Kaum Khilafah Sebagai Faktor Perpecahan Umat

3
269

Sangkhalifah.co — Islam sebagai agama perdamaian selalu mendambakan persatuan. Kerukunan dan toleransi antar sesama penganut Islam, maupun dengan lainnya menjadi kuncinya. Setiap muslim memiliki kewajiban dan hak yang sama kepada muslim lainnya. Maka menciptakan keamanan untuk saudara sesama muslim menjadi satu konsekuensi logis mewujudkan perdamaian. Bahkan, dari hal yang terkecil sekalipun setiap Muslim punya andil untuk menjaganya. Lisan dan tangan menjadi dua penentu kedamaian bagi saudara seiman adalah prinsip sejati seorang Muslim.

Dalam kaitannya, tentang hubungan sesama muslim terdapat dua hadis yang menyinggung prinsip persaudaraan ini. Keduanya memiliki arti mendalam bagi setiap muslim yang mampu memaknainya. Hadis pertama menyinggung betapa pentingnya menjaga lisan dan tangan terhadap sesama muslim.  “Seorang muslim merupakan orang yang mampu menjamin keselamatan bagi muslim lainnya (saudaranya) dari perkataan dan perbuatannya.” HR. Bukhari. Hadis ini mengindikasikan adanya peran Muslim untuk mewujudkan keamanan saudaranya sesama Muslim. Bukan malah menebar fitnah. Tidak mencaci dan mencari perbedaan di antara mereka.

Hadis kedua menegaskan betapa dekatnya hubungan antar sesama Muslim. “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya, seperti bangunan yang menguatkan satu dengan lainnya.” HR. Muttaqah Alaih. Dalam hubungannya, mereka diibaratkan seperti kesatuan bangunan yang saling menguatkan. Apabila satu di antara mereka ada bagian yang lemah, peran yang lain dibutuhkan. Tak lain semua itu demi kuat dan tegaknya kebersamaan sesama muslim. Menjaga kerukunan serta membina perdamaian antar sesama adalah pintunya. Sehingga, untuk memasuki bangunan besarnya pintunya harus terbuka terlebih dulu.

Namun, begitu disayangkan masih ada oknum-oknum yang begitu jauh dari nilai-nilai yang tersirat dalam dua hadis tersebut. Sebut saja, kaum pendukung khilafah. Mereka yang datang mengaku membela Islam, justru menodai keagungannya dari dalam. Boleh disebut, mereka menjadi satu faktor sumber perpecahan umat Islam, lebih-lebih narasi yang dibuat di media sosial. Akibatnya, bukan kerukunan yang terwujud, melainkan konflik tak berkesudahan di antara mereka. Di sinilah pentingnya mengurai beda pandangan dari satu sumber ajaran yang sama.

Semua umat Islam, mengaku berpegang teguh pada ajaran al-Qur’an. Mereka selalu setia dalam bacaan dan begitu memuliakan tempatnya. Al-Qur’an sebagai kitab suci menjadi dasar mereka dalam berekspresi dalam segala aspek kehidupan. Tak jarang, segala aktifitas yang dijalani selalu dikembalikan kepada nilai-nilai mulia al-Qur’an. Namun, ketika berbicara tentang satu topik bela negara. Saat menyinggung nasionalisme dan Pancasila, tetiba ada saja yang merasa gerah di media sosial dan jagat nyata. Dalihnya, nasionalisme dan Pancasila bukan produk Islam yang mengandung unsur sekularisme. Sehingga, tak jarang mereka berani menantang pemerintah sah. Sebabnya hanya karena tidak sesuai dengan pemikiran mereka.

Sampai saat ini, kaum khilafah masih saja bergentayangan. Meskipun awalnya mereka dalam satu komando HTI, kini bertebaran seperti tak punya tuan. Namun, hebatnya mereka tetap kukuh dalam tujuannya membela dan menegakkan khilafah. Dalam jumlah, memang terbilang kecil. Mereka pantas disebut minoritas. Akan tetapi, dalam semangat dan sikap radikalnya cukup membahayakan apabila terus dibiarkan. Pantas saja mereka ini disebut sebagai faktor perpecahan di tengah umat.

Dulu, sebelum kaum khilafah ini marak dan bebas berekspresi, hanya ada dua kelompok besar di Indonesia. Islam itu kalau bukan NU, pasti Muhammadiyah. Meskipun terdapat perbedaan dalam segi amaliyah (praktik) dan furuiyah (cabang), tak sampai dua kelompok ini menentang pemerintah. Keduanya tetap setia dalam bela negara. Mereka semua begitu cinta kepada tanah air. Kendati setiap tahun mereka ribut soal jumlah rakaat tarawih dan ketetapan hari raya Idul Fitri, mereka tetap hangat dalam bercengkrama sehari-hari. Mereka tetap harmonis dalam segala kegiatan keagamaan tanpa teriak membawa-bawa bela Islam, bela Tuhan.

Kondisi sekarang, jauh berbeda. Semenjak muncul sosok kaum pejuang khilafah, umat Islam makin bertebaran tak karuan. Awalnya mereka berbeda masih dalam seputar qunut dan tidak qunut pada shalat Subuh. Kalau berdebat paling masalah itu-itu saja. Anehnya, mereka kini adem ayem tidak berdebat soal qunut lagi. Karena keduanya sudah tidak shalat Subuh. Kini, mereka harus berbenturan dalam pemahaman Islam yang dikaitkan dengan sistem negara dan pemerintahan. Alih-alih ini menyatukan, justru menjadi biang perpecahan di kalangan umat.

Rasanya, persoalan ini tidak akan pernah selesai. Apabila ini terus dibiarkan dan tidak ada ketegasan pemerintah untuk menangani kaum khilafah. Maka, berupaya terus menebar narasi perdamaian dalam berbagai ruang publik adalah keniscayaan. Di tengah maraknya, gerakan bawah tanah kaum khilafah memenuhi jagad media sosial, kita sebagai generasi setia bela negara harus terdepan menghalaunya. Kalau pun tidak sampai taraf menghentikan, setidaknya mereduksi laju pergerakan siaran khilafah di ranah dunia maya. []

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!