrahman Wahid, mengejewantahkan ajaran-ajarannya sebagai agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, mengayomi semua manusia, tanpa memandang perbedaan agama, suku, ras, etnis, dan perbedaan lain-lainnya. Dalam kesempatan yang lain beliau menegaskan bahwa kemanusiaan adalah hal yang perlu diperjuangkan oleh siapapun. Tidak ada yang pantas dibela mati-matian kecuali kemanusiaan, sebab ia merupakan inti ajaran agama-agama, termasuk agama Islam.

Seorang ulama kenamaan asal Mesir Muhammad Abduh menyatakan: al-islâm mahjûbûn bi al-muslimîn; agama Islam (kehebatannya) tertutupi oleh pemeluknya sendiri. Pernyataan pengarang Kitab Tafsir Al-Manâr dalam konteks sekarang adalah tercorengnya Islam di mata orang-orang di luar Islam yang menganggap Islam sebagai agama teror, agama kekerasan, dan agama peperangan. Islam dituduh sebagai agama perpecahan disebabkan oleh perilaku kekerasan dan bom bunuh diri yang dilakukan oleh sebagian umatnya.

Mereka membawa-bawa nama Islam, pejuang Islam, sebagaimana salah satu akun instagram bernama “mercusuar_” yang katanya berjuang demi Islam, akan tetapi tujuannya adalah menimbulkan keresahan dengan mengkampanyekan sistem gagal khilafah yang tidak laku lagi dijual-belilan di mana-mana. Islam menjadi agama yang dipermalukan, sebagiannya, oleh akun instagram tersebut. Alih-alih ingin membela Islam namun tanpa sadar justru sedang mempermalukan wajah Islam yang aslinya bersifat ramah menjadi marah, yang bersifat adil menjadi kerdil, dan agama yang bersifat toleran menjadi intoleran serta menakutkan.

Maka tidak ada istilah lain bagi para kelompok radikal yang selalu membawa-bawa dan atau atas nama agama dalam setiap tindakannya namun tujuannya politik kekuasaan, uang, dan nafsu bergama kecuali predikat “memperjuangkan hawa nafsu beragama”. Mereka tidak samasekali memperjuangkan Islam. Sebab Islam merupakan agama rahmatan lil âlamîn, yang perjuangannya juga harus bersifat ramah dan mengedepankan rasa kasih sayang.

Membela Islam tidak lain adalah membela kemanusiaan, kemaslahatan, dan berperilaku secara baik baik tindakan maupun ucapan. Jika teriak-teriak membela Islam namun saudaranya merasa terancam, tidak merasa nyaman, dan hendak merusak tatanan ijtihad para ulama dan founding father seperti demokrasi, Pancasila dan UUD 1945, maka jelas sejatinya bukan membela Islam, namun membela setan dan membela hawa nafsu yang dibalut dengan mengatasnamakan agama. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!