Islamophobia, Terorisme, dan Wajah Islam yang Hakiki

0
66

Sangkhalifah.co — Islamophobia adalah istilah yang mengarah kepada kebencian terhadap Islam. Pada perkembangannya, Islamophobia tak sekadar sikap benci kepada segelintir umat Islam (yang melakukan teror), tetapi juga kepada institusi agama Islam dan ajarannya. Islamophobia berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, karena bisa menimbulkan sikap kecurigaan sebagian kelompok umat beragama kepada umat beragama yang lain.

Dalam hal ini kecurigaan umat non Islam kepada para pemeluk agama Islam. Lebih berbahaya lagi, Islamphobia berdampak buruk kepada ajaran agama yang merupakan wahyu Ilahi. Ajaran Islam dituduh sebagai ajaran kekerasan dan penuh dengan kebencian.

Pada sejarahnya, Islamophobia muncul pasca tragedi 9/11 di Gedung World Trade Center Amerika Serikat. Peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh kelompok teror Al-Qaeda pimpinan Osamah Bin Laden ini membawa duka besar, bukan saja bagi masyarakat Amerika, tetapi juga umat Islam secara keseluruhan. Kejadian tidak manusiawi ini menimbulkan persepsi, bahkan keyakinan, kepada masyarakat dunia, bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk membunuh orang lain yang tak sepaham dan tidak seagama. Islam mengafirmasi tindakan teror kepada orang yang tidak memeluk agama Islam.

Terciptanya persepsi masyarakat dunia akan adanya Islam teror pasca tragedi WTC ini merupakan hal yang wajar. Sebab, apa yang dilakukan oleh Al-Qaeda pada saat itu mengatasnamakan ajaran agama Islam yang lahir dari Al-Qur’an, yakni sebagai ajaran jihad.

Selain itu, para pelaku teror ini juga merupakan orang-orang yang berasal dari Timur Tengah, yang dikenal sebagai orang-orang yang taat dalam beragama Islam. Non-muslim memberi persepsi bahwa semua orang Islam memiliki pemahaman dan keyakinan teror, yang bisa saja sewaktu-waktu melakukan teror kepada pemeluk agama lain, mengatasnamakan perjuangan Islam.

Sejak saat itulah muncul berbagai tindakan-tindakan rasisme di berbagai negara kepada orang-orang Muslim. Para pelajar Indonesia dan negara-negara lain yang belajar di Barat mengalami tindakan rasis pasca kejadian ini. Islam diyakini oleh non Muslim sebagai agama teror, yang mengizinkan umatnya melakukan kekerasan.  Di sinilah perlunya kelompok moderat untuk kembali meluruskan esensi dari agama Islam.

Wajah Islam yang hakiki perlu terus diketengahkan demi meluruskan persepsi Islamophobia yang salah kaprah. Selain itu, perlu melakukan kontranarasi baik secara langsung maupun melalui media sosial terhadap aksi-aksi ekstrimisme, terorisme, dan rasisme kepada semua agama.

Pada dasarnya, ajaran agama Islam mengajarkan keharmonisan dan persaudaraan antar pemeluk agama. Islam tidak sesekali memiliki ajaran bahwa jihad harus dilakukan dengan cara kekerasan sebagaimana dilakukan kelompok teror, seperti Al-Qaeda dan ISIS. Islam mengajarkan umatnya untuk hidup berdampingan antar pemeluk agama. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Syaikh Yusuf Al-Qardhawi menyebut, Islam merupakan agama yang harmoni dengan keragaman. Menghargai perbedaan agama dan keyakinan. Nabi Muhammad, sejak di Makkah, tidak pernah melakukan jihad dengan cara-cara kekerasan. Ia dengan para sahabatnya, akan melakukan jihad, bilamana mereka disakiti secara bombastis atau diboikot untuk melakukan ibadah. Selain itu, Nabi dan para sahabatnya berdakwah dengan santun, saling menghargai.

Ketika Nabi di Madinah, beliau berteman baik dengan orang-orang non Islam. Bahkan, Nabi membuat konstitusi negara dengan persetujuan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan kaum Pagan. Nabi giat berdiskusi dengan orang-orang non Muslim untuk menciptakan peradaban untuk mensejahterakan seluruh manusia.

Dari keterangan di atas, bila kita pahami esensi ajaran Islam yang sesungguhnya, bukan agama yang mengajarkan aksi terorisme. Adanya tindakan dan aksi teror hanya dilakukan oleh orang-orang yang mengatasnamakan agama, untuk kepentingan politik dan kekuasaan.

Ajaran teror ini yang memanipulasi Islam di mata dunia sebagai agama dengan wajah menakutkan, yang siap melakukan bom bunuh diri kapan dan di manapun bila bertemu dengan orang-orang non Muslim. Tetapi sebenarnya, Islam tak pernah mengafirmasi tindakan-tindakan teror. Nabi Muhammad selalu hidup berdampingan dengan orang-orang non Muslim, hidup dam harmoni untuk mencapai peradaban. [Eep]

Leave a reply

error: Content is protected !!