Jihad Menangkal Kekerasan dan Menebar Kedamaian

2
419

Sangkhalifah.co — Ada dua tantangan yang sedang berlangsung dalam tubuh santri. Pertama, bagaimana santri melihat genealogis proses reproduksi paham radikalisme di pusarannya dan bisa menangkalnya? Kedua, bagaimana mewujudkan cinta tanah air dalam sikap dan narasi damai? Tulisan ini akan menjawab dua pertanyaan di atas.

Kalau kita akui secara jujur, sungguh kita telah menyaksikan agama selalu bersentuhan dengan kekerasan. Tak ada agama yang tak dilibatkan dari kekerasan. Semua agama dalam sejarahnya pernah bergelimang kekerasan. Ini bisa kita lihat dari jejak awal munculnya firqah-firqah Islam seperti Khawarij (Siradjuddin Abbas, 2010). Bahkan sekarang juga ditandai munculnya kelompok non- indigenous Islam Indonesia yang memandang perlunya “Islamisasi Indonesia” melalui jaringan transnasionalnya secara global sehingga menyebabkan ektremitas.

Dengannya, kekerasan tidak hanya bertumpu pada wujud wacana melainkan terjadi pergeseran dalam bentuk fisik atau sebaliknya. Sebagaimana kenyataan hari-hari ini pengkafiran lazim ditemui, di fatwa-fatwa, ucapan khatib-khatib dan dai-dai, di pengajian-pengajian, di tulisan karya-karya, dan di media sosial membumbung tinggi menggeruk hampa jiwa—menggaduhkan wacana berkehidupan manusia. Bahkan terjadi dalam bentuk kekerasan tangan, seperti bom bunuh diri di Afghanistan tempo lalu.

Kekerasan atas nama agama dan Tuhan, sasarannya tak hanya orang yang berbeda agama, melainkan orang-orang Islam sendiri yang berbeda keyakinan, aliran, pikiran, pilihan politik, ideologi, sistem negara, dan kewarganegaraan. Ia mengontruksikan pemahaman sesat dan ideologis yang salah bahkan bertentangan dengan Islam (Ahmad Saifuddin, 2017).

Tokoh dan Islamisme

Aksin Wijaya dalam Dari Membela Tuhan Ke Membela Manusia: Kritik atas Nalar Agamaisasi Kekerasan (2018) berhasil membongkar secara kritis-akademis dan mendongkel sumber rujukan, model pemahaman, sikap, dan para tokoh gerakan Islam yang mengambil bentuk agamaisasi kekerasan.

Dalam penelurusannya, Aksin menemukan beberapa tokoh utama yang mempengaruhi agamaisasi kekerasan yakni: Muhammad bin Abdul Wahab, Ahmad Ibn Hanbal, Abul A’la al-Maududi, Sayyid Qutb, dan Ibnu Taimiyah. Mereka mengepresikan nalar atau pandangan, pemikiran, pemahaman kekerasan—sehingga mengakibatkan paham kekerasan, sikap kekerasan, respons kekerasan, reaksi kekerasan, dan gerakan kekerasan.

Baca: Eksklusivisme dan Intoleransi: Watak Dasar Teroris

Dari tokoh tersebut, Aksin melihat ada kekeliruan dalam menalar Islam sehingga memuat banyak masalah dalam penjelajahan kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Mereka menalar Islam sebagai sesuatu yang tunggal dan menggunakan pijakan nalar Islam teosentris (serba Tuhan, yang cendredung menghilangkan hak asasi manusia yang diberikan Tuhan). Dengan demikian, mereka mensalahtafsirkan antara Islam sebagai agama (Islam itu sendiri, absolut yang sifatnya sakral) dan hasil ijtihad tentang Islam (pengetahuan atau pemikiran keislaman/keagamaan).

Maka itu, bila tak bisa membedakan mana yang ajaran agama dan ijtihad tentang agama akan terjadi penyalahgunaan pola tafsir agama. Pemikiran tentang agama dianggap sebagai agama, kemudian disakralkan untuk menjustifikasi “ideologi” dengan menggunakan bahasa agama “jihad fisabilillah”, tetapi melupakan esensi agama itu sendiri yaitu bahwa agama hadir untuk pemartabatan manusia, seperti misi Rasul diutus memuliakan akhlak manusia menggantikan akhlak tercela (jahiliyah) yang bertumpu pada citra, rahmat bagi manusia dan alam semesta.

Islam mengajak pada kedamaian atau jalan tengah dan melarang melampaui batas atau berlebihan dalam beragama dalam segala hal, baik hal konsep, akidah, ibadah, perilaku, hubungan dengan sesama manusia maupun perundang-undangan. Bahkan Aksin dalam Kontestasi Merebut Kebenaran Islam di Indonesia (2019) umat beragama harus bisa menebar pesan kedamaian dan menoleransi orang yang beda paham. Sehingga santri atau umat beragama tidak terjebak pada sikap relativisme, singkritisme dan eksklusifisme.

Kendati, sikap damai dan nalar moderat merupakan salah satu ciri khas Islam (Quraish Shihab, 2020). Ia merupakan salah satu di antara tonggak-tonggak utamanya, yang dengannya Allah Swt. membedakan umatnya dari yang lain. “Demikianlah Kami jadikan kamu umat “tengahan”, supaya kamu menjadi saksi atas manusia” (QS Al-Baqarah [2]: 143).

Kendati, Islam mendahulukan ibadah-ibadah yang sifatnya kemasyarakatan atas kelompoknya, mengutamakan sesuatu yang bermanfaat kepada orang banyak atas sesuatu yang hanya sebatas pelakunya. Oleh kerena itu, Islam mengutamakan kedamaian antara kelompok yang bertengkar, dengan bernalar keadaban dan bersikap kemanusiaan. Islam diperjuangkan bukan dengan instrumen paksa dan kekerasan, melaikan dengan sikap kasih sayang dan cinta damai dari apsek apa pun bahkan melebihi aspek apa pun. Dan karena itu Islam bukan agama yang anti agama lain kendati Islam memerintahkan berlaku adil bagi siapapun (M. Khaled Syeirazi, 2020).

Kalau menalar Islam dengan rasional dan tulus, tidak akan mungkin menemukan logika, argumen, dan dalil-dalil yang mendukung bahwa agama dan Tuhan perlu dibela, dengan cara-cara menghancurkan manusia, apalagi manusia yang masih seiman dan seislam. Tuhan tak perlu dibela, karena Tuhan justru hadir dengan mengirimkan agama untuk membela manusia. Jihad bukan untuk membela Tuhan, melainkan untuk membela kemanusiaan manusia (Aksin Wijaya, 2018).

Tuhan sebagai pencipta seluruh mahkluknya, beserta menurunkan wahyunya kepada Nabi pilihannya bermisi untuk humanisme manusia, sebagaimana tercatat dalam firman-firmannya yang bersifat Rahmah dan Rahim. Begitu juga dengan Islam, agama yang mengajarkan persaudaraan, membawa pesan perdamaian, untuk mengasihi dan bukan saling membenci. Inilah beberapa pesan asasi Islam yang merubah nalar Islam “teosentris” yang cenderung melegalkan kekerasan ke nalar “antroposentris” yang cenderung menolak kekerasan dan menawarkan kedamaian—membela manusia. Seperti kata Aksin, mentransformasikan al-hakimiyyah ilahiyyah menuju al-hakimiyyah al-basyariyyah, dan jihad fi sabililah menuju al-rahmah al-ilahiyyah (jihad rahmah). Beralih dari nalar agamaisasi kekerasan ke nalar agamaisasi kedamaian.

Konsep Berislam

Konsep perjalanan berislam harus menegaskan dan meletakkan kembali masalah-masalah krusial dan eksistensial dalam bernalar keberagamaan dan bernegara dengan karangka filosofis dan paradigma Islam di tengah arus doktrin agamaisasi kekerasan. Konsep pertama, beragama adalah hak asasi manusia yang diberikan Tuhan, dan karena itu  menjadi keniscayaan bahwa ajaran Islam membela hak asasi kemanusiaan.

Seseorang berhak memilih agama dengan dirinya sendiri (al-haqq al-lazim) dan juga berhak tidak memilih atas haknya sendiri. Sebab dalam konteks ini, orang lain diberi “taklif al-lazim”. Andai seseorang tidak menghormati hak orang lain dalam menentukan pilihannya dalam beragama, dia tidak hanya melanggar hak orang lain dalam beragama, tetapi juga melanggar “taklif al-lazim” sendiri dalam posisinya sebagai manusia. Bahkan ia juga melanggar kittahnya Islam.

Baca: Jihad Santri Dalam Kontra Narasi Ekstremis dan Radikal di Media Sosial

Kedua, kelompok ekstremis dengan keinginan pemurnian Islam yang seringkali menganggap amaliyah kelompok lain sebagai bid’ah yang sesat, dan berpendapat bahwa Islam hanya berlandasan Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana doktrin HTI, Salafi, Wahabi dan simpatisan lainnya. Maka kita, santri, perlu memberikan pencerahan atau kontra narasi damai dengannya. Baik lewat media sosial, surat kabar, dan lainnya. Misalnya memberitahukan bahwa Islam bukan hanya ada dan bisa di dekati dengan Al-Qur’an dan Sunnah, melainkan masih ada banyak cara/dalil lain dan metode ijtihad misalkan ijma’, qiyas, mashlahah mursalah, urf, dan epistem rigid lainnya.

Ketiga, serangkaian dinamika proses psikologis dari seorang yang menganut pola pikir ekstrem-radikal yang ditandai dengan penghayatan kepada para ideolog seperti disebut di atas, atas masa keemasannya, membuat mereka ingin meniru pikiran, sikap dan kerja-kerja altruistiknya (dalam psikologi dikenal istilah imitasi). Termasuk keinginan meniru Nabi Muhammad SAW dengan sikap sesuai dalil (jika tidak ada dalil, maka tidak perlu dilakukan) dan jargon dalam kembali ke Al-Qur’an dan Hadis (Yudian Wahyudi, 2007). Sehingga, imitasi pada Nabi Muhammad titik ini hanya sebatas meniru secara eksplisit, bukan implisit, estetikatis, dan otentik. Ketika jualan dakwahnya ditolak, mereka akan memainkan dengan bungkus isu/peran sebagai “korban yang terzalimi”. Dengan begitu masyarakat/media menaruh simpati.

Maka, santri harus mengimbangi wacana itu dengan berbagai program dan konsep strategis secara koheren. Kalau kelompok ektrim membuat metode belajar beragama sepraktis mungkin dengan membuat software, DVD, tayangan Youtube, Tiktok, buku dan lain sebagainya, maka santri perlu memainkan peran juga di area sana, dengan konten-konten yang kontra narasi atau proyek moderasi Islam yang berlandasan (kearifan) kewarganegaraan. Anatomi, narasi, dan gerakan santri perlu melanjutkan perjuangan atau kalau perlu mereformasi apa yang telah dilakukan Kiai NU, Muhammadiyah dan para akademisnya.

Santri perlu melakukan perombakan besar dalam metode belajar dan melakukan perberdayaan atau penukangan masyarakat secara intelektual dan ekonomi sehingga tidak terpengaruh pada paham ekstrem atau melakukan ekstremisme. Serta bergerak menerapkan rehabilitasi dan intervensi psikologis terhadap pelaku ekstremitas terutama yang terkena kasus hukuman (eks napi teroris, seperti teman saya Reza, alumni ISIS Suriah), agar mereka bisa bergabung kembali dengan masyarakat dalam menjalankan agama yang humanis dan turut serta membangun peradaban bangsa. Jika hal demikian dapat dilakukan, santri bukan cuma bisa protektif, tapi juga produktif dan bahkan developmental. []

*Agus Wedi, Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Surakarta. Peminat kajian sosial dan keislaman. Pengelola Komunitas Serambi Kata Surakarta

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!