Jalan (Panjang) Memutus Ektremisme

2
540

Sangkhalifah.co — Aksi-aksi ekstremisme di Indonesia, meski telah diberantas dengan berbagai macam cara, tampaknya masih belum maksimal. Tiba-tiba, ketika situasi dan kondisi adem ayem, publik dikejutkan dengan aksi-aksi mereka yang bahkan dilakukan ditempat tak terduga sama sekali, seperti peledakan bom dikantor polisi atau pembacokan ditempat umum.

Pertanyaannya mengapa sikap radikalisme tidak pernah terkikis habis dari dunia dan bumi Indonesia? faktor-faktor apa yang mendorong sikap radikalisme dan mengapa mereka terjerumus masuk pada kelompok-kelompok ektrems, bahkan kian hari tambah banyak?

Gejala Ekstremisme

Sejumlah pernyataan tentang adanya ekstremisme, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi mengklaim sudah mengantongi data-data pegawai negeri yang terpapar ekstremisme. Dan Kementerian Pertahanan menyatakan 23,4 persen mahasiswa terpapar radikalisme. Begitu pula Setara Institute menyatakan, sepuluh perguruan tinggi (PTN) sudah terpapar radikalisme. Di antaranya adalah UI, ITB, UGM, UNY, UIN Jakarta, UIN Bandung, IPB, Universitas Brawijaya, Universitas Mataram, dan Universitas Airlangga. Di beberapa institur kementerian seperti TNI dan polisi juga terpapar radikalisme (Kompas, 20/11/2019).

Sebelumnya, Mantan Kepala BNPT, Komjen Suhardi Alius menegaskan bahwa media onlinedijadikan sarana untuk menyebarluaskan paham radikal, merekrut, serta kaderisasi anggota kelompok teroris, dan media online dijadikan alat komunikasi mereka (Kompas,15/5/2019). Bahkan, Kementerian Komunikasi dan Informasi menyebutkan, sepanjang 2018, hampir 500 situs web radikal diblokir. Ironisnya, “patah satu tumbuh seribu”, situs web baru mereka bermunculan (Kompas, 17/5/2019).

Brouce Hoffman (2006), pengamat terorisme internasional mencatat dampak kemajuan teknologi komunikasi dan informasi juga menyebabkan tersebarnya paham radikalisme-terorisme sejak pertengahan 1990-an. Internet dimanfaatkan sebagai media yang efektif, cepat, murah, dan relatif aman untuk menyebarluaskan informasi dan ideologi. Jelas bahwa media online disini dapat memberikan keuntungan bagi kelompok teroris dan ekstremisme. Ada tiga keuntungan menurut Angel Damayanti.

Pertama, media daring dapat dijadikan sebagai sarana untuk menunjukkan eksistensi. Semua informasi, terkait program kerja, ide dan aktivitas mereka dapat ditampilkan sehingga dapat menggalang dukungan masif dari luar. Kedua, sebagai alat propaganda dan perekrutan. Media daring dapat memicu munculnya self-radicalization, tempat orang-orang baru belajar agama mencari informasi tentang agama dilaman daring dan tertarik pada materi-materi radikal. Ketiga, media daring sebagai rantai komando, kontrol, sekaligus distribusi informasi secara internal untuk anggota dan pendukungnya atau mencari sasaran pada yang baru dan awam (Kompas, 27/5/2019).

Fakta yang menarik ditulis oleh Noor Huda Ismail. Bahwa kelompok ekstrem yang pertama kali berhasil memanfaatkan media daring secara luas untuk kepentingan mereka adalah Zapatistas National Liberation Army (EZLN) dari Chiapas. Organisasi ini dianggap pemberontak oleh Presiden Meksiko, Ernasto Zedillo. Keberhasilan EZLN ini, kemudian diikuti oleh kelompok Macan Tamil (Sri Lanka) yang mengoperasikan sejumlah situs, seperti TamilNet.com dan www.eelam.net, www.eelamweb.com, www.camtam.com, dan www.canadatamil.net. Jaringan ini dioperasikan dari luar Sri Lanka, yaitu Inggris, Norwegia, Kanada, dan Australia. Jaringan ini berhasil mengumpulkan dan memobilisasi dukungan dari 450.0000 anggota kelompok Macan Tamil di sejumlah negara. Kemudian, organisasi teroris yang lebih modern, seperti Hezbollah, Lashkar-e-Taiba, Al-Qaeda, dan Islamic State (IS), memiliki situs dalam berbagai macam bahasa: Inggris, Prancis, Arab, dan Indonesia. Situs-situs inilah yang menjadi rujukan bagi para teroris dalam mempelajari agama dan pencarian jati diri (Kompas, 16/5/2019).

Jadi, ketika dunia maya dijadikan pencarian jati diri dan ajaran agama, maka saat itulah kelompok ekstrem memanfaatkan peluang untuk memamaparkan ideologi atau pemahamannya. Sesuai contoh di atas ini sangat efektif hasilnya. Contoh lain misalnya, peledakan bom pada empat kereta api di tiga stasiun Madrid, Spanyol, 11 Maret 2004, yang menewaskan 191 orang, 2.000 cedera, ini dilakukan oleh mahasiswa yang belajar merakit bom lewat internet secara autodidak dan mandiri. Di Indonesia, juga ada nama Ivan Armadi Hasugin (18) pelaku rencana peledakan bom di Gereja Santo Joseph, Medan (28/8/2016), Sultan Ahimzyah (22) penyerangan terhadap polisi di Tanggerang (20/10/2016), dan Haft Saiful Rasul, bocah usia 13 tahun asal Bogor harus tewas saat perang di Suriah dalam memperjuangkan tegaknya Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).

Fenomena itu membuktikan bahwa generasi milenial yang mencari jati diri dan agama tersebut telah dimanfaatkan sebagai aset berharga, dijadikan senjata pembunuh paling efektif-kreatif tapi murah oleh kelompok radikal. Generasi anak muda ini sekilas masih terlihat konvesional. Mereka tidak bisa membedakan kenyataan dan imajinasi. Kendati, seperti dikatakan Yusuf Qordhawi dalam Islam Jalan Tengah (2017) rentannya keremajaan dalam pemahaman agama yang rendah dan keliru, mendorong banyak anak muda bahkan orang tua tidak lagi berfikir rasional dan logis. Mereka melebih-lebihkan dalam pengharaman agama serta terbius ayat-ayat suci agama yang menjanjikan surga bisa dicapai lewat jalan pintas yang dianggap mulia: bom jihad bunuh diri.

Faktor Ekstremisme

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa mereka mau melakukan tindakan radikal? Apakah hanya karena terpapar situs dan terlalu dekat dengan media sosial? Apa faktor yang mendorong atau memotivasi masuk dan melakukan radikalisme. Atau ada faktor-faktor lain yang mendorong mereka mengambil peran ini?

Analisis Noorhaidi Hasan dalam Laskar Jihad: Islam, Militansi, dan Pencarian Identitas di Indonesia Pasca-Orde Baru (2008), menyebut selain melakukan penyebaran paham wahabisme lewat jalan-jalan dakwah, mereka juga berupaya menebalkan identitasnya dipanggung politik. Dan dalam Literatur Keislaman Generasi Milenila: Tranmisi, Apropriasi, Kontestasi (2018), mengatakan banyak pemuda salah memilih literatur bacaan. Ini terlihat persamaiannya dikalangan pelajar dan mahasiswa. Ideologi ekstrem menyusup melalui buku-buku dan bacaan agama yang merujuk pada karya ideolog utama seperti Hasan al-Banna, Abul A’la al-Maududi, Sayyid Qutb, Taqiy al-Nabhani, Ali Syariati, ‘Abd al-Aziz bin Baz, Muhammad Salih al-Uthaimin dan Sayyid Qutb. Menurut Hasan mereka ini terobsesi ingin mendirikan negara Islam dan masyarakat ideal tanpa kelas.

Literatur tersebut biasanya tersebar dan menjadi bacaan di kalangan LDK, Rohis, gerakan organisasi Islam, partai politik, dan organisasi pendukung lainnya, buku-buku tersebut bukan saja menawarkan gagasan ideologi, tapi juga mengklaim identitas dan otentisitas dalam beragama, karena memiliki rujukan terhadap sumber-sumber utama agama yang dianggap sahih, puncaknya adalah membangun garis damarkasi yaitu bid’ah, syirik, kafir, dan oleh sebab itu layak dibunuh atau diperangi.

Berbeda dengan di atas, Deta Alia menyebut gerakan ekstremisme menyeruak bukan karena faktor ideologi tunggal agama. Tetapi karena mereka kecewa terhadap penyelenggara negara demokrasi ini, kemiskinan tambah akut, korupsi yang merajalela, adalah faktor pendorong mereka memilih “jalan lain” yang dianggap bisa mengubah Indonesia menjadi lebih baik (Kompas,17/5/2018).

Tidak ada peristiwa datang secara tiba-tiba. Ada simbol, gejala, yang bisa dibaca. Segala bentuk kegaduhan yang menguras bangsa ini, baik yang mewujud dalam sikap intoleransi, ekstremisme, maupun terorisme adalah gejala yang bisa dilihat dan terasa. Negara-bangsa yang tengah dimabuk pesta demokrasi dan euforia politik ini semakin kehilangan kepekaan, terhadap ancaman agama, pendidikan, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Bahkan, terhadap ancaman gerakan ekstremisme generasi milenial yang terus berevolusi. Maka tak heran jika kondisi yang sesungguhnya sudah darurat, tetapi oleh para eliet negara cenderung masih di sepelekan, diremehkan.

Ahli sosial Peter Baehr dalam bukunya The “Masses” in Hannah Arendt’s Theory of Tatlitaranism (2017), menguraikan bahwa jika negara berada dalam kondisi anomali, hanya penegak hukum—dalam arti sebenar-benarnya—dan ketegasan pemimpin yang diperlukan. Banyaknya rakyat yang bergabung dalam kelompok radikal, adalah potret lemahnya hukum dan tidak tegasnya pemimpin.

Ancaman semakin nyata. Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita berfikir kritis dan mendalam dalam mencari-mengambil pemahaman dari apa pun (media daring maupun luring) dan siapapun termasuk dalam memilih-pembacaan literatur kesilaman. Semestinya juga menjadi kewajiban untuk mendorong pemerintah untuk melakukan pencegahan (kalau memang ada dan nyata dan terbukti) terhadap pelaku ektremisme secara tegas, adil, dan terbuka.

Dengan adanya fenomena di atas sebaiknya kita berkomitmen meninggalkan kebiasaan syiar permusuhan dan menyadarkan pemahaman yang menyimpang di lingkungan sekitar lewat pendekatan kultural humanis, dialogis, dan santun secara holistik dan terus menerus. Sehingga menjadi rahmat bagi semesta. Kendati yang dibutuhkan pada masa kini adalah memperkuat teknologi siber yang kuat, bermuatan situs-situs pencerah dan mengembangkan sebuah program yang mengarah pada penyadaran filosofi bangsa-agama, meningkatkan rasa kebangsaan-keberagaman dan terhadap perbedaan. Tetapi kalau tidak bisa itu, menjauhlah dari sikap permusuhan. []

*Agus Wedi, Pengelola Komunitas Serambi Kata Surakarta

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!