Jihad; Bukan Peperangan dan Tindakan Brutal

0
256

Sangkhalifah.co — Gejala radikalisme tidak pernah berhenti. Antara Islam dan radikalisme kian waktu kian menguat, mengingat banyaknya aksi dan tindakan radikalisme dan terorisme di dunia. Dimulai dari peristiwa 9 September 2001 di Washington DC dengan penyerangan World Trade Center, diikuti dengan aksi bom bunuh diri di berbagai tempat, seperti bom Bali I, bom Bali II, hingga aksi-aksi kekerasan lainnya.

Salah satu ajaran yang selalu disalahpahami oleh kelompok teroris adalah jihad. Atas nama jihad kemudian mereka melakukan tindakan kekerasan, bahkan membunuh orang-orang yang hanya karena beda paham dan keyakinan. Jihad selalu dimaknai sebagai tindakan melawan hal-hal yang bertentangan dengan Islam, dan seringkali hanya memenangkan pemahaman versinya sendiri. Padahal, jihad tidak identik dengan perang. Jihad dalam Islam bermakna tindakan menjaga dan mempertahankan diri, bukan memulai memerangi musuh. Jihad juga tidak identik dengan qital, sebagaimana disalahpahami kelompok radikal. Ayat-ayat jihad beda dengan ayat-ayat qital. Jika ayat-ayat jihad turun di Makkah, dan menjadi dasar teologis umat Islam. Sementara qital baruu turun saat nabi Muhammad berada di Madinah.

Sayyed Hosen Nashr menyebutkan bahwa dari 36 ayat Al-Qur’an soal jihad, terdapat kurang dari 10 ayat yang membahas peperangan. Selebihnya, jihad dimaknai sebagai sikap dan tindakan mengerahkan jiwa dan raga untuk membuat kemaslahatan, kemuliaan dan keadilan di muka bumi. Apa yang dipahami dan dilakukan gerakan ekstremisme dan terorisme dengan memaknai jihad sebagai peperangan adalah tindakan yang gegabah, tidak mendasar.

Pembahasan jihad di dalam Al-Qur’an selalu bermuara pada tujuan as-salam, as-salamah, al-sulh, dan al-ihsan; tujuan untuk kedamaian, perdamaian, dan perbaikan. Jihad tidak ada satupun yang bermakna tindakan kekerasan dan perilaku brutal seperti ISIS. Misalnya dalam QS. Al-Maidah [5]: 35 terdapat hakikat jihad yang berorientasi untuk mewujudkan kemaslahatan yang luas di muka bumi. Jihad tidak ada yang bermakna merusak fasilitas umum, membunuh perempuan, anak-anak, dan orang yang tak berdosa lainnya.

Kemudian di dalam QS. Al-Baqarah ayat 218, juga dijelaskan tentang prakondisi yang harus dilakukan oleh orang yang akan melakukan jihad. Bahwa, sebelum melakukan jihad seseorang harus berhijrah terlebih dahulu, yaitu berhijrah menghindari pemikiran, emosi, amarah, tindakan, dan sifat yang justru bertentangan dengan Al-Qur’an. Di antara sifat-sifat itu ialah egoisme keagamaan yang mengatasnamakan agama untuk melakukan kekerasan atas nama jihad.

Selain itu di dalam QS. Al-Baqarah ayat 95 juga dijelaskan tentang hal yang perlu dilakukan oleh orang yang jihad, yaitu mendermakan harta dan jiwanya. Ini artinya, jihad pada dasarnya dapat dilakukan dengan memberikan zakat, sedekah, infak, wakaf dan santunan kepada anak-anak Yatim.

Akhirnya dapat disimpulkan, makna jihad bukanlah peperangan saja. Jihad dapat bermakna luas, bahkan dapat ditujukan kepada segala bentuk kebaikan yang dilakukan oleh umat Islam dengan cara sungguh-sungguh. Paling tidak, jihad dapat dimaknai menjaga hawa nafsu agar tidak terjerumus kepada tindakan yang berlawanan dengan agama. Sehingga hemat penulis, sesungguhnya setiap muslim adalah mujahid, yang mengerjakan segala sesuatu kebaikan dengan cara sungguh-sungguh. Dengan begitu, jihad akan kembali kepada makna hakiki ya, yaitu untuk tujuan kehidupan masa depan, bukan mematikan. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!