Jihad Melawan Teror Bukan Jihad Dengan Meneror

0
228

Sangkhalifah.co — Istilah jihad masih terus disalahpahami sebagian kelompok, tak terkecuali di Indonesia. Kampus ternama seperti Al-Azhar pada tahun 2014 menggelar Mukhtamar Internasional yang menyoal radikalisme dan terorisme. Artinya, ini istilah dan konsep penting di internal Islam. Penting dibahas dalam rangka meluruskan kesalahpahaman konsep “jihad” dan “qital”.

Muhammad Salim Abu ‘Ashi, Dekan Fakultas Dirasat Ilamiyyah Universitas Al-Azhar menegaskan bahwa “jihad dalam Islam adalah pohon yang dahannya dialog, ajakan secara bijaksana dan nasihat yang baik guna menyampaikan hakikat Islam yang benar kepada akal budi”. Disini poinnya, jihad perang itu dalam merangka menangkis agresi dari luar bukan untuk menghilangkan kekafiran. Artinya, yang diperangi adalah orang yang terlebih dahulu memerangi kita. Mengapa bukan untuk menghilangkan kekafiran, karena Qur’an secara tegas mengatakan, lâ ikrâha fî al-Dîn (tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam).

Makna ayat di atas telah jelas, yaitu tidak boleh ada pemaksaan dalam bentuk memeluk agama atau memerangi orang karena berbeda agama dengan kita. Sebab, tempat agama di dalam hati; tidak semata-mata urusan fisik. Ayat di atas selaras pula dengan firman Allah, lâ yukallifullâh nafsan illâ wus’ahâ (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya). Dalam Qur’an, salah satu ayat yang sering disalahpahami adalah:

فَإِذَا ٱنسَلَخَ ٱلۡأَشۡهُرُ ٱلۡحُرُمُ فَٱقۡتُلُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ حَيۡثُ وَجَدتُّمُوهُمۡ وَخُذُوهُمۡ وَٱحۡصُرُوهُمۡ وَٱقۡعُدُواْ لَهُمۡ كُلَّ مَرۡصَدٖۚ فَإِن تَابُواْ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ فَخَلُّواْ سَبِيلَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (Qs. Al-Taubah [9]: 5).

Ayat ini bukan justifikasi untuk membunuh orang kafir atau yang berbeda agama. Karena akan bertentangan dengan ayat berikutnya:

وَإِنۡ أَحَدٞ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٱسۡتَجَارَكَ فَأَجِرۡهُ حَتَّىٰ يَسۡمَعَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ أَبۡلِغۡهُ مَأۡمَنَهُۥۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡلَمُونَ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui” (Qs. Al-Taubah [9]: 6).

Kedua ayat di atas memiliki kesimpulan: tidak semua sesuatu yang kita perangi diperbolehkan untuk dibunuh. Dalam ayat keenam dinyatakan bahwa orang yang berbeda agama dan orang-orang musyrikin diperbolehkan untuk dilindungi dan dijaga—dalam Islam disebut hifdzu al-Nâs. Imam Syafii mengartikan al-Qitâl dengan “memerangi” bukan “membunuh” (al-Qatlu). Keduanya memiliki konsekuensi makna yang berbeda walau dari rahim kata yang sama.

Dalam sejarah kenabian (Nabi Muhammad), tidak pernah ada peristiwa yang terjadi dalam hidupnya, yang Nabi memulai menyerang. Prinsipnya, Nabi akan memerangi dan berjihad manakala Nabi diperangi. Misalnya Perang Mut’ah, peristiwa ini terjadi setelah lawan membunuh utusan Rasulullah (Harits bin Umair al-Zahdi). Selain itu, perang-perang seperti Tabuk dan Khaibar, dilakukan atas sepengetahuan Nabi karena ada indikasi jelas, yang intinya “jika tidak diperangi, mereka akan memerangi”.

Apakah perang-perang dan jihad dengan membunuh yang dilakukan oleh kelompok teroris seperti sejarah-sejarah di atas? Tidak. ISIS misalnya, mereka melakukan pembunuhan terlebih dahulu bukan diserang oleh kaum kuffâr atau musyrikîn terlebih dahulu. Dan seandainya ada juga, seharusnya peperangan dalam konteks menjaga diri bukan sepenuhnya menghabiskan secara keseluruhan. Begitu juga, bukan pula membuat maklumat perang seperti yang terjadi di awal tahun 2020, yang dilakukan teroris di Sulawesi Tengah via rekaman video.

Muslim sejatinya berjihad melawan teror bukan berjihad dengan melakukan aksi-aksi teror. Aksi-aksi teror dengan alasan apapun tidak mendapat legitimasi dalam ajaran Islam. Al-Qur’an dan hadis telah menyatakan dengan tegas bahwa terorisme adalah aksi pelanggaran hukum dan termasuk bagian dari perbuatan kufur. Sebab Allah sendiri dengan jelas menyatakan: Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (Qs. Al-Baqarah [2]: 190).

Perlawanan pun dalam Islam boleh dilakukan pada kondisi darurat dan itu sangat ketat; harus dalam koridor syar’i. Dalam Qur’an pun telah ditegaskan, “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” (Qs. Al-Fath [48]: 29). Perbedaan agama bukan menjadi sebab seseorang diperbolehkan untuk membunuh, lebih-lebih terhadap orang-orang yang tidak berdosa.

Perbuatan-perbuatan ISIS dan afiliasinya bertentangan hadis Nabi juga, yakni barang siapa yang mengacungkan senjata tajam kepada saudaranya maka malaikat akan melaknatnya sehingga ia berhenti (HR. Muslim). Terorisme yang dilarang dalam Islam karena sifatnya ifsad (merusak) dan faudha (anarkis; chaos). Sedangkan hakikat jihad bersifat islah (perbaikan) bukan pembunuhan.

Hukum melakukan aksi-aksi teror telah disepakati mayoritas kaum Muslimin dengan haram, baik dilakukan oleh perorangan, kelompok dan negara. Dengan begitu, maka turunannya seperti bom bunuh diri adalah haram karena bertentangan dengan ‘amaliyah al-Istisyhad; manusia yang seluruh hidupnya tertuju pada rahmat dan keridaan-Nya. Dan hukum haram melakukan bom bunuh diri disebabkan adanya tindakan al-Ya’su (keputus asaan) dan ihlak al-Nafs (mencelakakan diri sendiri); baik di negara damai (dar al-Sulh) maupun daerah konflik (dar al-Harb).

Kesimpulannya, yang perlu dilakukan oleh kaum Muslimin adalah jihad melawan teror bukan jihad dengan melakukan aksi-aksi teror. Ajaran agama sama sekali tidak membenarkan perbuatan-perbuatan ifsad (perusakan) dengan alasan apapun. Sebab, Nabi Muhammad diutus untuk menjadi penebar kasih sayang dan aktor damai. []

Leave a reply

error: Content is protected !!