Jihad Literasi Untuk Menjaga NKRI

0
115

Sangkhalifah.co — Di era pesatnya penyebaran informasi digital sekarang, ancaman terhadap keutuhan NKRI bisa bermula dari konten-konten negatif pemecahbelah. Pihak-pihak tak bertanggung jawab dengan berbagai motifnya memproduksi narasi provokasi dengan terus menajamkan perbedaan di tengah masyarakat. Baik itu perbedaan pemikiran, pandangan politik, keagamaan, hingga perbedaan identitas primordial.

Kelompok ekstremis dan radikalisme agama misalnya, tak berhenti menyebarkan paham-paham dan ideologi radikal intoleran di dunia maya. Di sini, kalangan milenial sebagai pengguna internet terbanyak menjadi sasaran mereka dalam menyebarkan konten radikal.

Survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Alvara Strategi Indonesia, The Nusa Institute, Nasaruddin Umar Office, dan Litbang Kemenag pada tahun 2020 menunjukkan bahwa terjadi radikalisasi generasi muda dan netizen, di mana indeks potensi radikalisme pada generasi Z mencapai 12,7 persen, generasi milenial mencapai 12,4 persen, dan generasi X mencapai 11,7 persen (antaranews.com,17/12/2020).

Meningkatnya potensi radikalisme di kalangan netizen generasi muda tak bisa dilepaskan dari makin banyaknya orang mencari informasi atau konten keagamaan di internet. Hal ini disadari betul oleh kelompok radikalis-ekstremisme agama, sehingga mereka getol menebar narasi dan paham radikal di dunia maya. Bahkan, mereka sampai melakukan rekruitmen secara online melalui media sosial.

Konten radikal, bermuatan provokasi, hate speech, dan berbagai bentuk konten negatif lainnya semakin menjamur di dunia maya karena tingkat literasi masyarakat masih lemah. Literasi yang lemah membuat masyarakat tak memiliki sikap kritis dan nalar jernih, sehingga mudah diprovokasi berbagai bentuk informasi negatif, termasuk saat mencari konten-konten keagamaan.

Literasi yang lemah membuat orang terlalu mudah percaya pada informasi apa pun, sehingga mudah membagikan (share) ke saluran-saluran media sosial mereka. Apalagi untuk konten radikal keagamaan yang kerap membawa-bawa nama agama, cenderung membuat masyarakat Indonesia—yang karakteristiknya memegang teguh ajaran agama—gampang terjerumus.

Pada gilirannya, banyak masyarakat terjerumus dalam emosi, curiga, dan kebencian pada sesama. Akibatnya, bisa kita lihat dalam beberapa tahun terakhir ini. Selain muncul pemuda-pemuda terpapar paham radikal hingga menjadi teroris, betapa mudah muncul keributan, pertikaian, yang aksi-aksi intoleran yang bermula dari dunia maya.

Jihad Literasi

Melihat kondisi tersebut, tak ada pilihan lain bagi kita kecuali berjuang atau berjihad membangun budaya literasi di masyarakat. Masyarakat kita sudah cukup jauh tertinggal dalam hal literasi ini dibanding negara-negara lain. Survei-survei menunjukkan negara kita masih berada barisan terbawah dalam hal literasi.

Maka, salah satu perjuangan atau jihad penting di era digital sekarang ini adalah menumbuhkan dan membangun budaya literasi di masyarakat. Sebab ini menjadi salah satu faktor penting terciptanya keharmonisan, persatuan, dan keutuhan bangsa, maka jihad literasi ini bisa kita maknai sebagai bagian dari jihad menjaga NKRI.

Berjihad di jalan literasi memang bukan hal mudah. Apalagi, era digital membawa banjir informasi secara instan semakin membuat banyak orang malas belajar menelaah dan menganalisis bahan bacaan. Tanpa terkecuali ketika mencari informasi keagamaan. Padahal kita tahu, belajar agama harus bersama pendamping dengan keilmuan mumpuni.

Mulai Dari Diri Sendiri

Upaya pemerintah dalam membangun budaya literasi pada lebih dari 260 juta masyarakat Indonesia tentu tak mudah. Terlebih, dengan akses, tingkat pendidikan, sarana, serta karakteristik masyarakat yang berbeda-beda. Meski begitu, kerja membangun budaya literasi tak boleh disepelekan, sebab ini adalah kunci membangun masyarakat cerdas dan kritis di era digital, sehingga tak mudah diprovokasi oleh berbagai bentuk konten negatif, termasuk konten radikal.

Menurut penulis, yang paling penting pertama adalah bagaimana kita memulainya dari diri masing-masing. Ini tentang bagaimana upaya kita sebagai individu dalam membiasakan membaca, terus memperluas dan memperdalam wawasan, sehingga kita memiliki sudut pandang lebih luas dan terbuka dalam menilai dan memaknai segala sesuatu.

Setidaknya, dengan memulai dari diri sendiri, kita bisa membentengi diri agar tidak terjerumus dalam kubangan konten negatif atau konten radikal. Kita harus membekali diri kita dengan dasar-dasar penting tentang bagaimana memilah, memilih, serta menyaring informasi, sehingga kita tidak menjadi korban atau menjadi bagian dari penyebar konten radikal, hoaks, dan konten negatif lainnya.

Jihad literasi mesti dilakukan bertahap. Jika secara pribadi kita sudah memiliki dasar-dasar dan kesadaran literasi tersebut, baru kemudian kita bisa menularkannya di lingkungan sekitar masing-masing. Jika kita merupakan orangtua, kita bisa menumbuhkan budaya literasi pada anak-anak kita. Misalnya, mula-mula dengan membangun kebiasaan membaca buku, majalah, surat kabar, dan sebagainya di lingkungan keluarga.

Dari sana, orangtua bisa memandu anak tentang bagaimana memahami sumber-sumber bacaan: membawa, menyerap informasi, dan bahkan melakukan analisis sederhana untuk menemukan kesimpulan atau bahkan membangun gagasan baru. Peran seperti ini tentu sulit dilakukan jika kita sendiri sebagai orangtua tak memiliki kegemaran membaca atau menunjukkan keteladanan dalam hal budaya membaca.

Jihad di jalan literasi memang tidak mudah. Buku, majalah, surat kabar, dan berbagai bahan bacaan kini seolah menjadi barang yang terkesaan “kuno” di tengah gemerlap era digital dan media sosial. Namun, ini adalah fondasi awal penting yang harus sama-sama kita perjuangkan dan kita bangun demi melahirkan generasi bangsa yang cerdas, yang tak gampang terprovokasi konten negatif, konten radikal, dan konten-konten pemecahbelah persatuan. [Al Mahfud]

Leave a reply

error: Content is protected !!