Kartini dan Sikap Kritis Perempuan sebagai Benteng Radikalisme

0
333

Sangkhalifah.co — Setiap tanggal 21 April, bangsa ini memeringati Hari Kartini. Satu peringatan yang memiliki makna penting, terutama bagi perjuangan kesetaraan dan emansipasi kaum perempuan di Indonesia. RA Kartini adalah sosok perempuan luar biasa yang melalui pemikiran dan gagasannya mampu menjadi inspirasi sepanjang zaman bagi kemajuan kaum perempuan di Indonesia.

Melalui tulisan-tulisannya, Kartini banyak mengungkapkan kegelisahan dan sikapnya ketika melihat perempuan di sekitarnya mendapatkan perlakuan diskriminatif karena budaya patriarki, juga adanya feodalisme dan kolonialisme bangsa Barat saat itu. Kartini pun mengungkapkan pandangan visioner di masanya, tentang  pentingnya perempuan mendapatkan pendidikan yang setara.

Pendidikan bagi perempuan sangat penting agar perempuan bisa kritis, berdaya dan bisa turut berkontribusi dalam kemajuan diri, keluarga, dan bangsanya. Gagasan-gagasan RA Kartini masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Bahwa pendidikan bagi perempuan adalah salah satu hal kunci kemajuan kaum perempuan Indonesia.

Salah satu hal atau persoalan yang menggambarkan betapa pentingnya sikap kritis perempuan adalah maraknya aski bom bunuh diri atau terorisme yang melibatkan perempuan. Kita masih ingat kejadian bom bunuh diri yang baru saja terjadi. Dua aksi teror masing-masing di Gereja Katedral Makassar dan di Markas Besar Polri Jakarta, dua-duanya melibatkan perempuan. Bom di Gereja Katedral dilakukan sepasang suami istri yang masih muda. Sementara bom di Mabes Polri dilakukan ZA, perempuan muda berusia 25 tahun.

Perempuan sebagai makhluk yang lebih peka, memiliki perasaan sensitif, emosi labil, cenderung dimanfaatkan kelompok ekstremisme agama sebagai sasaran doktrin radikal. Di samping itu, faktor ketaatan pada suami juga bisa menjadi sebab perempuan mudah terjerumus menjadi kelompok radikal. Hal ini mengingat adanya kasus-kasus perempuan sengaja dinikahi oleh lelaki yang tergabung dalam jaringan kelompok radikal, untuk diajak melakukan “jihad” atau “amaliyah” dengan melakukan kekerasan atau teror.

Benteng Radikalisme

Melihat makin maraknya keterlibatan perempuan dalam aksi radikalisme-terorisme, sangat penting menjadikan momentum Hari Kartini sebagai refleksi bersama, terutama kalangan perempuan untuk lebih kritis. Hari Kartini adalah momentum meneguhkan pentingnya sikap kritis kaum perempuan, sebagai bekal turut berkontribusi demi terciptanya peradaban atau kehidupan yang lebih baik.

Spirit Kartini tersebut selaras dan sangat relevan ditransformasikan menjadi gerakan bagi kaum perempuan untuk menolak paham radikal terorisme yang berbahaya dan merusak peradaban. Menurut Musdah Mulia (2017), Kartini dari awal mengingatkan perempuan tentang pentingnya mengembangkan nalar kritis dan keberpihakan kepada kemanusiaan. Tujuannya agar perempuan tak gampang dimanfaatkan atau jadi korban yang mudah dicekoki pikiran patriarki yang merugikan kemanusiaan.

Jelas, termasuk dalam paham yang merusak kemanusiaan dan peradaban tersebut, tanpa terkecuali adalah paham radikalisme terorisme. Paham radikal terorisme mencekoki perempuan dengan doktrin-doktrin agama ekstrim yang membuat mereka mudah melakukan kekerasan dan menghilangkan nyawa orang lain hanya karena perbedaan keyakinan. Semangat beragama yang mestinya diwujudkan lewat akhlak baik pada sesama, jutsru dibengkokkan untuk melakukan tindakan teror dan kekerasan yang menghancurkan persaudaraan dan peradaban.

Di sinilah, spirit Hari Kartini tentang pentingnya pendidikan dan sikap kritis perempuan sangat relevan disuarakan. RA Kartini memimpikan perempuan Indonesia cerdas, berdaya, dan aktif berkontribusi bagi kemajuan kehidupan bersama. RA Kartini jelas sama sekali tidak mengharapkan perempuan Indonesia menjadi korban atau mudah terjerumus dalam pengaruh ideologi radikalisme. Sebab paham membuat perempuan tidak berdaya, lemah, mudah dimanfaatkan, dan melakukan tindakan-tindakan kekerasan yang merusak sendi-sendi peradaban.

Momentum Hari Kartini mesti bisa menjadi saat bagi semua kalangan, terutama kaum perempuan untuk meneladani kecerdasan dan sikap kritis RA Kartini. Perempuan adalah makhluk istimewa yang memiliki kepekaan perasaan, ketelitian, dan ketajaman emosi, yang bila diarahkan dengan baik bisa menjadi bekal perempuan berkontribusi positif bagi kehidupan. Tapi di satu sisi, kepekaan perasaan tersebut juga rentan dimanfaatkan kelompok radikal yang membawa-bawa nama agama, sehingga perempuan gampang terpikat dan terpesona. Sikap kritis dan kecerdasan kaum perempuan adalah hal mendasar yang harus terus dibangun dan dikuatkan. [Al-Mahfud]

Leave a reply

error: Content is protected !!