Islam Yang Beradab dan Mewujudkan Peradaban Dunia

0
463

Sangkhalifah.co — Islam ialah agama yang romantis. Islam memiliki ajaran-ajaran yang selalu sejalan dengan ruang dan waktu (salihun likulli zaman wal makan). Begitu Quraish Shihab dalam buku Wasathiyyah menegaskan. Pakar tafsir asal Indonesia ini juga mengungkapkan bahwa Islam bukan lain kecuali agama kedamaian dan harmoni dengan zaman. Relevansi Islam untuk seluruh tempat dan waktu kapan dan di manapun itulah yang membuat eksistensinya terus mewujud di permukaan.

Sebaliknya, Islam bukanlah agama yang jumud dan tidak berkembang. Abdullah Ahmad An-Na’im dalam buku Dekonstruksi Syari’ah menegaskan bahwa pemahaman atas Islam yang tidak mau berkembang hanya akan mematikan esensi Islam sebagai agama yang dinamis dan memiliki visi masa depan. Tanpa itu semua, Islam hanya akan menjadi simbol yang tidak memiliki ruh yang menjadi pemandu umat manusia yang beragam.

Al-Qur’an sebagai sumber utama agama Islam memang merupakan referensi final secara tekstual, sejak abad VII Masehi hingga kelak hari akhir. Ia tidak akan pernah berubah dengan tantangan yang dihadapi baik zaman maupun lokalitas. Namun demikian, karakter salihun likulli zaman wal makan Islam juga menjadi landasan Al-Qur’an sebagai sumber utamanya. Amat rasional, jika suatu agama memiliki nilai yang dinamis maka sumber-sumbernya pun harusnya demikian.

Begitulah fakta Islam dan Al-Qur’an. Keduanya memiliki nilai-nilai yang harmoni dengan ruang dan waktu. Tidak ada ayat-ayat Al-Qur’an yang meminta umat Islam berlaku “saklek”, tidak boleh berkembang di tengah tuntunan zaman. Terlebih, ketika adanya keniscayaan keragaman manusia (QS. Al-Hujurat: 49), maka dinamisnya Al-Qur’an menjadi tidak terelakkan.

Selain memiliki karakter yang dinamis, Al-Qur’an merupakan wahyu yang romantis. Islam dengan sumbernya kitab suci Al-Qur’an merupakan agama dan kitab yang romantis. Pada QS. Al-Anbiya ayat 107 Allah SWT berfirman yang artinya: “tidaklah kamu utus engkau Muhmad kecuali untuk memberi Rahmat bagi seluruh alam”.

Para ulama tafsir, seperti Imam Al-Maraghi dan Tahir Ibn Asyur memahami bahwa makna ayat tersebut di atas ialah kerahmatan Islam, Nabi Muhammad, dan Al-Qur’an untuk seluruh alam. Bukan hanya bagi orang Islam saja, kerahmatan Islam juga untuk semua pemeluk agama, baik itu Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu dan semuanya. Bahkan, kerahmatan Islam juga untuk seluruh tumbuhan, binatang, dan semua makhluk Tuhan sejagad raya ini. Itulah romantisme Islam, mau bergaul dan menyayangi semua alam.

Kesadaran Islam sebagai agama romantis ini yang harus diingat selalu oleh umatnya. Kesadaran ini penting sehingga tidak akan ada lagi pemahaman dan ajaran keagamaan yang justru menyakiti pemahaman orang lain. Islam yang demikian bertolakbelakang dengan pemahaman Islam yang dianut oleh sekelompok radikal dan kelompok teror yang memiliki keyakinan bahwa beragama harus dengan cara memaksa dan bahkan meneror. Namun tidak demikian, Islam melalui diktum Al-Qur’an merupakan agama yang toleran, tidak memaksa orang yang belum mau masuk Islam jika mau bergaul dengan baik dan beradab. Akar ajaran Islam adalah kesejukan dan kedamaian yang memberikan kenyamanan bagi semua umat manusia seluruh alam.

Bertrand Russell dalam bukunya Power; the Role of Man’s Will to Power in the World’s Economic and Political Affairs menyebut bahwa keberhasilan dan kemudahan penakluk Islam yang mula-mula dan stabilitas imperium yang mengikutinya ialah karena sikap toleransi umat Islam terhadap rakyat yang ditaklukkannya. Lebih jauh, dalam sejarah penaklukkan kota Makkah, meskipun Nabi Muhammad dikenal sebagai orang yang sangat dimusuhi, diperangi, dan bahkan diusir dari negerinya sendiri, namun tak sekalipun Nabi Muhammad benci kepada satu penduduk Makkah yang dulu pernah menyakitinya. Nabi Muhammad kepada mereka yang memusuhi ia balas dengan kesantunan, rasa maaf, dan tebar kedamaian. Tanpa perilaku demikian, kiranya sulit Islam berkembang dan besar hingga seantero jagat bumi. Karena romantismenya itu Islam menjadi agama yang terus maju dan berkembang.

Senada dengan gagasan Russel, Ahmad Syafi’i Ma’arif juga menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan asas iman, kekeluargaan dan keadilan. Gagasan Syafi’i ini cukup brilian. Melalui dasar keimanan, semestinya umat Islam meyakini bahwa hanya kebenaran Allah yang mutlak, tidak boleh merasa paling benar dan apalagi menyalahkan orang lain yang berbeda.

Prinsip keimanan tertinggi adalah meyakini bahwa hanya Allah yang berhak menyalahkan dan membenarkan segala hal. Adapun prinsip kekeluargaan adalah ejewantah dari visi rahmatan lil alamin agama Islam, yang romantis dengan semua manusia termasuk dengan non-Muslim. Bagi Islam, semua umat manusia adalah satu keluarga, sama-sama merupakan saudara satu ibu dan bapak, yaitu Adam dan Hawa. Sementara itu asas keadilan berupa sikap adil dalam memperlakukan diri dan orang lain. Tidak timpang sebelah dalam menentukan sikap dan kebijakan.

Islam yang romantis ini yang sesungguhnya merupakan Islam yang berkeadaban. Islam yang akan menjadi cita-cita peradaban dunia. Islam romantis inilah Islam yang harus selalu dimunculkan di permukaan oleh semua umat Islam, sehingga kesakralan Islam sebagai agama kasih sayang dapat terejewantahkan dengan maksimal.

Islam romantis adalah Islam yang menjadi harapan dunia yang mampu memandang manusia lain apapun agama dan sukunya sebagai manusia yang utuh yang harus sama-sama dihormati tanpa tapi. Memahami Islam sebagai agama yang romantis akan berdampak kepada lahirnya sikap memandang semua orang dengan kacamata cinta. Maka, pahamilah esensi Islam sebagai agama romantis, niscaya akan lahir wajah Islam yang damai untuk kapan dan di manapun. []

Leave a reply

error: Content is protected !!