Jihad Qital: Dari Salah Kaprah Hingga Mati Jahiliyah

2
466

Sangkhalifah.co — Jihad belakangan ini dipersepsikan oleh sebagian kelompok ekstrim dengan tindakan perang seca fisik dan membunuh orang-orang yang berbeda keyakinan. Makna jihad menjadi sempit karena disempitkan kepada tindakan kekerasan. Persepsi yang tidak sejalan dengan esensi Islam sebagai agama rahmat inilah yang membenarkan tuduhan kalangan Barat bahwa jihad adalah peperangan, perang suci secara fisik, dan membunuh non-Muslim.

Asumusi kelompok ekstremis ini betapa pun sangat merugikan Islam. Islam menakutkan di mata sebagian orang Barat. Yang mereka kenal Islam adalah kekerasan. Bahkan hingga pada titik ekstrim menganggap tidak ada nilai agama dalam Islam, karena Islam hanya soal peperangan (qitâl), membunuh, dan memerangi siapapun yang tidak satu kelompok. Fakta demikian harus diluruskan. Agar sebagian umat Islam tidak terjebak pada ketersesatan yang mengakar pada fanatisme buta dan berujung pada kekerasan, serta tidak lagi membawa nama agama untuk senjata pembunuhan.

Ketidakmampuan bahasa Indonesia menerjemahkan bahasa Arab secara tepat seringkali membuat sebagian umat Islam salah dalam mengimplementasikan ajaran Islam. Salah satunya adalah masalah jihad. Jihad dipersepsikan sebagian kelompok Islam sebagai tindak kekerasan, bahkan intimidasi kepada kelompok yang berbeda. Prof Nasaruddin Umar menegaskan bahwa jihad tidak bisa dimaknai secara literal. Ia yang arti dasarnya adalah sungguh-sungguh masih berkaitan dengan mujahadah dan ijtihad. Jihad tidak bisa dilepaskan dari keterkaitan dengan beijtihad dan bermujahadah. Sehingga menurut beliau, jihad tidak tepat jika dimaknai sebagai tindakan kekerasan yang merugikan orang lain seperti bom bunuh diri.

Selain itu juga makna qital, yang seringkali disalahgunakan berawal dengan memaknai perang secara fisik tanpa sebab apapun. Sedangkan menurut beliau, qital yang berarti perang secara fisik memang ada dalam Islam. Tidak bisa ditutup-tutupi. Akan tetapi qital hanya terjadi manakala umat Islam diserang dahulu oleh kaum kafir. Mereka dihalangi untuk melakukan ibadah dan disakiti secara fisik dan terus-menerus. Qital lebih bersifat depensif, mempertahankan diri, bukan dalam rangka melukai orang lain dengan memaksudkan perang fisik secara opensif. Pemaknaan qital secara fisik opensif bukan ajaran Islam. Demikian hanya karena tindakan sia-sia atau perilaku keonaran.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang diklaim sebagai dalil qital opensif adalah QS. Al-Baqarah:  216 yang artinya Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Ayat ini menjadi dalil sebagian kelompok ekstrim untuk berperang/qital dalam kondisi apapun. Umat Islam di manapun dan dalam situasi apapun harus berperang. Pemaknaan ini tentu saja terlalu jauh dari konteks ayat.

Disebut dalam Tafsir Al-Muyassar, ayat ini merupakan kewajiban berperang bagi Muslim manakala ada peperangan dari musuh, demi menyelamatkan agama dan diri. Begitu juga dalam tafsir Hidâyat al-Insân karya Marwan Hadi menyebut ayat di atas adalah perintah umat Islam berperang jika diperangi orang kafir. Penjelasan para Mufasir di atas jelas memberi penegasan kembali bahwa jihad qital hanya bisa dilakukan jika umat Islam sudah diperangi terlebih dulu.

Al-Qur’an adalah ayat-ayat Allah yang suci yang tidak mungkin memuat ajaran-ajaran kekerasan seperti peperangan. Oleh sebab itu menurut Ar-Râzi ayat-ayat jihad dan qitâl yang turun di Madinah yang sifatnya spesifik dan partikulat sudah dinaskh maknawi oleh ayat-ayat Makiyah yang sifatnya universal. Sehingga menurutnya tidak ada jihad perang lagi di masa sekarang ketika kondisi sudah damai. Yang berlaku adalah nilai-nilai Islam universal seperti seperti keadilan dan persamaan. Selain itu, penyematan perang dalam Islam sebetulnya ada contradiccion in terms, yaitu menyematkan tindakan kekerasan, perang fisik, kepada Islam yang dengan sendirinya merupakan agama kasih sayang dan santun. Maka sebetulnya, secara otomatis jihad perang telah tertolak secara konsep Islam. Sehingga merupakan sebuah tindakan yang salah kaprah berasumsi bahwa Islam adalah agama yang memerintah untuk berperang.

Jihad yang dilakukan oleh kelompok ekstrimis dan teroris bukan ajaran Islam. Akan tetapi perilaku jahiliyah modern. Kata “jahiliyah” yang bermakna “bodoh” dan “bersikap tidak ingin tahu” relevan disandang kepada kelompok ekstrim yang enggan mau memahami esensi jihad dan qilat secara cermat. Akibatnya timbul tindakan bodoh yaitu melakukan bom bunuh diri atau melukai orang-orang yang tidak sepemahaman dengannya. Jihad yang mereka lakukan bukan ajaran Islam namun ajaran jahiliyah. Sedangkan jihad Islam adalah jihad yang sesuai dengan tuntutan syariat Islam, yaitu jihad yang mengedepankan kemanusiaan, keselamatan, dan kemaslahatan.

Jihad yang sejalan dengan syariat Islam adalah jihad yang memberikan ketentraman kepada semua orang. Sebab Islam adalah agama ketentraman dan tidak membekali umatnya untuk berbuat onar. Perilaku jihad kelompok ekstrimis bahkan tidak hanya tindakan jihad jahiliyah, tetapi tindakan jihad jahiliyah murakkab, sebab sudah tahu Rasulullah memberikan panduan jihad yang sesuai syariat akan tetapi mereka melenceng dengan bom bunuh diri dan mengundang malapetaka.

Dalam konteks Indonesia jihad tidak hanya bermakna mempertahankan diri dalam berperang. Prof Ma’ruf Amin menegaskan bahwa makna jihad sangat luas. Ia dapat bermakna perbuatan apa saja yang diridhai Allah SWT. Jihad kita sebagai Muslim di Indonesia dapat berupa usaha meminimalisir korupsi, politik uang, dan menolak radikalisme serta mempertahankan keutuhan NKRI. Jihad kelompok Milenial misalnya, bisa dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam belajar, menjauhi sex bebas, dan menjauhi narkoba. Akhirnya, jihad yang dipersepsikan oleh sebagian kelompok ekstrim sesunguhnya bukanlah jihad. Ia hanyalah anarkhisme yang dibungkus dengan nama agama untuk membodohi orang lain. Jihad kelompok ekstrimis dan teroris selain salah kaprah, juga hanya bernilai jihad jahiliyah. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!