Jalan Damai Israel Palestina

1
609

Sangkhalifah.co — Mantan Presiden Mesir, Anwar Sadat, pernah berseloroh dengan nada yang cukup menukik. Bahwa orang Arab hanya bisa bersatu untuk dua perkara; Pertama soal melawan Israel, kedua soal mencintai Umi Kulsum. Namun belakangan, kayaknya untuk dua perkara ini pun, Arab terbelah. Penyanyi idolanya sudah bergeser ke Nancy Ajram, dan ihwal melawan Israel pun, pada melempem.

Padahal eskalasi konflik di tanah para anbiya tersebut sedang memanas. Per kemarin, setidaknya ada tiga gedung di Kota Gaza roboh luluh lantak oleh serangan Rudal Israel; Hanadi Tower, Shorouq Tower, dan Al Joharo Building. Sebuah peristiwa yang merenggut setidaknya 130an korban jiwa, dan ratusan lainnya luka-luka. Dan mereka adalah rakyat sipil, termasuk ibu-ibu dan anak-anak.

Sementara negara-negara Arab yang diharapkan berada di garda depan menjadi para pembela Palestina secara diplomatik, justru satu per satu melakukan normalisasi hubungan dengan Israel. Mulai dari Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan juga Maroko. Fakta ini seolah membenarkan tesis seorang Pakar Politik Internasional, Raymond Hinebush, yang menulis buku The International Politics of Middle East. Ia mengatakan bahwa negara-negara Arab itu memang aslinya tidak independen, dan cenderung bergantung kepada Core State/Negara Inti, atau negara besar. Disini lah titik bocornya solidaritas Arab untuk Palestina.

Sejumlah negara juga beralasan, atau terkesan menunjukkan keraguan untuk memberikan pembelaan kepada Palestina, dengan mengacu pada argumentasi bahwa mereka harus menjaga National Interest/Kepentingan Nasional. Seolah-olah, membela Palestina akan berujung pada terganggunya seluruh kepentingan nasional negara mereka. Sebuah prinsip ultra pragmatis yang pada akhirnya mengorbankan solidaritas, ukhuwah, dan juga kemanusiaan.

Padahal jika kita telaah lebih dalam, National Interest itu ada yang Tangible (nyata) dan ada pula yang Intangible, abstrak. Yang tangible tentu lah sesuatu yang kalkulatif dan bisa diukur. Misalnya kepentingan ekonomi dan aliansi politik. Sedangkan yang intangible, abstrak, adalah value and spirit, nilai dan semangat. Nah, membela Palestina ini sejatinya adalah perjuangan nilai. Tentang keadilan, kemanusiaan, dan persaudaraan.

Konstruktivisme juga, salah satu teori populer dalam Ilmu Hubungan Internasional, memandang bahwa kebijakan luar negeri itu faktornya jangan hanya yang bersifat materil. Ada faktor nilai, idealisme, identitas, sejarah, dan kesamaan asal usul. Kita dan Palestina ini jelas bersaudara, karena punya nilai yang sama dalam banyak hal. Baik dalam hal keislaman, dan juga nasib yang sama sebagai negara yang pernah berada di bawah belenggu penjajahan.

Apalagi kita pasti masih ingat, bahwa Palestina adalah salah satu negara yang paling dulu mengakui kemerdekaan Indonesia. Makanya tanpa ragu, di depan sidang umum PBB, Presiden Jokowi pernah bercerita tentang Bung Karno dan Konferensi Asia Afrika. Bahwa satu satunya negara yang hadir di Konferensi Asia Afrika di Bandung dan belum merasakan udara segar kemerdekaan, adalah Palestina. Padahal salah satu resolusi yang dihasilkan Dasasila Bandung adalah mewujudkan negara-negara merdeka.

Oleh karena itu, Indonesia konsisten untuk berdiri bersama Palestina. Sejak 2012, Indonesia juga mengakui eksistensi Palestina sebagai negara observer (peninjau) di PBB. Kita mengecam segala tindak kekerasan yang menimpa sodara kita di Palestina. Sebab, pengusiran dan tindakan kekerasan tersebut jelas bertentangan dengan berbagai resolusi di PBB, Hukum Humaniter Internasional, dan juga Konvensi Jenewa.

Hanya saja, kita sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar, harus selangkah lebih maju untuk menawarkan resolusi damai Israel-Palestina. Menkondisikan sebuah inisiasi dialog yang heart to heart antar kedua belah pihak untuk mencari sebuah resolusi damai yang permanen.

Skema Two State Solution (Solusi Dua Negara) sejatinya adalah pintu masuk untuk menuju ke arah sana. Akan tetapi selama ini kerap diperkeruh oleh situasi domestik masing-masing negara yang mudah disulut konflik. Baik dari sisi Israel maupun Palestina sendiri. Selogan “Setiap tanah adalah Gaza dan setiap hari adalah Intifada”, justru akan membuat kemarahan semakin mengkristal. Mengobarkan api permusuhan yang pada akhirnya kita semua sudah paham ujungnya; menang jadi arang, kalah jadi abu. []

*Khairi Fuady, Mahasiswa Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Paramadina

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!