Jihad: Menghilangkan Kemungkaran

2
135

Perkembangan radikalisme tidak bisa dianggap enteng dan mudah. Pehamaman terhadap agama yang bernuansa kekerasan ini berkembang di Indonesia. Tingkat perkembangnnya memprihatinkan sebagaimana hasil dari berbagai survei yang dilakukan seperti yang dilakukan oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian. Dimana terdapat 52 persen pelajar menyetujui tindakan radikal atas nama agama di Indonesia.

Kenyataan ini menjadi pekerjaan rumah, baik untuk pemerintah maupun masyarakat sendiri. Pasalnya, berkembangnya radikalisme pada sebuah negara akan membuat ketidak-stabilan negara, baik ekonomi, politik dan keamanan.

Baca: Penafsiran Ahistoris: Antara Qutb dan HTI

Permasalahan ini adalah permasalahan serius yang tidak bisa hanya dilakukan pencegahannya oleh pemerintah, namun juga masyarakat, utamanya para pemuka agama untuk menjelaskan bahwa radikalisme bukan jihad seperti anggapan sebagian kelompok yang mendambakan berdirinya Negara Islam seperti ISIS.

Satu hal yang menjadi prinsip dalam beragama dan ini penting adanya, tapi (mungkin) sering dilupakan oleh kaum Muslimin, yakni: jihad dalam apapun bentuknya, perang atau pun yang lain, tujuannya adalah menghilangkan kemungkaran (hal yang tidak disenangi Allah). Contoh orang mencari ilmu itu termasuk dari jihad, karena untuk menghilangkan kemungkaran berupa kebodohan, yang dengan kebodohan ini tidak bisa membedakan antara benar dan salah, halal dan haram baik dan buruk.

Baca: Absennya Al-Quran Soal Sistem Khilafah

Al-Ashfahani, membagi jihad, yaitu jihad di dalam menghadapi musuh yang betul-betul nyata, jihad menghadapi jin atau setan yang mengganggu, dan jihad menghadapi nafsu yang terdapat di dalam diri setiap orang. Dalam konteks terakhir inilah, jihad yang paling berat sebagaimana ucapan Nabi, “Kita kembali dari jihad yang terkecil menuju jihad yang lebih besar, yakni jihad melawan hawa nafsu.”

Upaya untuk mewujudkan sebuah kemaslahatan dan menghilangkan kemungkaran beragam bentuk, ada fisik (jihad), pemikiran (ijtihad), dan semangat batin (mujahadah). Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar “jika ada yang mengatasnamakan suatu gerakan jihad, tetapi tidak melibatkan dimensi ijtihad dan mujahadah,  belum bisa disebut jihad. Jika ia korban, tidak bisa disebut sahid.”

“jika ada yang mengatasnamakan suatu gerakan jihad, tetapi tidak melibatkan dimensi ijtihad dan mujahadah,  belum bisa disebut jihad. Jika ia korban, tidak bisa disebut sahid.”

Tujuan jihad menghilangkan kemungkaran ini menjadi kaidah bagi para ulama bahwa tidak dianggap jihad jika melenceng dari tujuannya. Yusuf Qaradhawi dalam Fiqih Jihad menjelaskan bahwa untuk menghilangkan kemungkaran yang ada tidak boleh mengadakan kemungkaran lain yang lebih besar. Sebagaimana yang diperbuat dan dibenarkan oleh kelompok radikal seperti ISIS yang mencegah kemungkaran dengan bom dan tembakan yang menyebabkan kerusakan fasilitas umum dan terancamnya nyawa ribuan orang tak bersalah atau bahkan jutaan. Bukankah merusak fasilitas dan membunuh nyawa orang yang tidak dibenarkan syariat adalah kemungkaran?

Yusuf Qaradhawi memberikan beberapa langkah yang bisa ditempuh dalam jihad menghilangkan kemungkaran dengan jalan damai seperti, khutbah di masjid yang disampaikan dengan hikmah dan tidak dengan provokasi, perkuliahan dan artikel-artikel di koran serta media sosial lainnya. Artinya, para ulama menganjurkan untuk kontra narasi dengan penuh kebajikan dan kebijaksanaan. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!