Jalan Tuhan Perspektif ISIS dan Pengabaian Kerahmatan Islam

2
378

Sangkhalifah.co — Mosaik Islam dan tradisi perkembangannya, sejak awal sudah memberikan seruan kepada Muslim bahwa teks yang bisa dijadikan panduan dalam beragama dan bernegara tidak saja terbatas pada dua sumber kitab primer; Al-Qur’an dan sunnah. Alam raya adalah teks, prilaku kenabian adalah teks, dan lainnya. Semuanya terdapat relasi dialogis antara subyek (seorang Muslim), teks al-Qur’an, tradisi kenabian dan realitas alam raya dengan hukum-hukum. Sebab itulah, para ulama mengatakan bahwa sejak awal Islam datang untuk melakukan dekonstruksi radikal terhadap diskursus jahiliyah dan perbuatan-perbuatan yang menjauhkan wujud rahmat-Nya.

Setiap Muslim memiliki bobot dalam mencerna dan menganalisa teks di alam raya ini. Sebab itulah, realitas differential aspiration tidaklah tunggal; ada yang menjadikannya sebagai way of life dan tetap berada di “jalan Tuhan” dengan menebar kerahmatan, kedamaian, dan memberikan pencerahan kepada segenap elemen. Dan ada pula yang menjadikan teks itu sebagai aspirasi politisnya, yang kemudian melahirkan kebengisan tanpa beban dosa di pundaknya sampai misi politisnya terwujud dengan sempurna. Nyawa bukan menjadi soal bagi mereka. Sebab bai’ah telah diutarakan dengan segenap jiwanya dan sumpah prajurit—dalam bahasanya Kartosuwirjo, pemimpin gerakan Darul Islam, disebut sapta subbayah.

Kesamaan dari semua gerakan radikalis, ekstrimis dan teroris adalah memandang “ibadah”. Ibadah sudah terjadi transformasi dari makna ibadah dalam satu kesatuan kalimat Tuhan, berpindah menuju persatuan umat yang kokoh secara politis. Maksudnya, ibadah dalam agama yang semula sebagai sebuah ritual dan wadah memperbaiki diri berubah menjadi aktivitas politik; dengan mengabaikan prinsip etika transendental dan keselamatan jiwa orang lain.

Mengapa? Diawali oleh motto beragama yang salah dan menafsirkan motto secara tekstual (tanpa dukungan sosial-politik, asbabun nuzul, ijma’ dan perkataan sahabat atau juga dukungan sejarah di mana penafsir itu hidup). Motto kaum radikalis, ekstrimis dan teroris adalah “sungguh orang-orang yang berjanji setia (ba’iah) kepada kamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah”(Qs. al-Fath [48]: 10) dan “sungguh Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga mereka. Mereka berperang pada jalan Allah” (Qs. al-Taubah [9]: 111). Kemudian juga dalam realitas gerakannya didukung oleh perkataan Umar bin Khattab—yang sudah mengalami tafsiran politis—yakni: lâ Islâna illâ bi-jamâ’atin wa lâ jamâ’ata illâ bi imârati wa lâ imârata illâ bi thâ’atin (tidak ada Islam kecuali dengan jamaah; tidak ada jamaah kecuali dengan kepemimpinan; dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan).

Dari ketiganya kita bisa melihat, dasar ucapan mereka “ini adalah keutamaan Allah ketika kita berada di jalan Tuhan”—di saat mereka menembaki orang-orang yang dianggap musuhnya; tidak saja non-Muslim tapi juga Muslim yang tidak sehaluan—berasal dari tafsiran kata “fî sabîlillâh” (di jalan Tuhan). Dari sini akan berakibat pada konsep bai’ah (sumpah prajurit) yang dilakukan ketika sudah dianggap oleh petingginya sebagai relawan Allah; baik penafsiran dan tindakan. Transformasi bai’ah dalam tindakan disebabkan penafsiran: jika mengorbankan nyawa di medan perang—seperti yang kerap mereka lakukan—maka akan diberikan kenikmatan di surga kelak dan mereka menganggap bahwa itu tergolong mati syahid. Sebagai dukungan tindakannya, mereka menjadikan Qs. al-Taubah [9]: 111 sebagai argumentasinya, yang secara sederhana, “Tuhan pasti mengganti dengan kenikmatan jika nyawa telah diberikan di jalan Tuhan”; yang dalam Qur’an biasa terjadi pada konteks jual beli: “jual beli adalah penukaran harta dengan harta lainnya”.

Pertukaran nyawa dengan kenikmatan (dalam anggapan mereka) tidak bisa dilepaskan juga dari tafsiran politis terhadap konsep “hijrah Nabi”. Penafsiran ISISmisalnya, sama seperti yang ditafsirkan oleh Kartosuwirjo. “Sjahdan, maka Hidjrah itoe adalah salah satoe perboeatan nabi yang sangat penting; penting, karena sesoedah hidjrah kaoem Moeslimin hidoep di zaman baroe, zaman jang yang terang-tjoeatja, karena sorotnja noer Ilahy ke tanah Madinah”. Demikian kurang lebih ungkapannya (jika tidak lupa).

Perpindahan pandangan makna hijrah dari “momentum kesejarahan” menjadi “sikap dan aktivitas politik” ini menyebabkan tindakan-tindakan berikutnya pun menjadi politis. Salah satu yang berakibat fatal adalah ucapan-ucapan semisal “musuh Allah”. Ucapan ini bukan sebab faktor kebodohan pribadi (IQ-nya yang rendah), melainkan konsekuensi dari keyakinan dan sumpah prajurit yang selalu ditanamkan para petinggi mereka. Sumpah semisal ini pula melanda gerakan politik seperti Hizbut Tahrir Indonesia, yang didirikan Taqiyuddin al-Nabhani.

Dari tiga motto di atas itu juga bisa menjadi dasar kita melihat pernyataan dalam sebuah video saat terjadi pemberangkatan pasukan Mujahidin ketika ingin menggempur pos taktis milisi Rafidhah di Barat Daya, Tal Afar. Seruan dalam video tersebut secara jelas dinyatakan:

“Majulah menuju Rabb kalian dengan keyakinan. Jangan kalian tertipu dengan sedikitnya para penemupuh jalan ini. Jangan sampai syubhat para pengembos mengendorkan tekad kalian. Dan jangan otot kalian melemah akibat kedengkiannya. Pasar Jihad masih senantiasa terbuka. Tawaran Rabb kita tabaraka wata’ala masih terus berlaku. Barang dagangan al-Rahman tidaklah murah. Sehingga bisa ditawar oleh orang-orang merugi. Perdagangan dengan-Nya tidak akan bangkrut oleh sehingga bisa didapatkan para pengangguran.”

Pernyataan ini merupakan kompilasi doktrin Abu Ibrahim al-Hashimi al-Quraishi, yang dinobatkan sebagai “khalifah” yang menggantikan peran Abu Bakar al-Baghdadi, sebagaimana yang dikatakan oleh juru bicara baru ISIS, Abu Hamza al-Qarashi yang menggantikan juru bicara lama, Abu Hasan al-Muhajir.

Keyakinan perang sebagai “jalan Tuhan” terbaik sejatinya merupakan bentuk pengabaian dari prinsi agama: “kerahmatan Islam”. Tentang “keramhatan Islam” ini telah diserukan oleh Jamal Badawi, Yusuf al-Qaradhawi, Ali Jum’ah dan ulama-ulama lainnya ketika usai mengirim surat kepada Abu Bakar al-Baghdadi. Kritikan-kritikan itu telah dibahas oleh Ella Landau-Tasseron dalam Delegitimizing ISIS on Islamic Grounds: Criticism of Abu Bakar al-Baghdadi by Muslim Scholars (Middle East Media Research Institute, 19 November 2015).

Dalam Islam, yang dimaksud “jalan Tuhan” bukanlah berada di medan perang. Jalan Tuhan didasarkan atas dasar membangun dasar kebaikan bersama bukan atas dasar kekerasan dan pembunuhan. Inilah dasar utama ketika seorang Muslim berbicara soal hukum Islam. Jangan sampai bertabrakan dengan misi Nabi Muhammad SAW, yakni “Dan tidaklah Kami (Allah) mengutus kamu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat untuk semesta alam” (Qs. al-Anbiyâ’ [21]: 107). Yang oleh Ibnu Katsir ditafsirkan dengan:

يُخْبِرُ تَعَالَى أَنَّ اللَّهَ جَعَلَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ أَيْ أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لَهُمْ كُلِّهِمْ فَمَنْ قَبِلَ هَذِهِ الرَّحْمَةَ وَشَكَرَ هَذِهِ النِّعْمَةَ سَعِدَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ رَدَّهَا وَجَحَدَهَا خَسِرَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Allah Ta’ala mengambarkan, sesungguhnya Allah telah menjadikan Muhammad SAW sebagai rahmat (kasih sayang) bagi semesta alam. Artinya, Dia (Allah) telah mengutusnya sebagai rahmat bagi mereka semuanya. Maka barang siapa yang menerima rahmat ini dan bersyukur terhadap nikmat ini, dia akan berbahagia di dunia dan akhirat. Dan siapa yang menolak dan menentangnya, dia akan merugi di dunia dan akhirat.”

Dengan demikian, anggapan “jalan Tuhan” hanyalah ada di medan perang telah melanggar misi kenabian itu sendiri; menebar kasih sayang, tidak saja kepada sesama Muslim, tapi juga non-Muslim. Dasar kasih sayang ini telah dicontohkan oleh Nabi ketika di Madinah saat membangun hubungan antar agama dan suku-suku yang ada. Dari hubungan ini terciptalah kerahmatan dan kedamaian serta pertaubatan banyak tercipta tanpa harus mengorbankan darah orang lain. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!