Kaum Khilafah Islamiyah Musuh Nyata Para Pejuang NKRI

1
415

Sangkhalifah.co — Munculnya penganiayaan kepada para ulama dan umara’ akhir–akhir ini dan dahulu kala memang sudah ada. Dimana motifnya tentu tidak jauh dari niat untuk memusnahkan orang-orang yang berhaluan kepada ahlu sunnah waljamaah dan membela Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti yang terjadi dahulu kala diantara beberapa kyai yang menjadi saksi sejarah pernah diserang orang tak dikenal adalah Gus Maksum Lirboyo, Kyai Ali Maksum Krapyak, KH. Maiomen Zubair namun upaya tersebut gagal. Bahkan orang yang pernah menyelamatkan salah satu ulama sampai kritis dan akhirnya wafat menyelamatkan ulama KH. Maimoen Zubair Dari Sarang Rembang itu.

Bahkan dari golongan umara’(Pemerintah) yaitu Wiranto yang saat itu menjadi Menkopulhukam juga pernah diserang oleh golongan orang yang tidak dikenal. Baru – baru ini terjadi lagi kasus yang menggemparkan publik adanya penyerangan yang dilakukan oleh remaja tidak dikenal menyerang ulama ahli Qur’an yaitu Syekh Ali Jaber. Ini mengindikasikan belum hangusnya kelompok radikal yang masih berkeliaran dibawah naungan otak yang tentu benci kepada para ulama penebar kerukunan, kedamaian dan menyerukan paham–paham KeIndonesiaan.

Dari semua kejadian ini semua umat semakin paham bahwa golongan radikal yang terindikasi khilafah Islamiyah punya rencana besar bukan hanya ingin merubah sistem pemerintahan pancasila saja, tetapi justru yang menjadi sasaran utamanya adalah orang-orang yang berjuang mempertahankan paham-paham keindonesiaan, Pancasila, dan kedamaian mulai diancam dan diserang secara terus terang dengan mata kepala telanjang.

Maka, inilah tugas bersama pentingnya memahami sebuah arti perjuangan. Yaitu berjuang merawat NKRI, melindungi para umara, ulama dan orang-orang yang mempunyai tekad semangat menjaga NKRI di bumi pertiwi ini. Di negara-negara belahan dunia lainnya Hizbut Tahrir sudah tertolak ajarannya, pahamnya dan sistem kebijakannya. Maka, jangan sampai Indonesia ini dimasuki oleh orang-orang yang membawa agama sebagai alat untuk merusak bangsanya sendiri.

Jika melihat kisah pada zaman sahabat nabi yang pernah dibantai oleh seorang yang ahli agama Ibnu Muljam, bahkan terkenal alim pun belum tentu baik cara berperilaku. Harus melihat aspek saleh spiritual dan saleh sosial. Artinya adalah baik kepada Allah Swt dalam beribadah dan baik kepada setiap manusia dengan saling menghormati pentingnya persaudaraan dalam satu negara.

Semakin derasnya laju pertumbuhan ekonomi, pendidikan dan pesatnya pembangunan yang ada. Inilah berkat para pejuang dahulu para pahlawan yang banyak berguguran dan para ulama yang ikhlas dalam berdakwah menyebarkan pesan–pesan kedamaian. Menebar Islam yang rahmah bukan Islam yang marah, menyebar agama untuk saling menjaga dan mencintai negeri. Membumikan akidah Ahlus Sunnah Waljamaah bukan Khilafah Islamiyah. Jangan sampai negara yang sudah berdiri ini dimasuki oleh para elite radikal, kaum keras, bahkan beberapa ancaman harus dilawan dengan semangat patriotisme jihad membela negara dengan jiwa penuh kedamaian.

Beberapa strategi kaum Khilafah Islamiyah yang sangat terlihat dan sudah ada kasusnya di beberapa daerah adalah: Pertama, Penyerangan ulama yang berhaluan kepada ahlu sunnah waljamaah dan cinta NKRI; Kedua, Pengibaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia saat acara – acara yang menyuarakan bela negara pada hakikatnya mereka bukan membela negara tetapi hanya menumpang demo sebagai unjuk gigi dan kendaraan yang mereka pakai; Ketiga, Ditemukannya ajaran-ajaran yang terindikasi HTI di wilayah Indonesia dengan diam–diam mengajarkan ajaran Khilafah Islamiyah melalui pesantren yang mereka dirikan; Keempat, Tidak mendukung kebijakan pemerintah dalam memutuskan aturan dan tata tertib hidup bernegara; Kelima, Jatuhnya korban karena bom bunuh diri, teror bom, bahkan sampai isu ancaman kepada pemerintah dan ulama; dan keenam, Yang terakhir adalah maraknya kasus penghinaan kepada para ulama Aswaja yang secara terbuka dan tersebar di media sosial.

Dari beberapa fenomena di atas menjadi semangat tekad berjuang untuk menambah kekuatan para pecinta Negara Kesatuan Republik Indonesia agar semakin mengeratkan barisan dalam mengawal dan mendukung segala apapun yang berhaluan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, konstitusi yang adil dan kebijakan pemerintah dalam menyelesaikan masalah intoleran.

Melalui sikap kehati-hatian, waspada, semangat patriotisme, semangat berjuang merawat NKRI, menstabilkan keadaan agar tercipta kehidupan yang humanis, toleran, damai, dan sejuk dipandang adalah tugas bersama yang harus dijaga. Maka dari itu, siapapun yang ingin menghancurkan umara, ulama, Pancasila harus kita lawan dengan sikap tasamuh, ta’adul, dan moderat dalam bertindak. []

*Handika Naufal Husni, Mahasiswa Pascasarjana Unissula Semarang

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!