Islam Mengutuk Perbuatan Vandalisme

0
396

Sangkhalifah.co — Dalam negara republik yang menganut paham demokrasi, penyaluran ide-ide dan gagasan dilaksanakan dengan aksi. Sejatinya, kegiatan aksi atau penyaluran ide-ide dan gagasan tersebut tidak dilarang dalam Islam.  Namun tidak jarang kegiatan aksi sering dibarengi dengan vandalisme, perusakan dan penghancuran barang-barang atau bangunan, seperti kejadian baru-baru ini di Indonesia, seperti pembakaran halte busway dalam aksi penolakan Omnibus Law. Nah, vandalisme inilah yang sebenarnya dalam Islam dilarang dan dikutuk.

Dalam sejarah peperangan di masa Nabi Saw, ada etika-etika yang terekam dalam kitab-kitab hadis, salah satunya kegiatan vandalitis ketika perang. Hadis riwayat Imam Ahmad:

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَنْ قَتَلَ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا، أَوْ أَحْرَقَ نَخْلًا، أَوْ قَطَعَ شَجَرَةً مُثْمِرَةً، أَوْ ذَبَحَ شَاةً لِإِهَابِهَا لَمْ يَرْجِعْ كَفَافًا

Artinya: Diriwayatkan dari Tsauban Pembantu Rasulullah Saw, yang mendengar Rasulullah Saw, berpesan, “orang yang membunuh anak kecil, orang tua renta, membakar perkebunan kurma, menebang pohon berbuah atau memburu kambing untuk diambil kulitnya itu akan merugikan generasi selanjutnya”

Pesan Rasulullah Saw, ini disampaikan beliau ketika dalam peperangan, sebagai himbauan kepada para sahabat ketika dalam perang tidak bertindak semena-mena dan keharusan mengontrol emosi. Pesan Rasulullah Saw, ini juga disampaikan oleh Sayidina Abu Bakr saat menjabat sebagai khalifah kepada para anggota pasukan perang ketika hendak berangkat ke medan perang. Sayyidina Abu Bakr berpesan untuk: selalu  bertakwa kepada Allah, jangan melampaui batas, jangan jadi penakut, jangan hancurkan rumah ibadah, jangan hancurkan kebun kurma, jangan bakar perkebunan, jangan membunuh hewan ternak, jangan menebang pohon berbuah, jangan membunuh orang tua renta, anak kecil, balita dan perempuan (Kanzul ‘Ammal, bab Ahkām al-Jihād, jilid 4, h. 475)

Rupanya Al-Quran juga menjelaskan tentang larangan prilaku vandalitis, seperti Firman Allah Swt dalam surah al-Haj, 22: 40:

ٱلَّذِينَ أُخۡرِجُواْ مِن دِيَٰرِهِم بِغَيۡرِ حَقٍّ إِلَّآ أَن يَقُولُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُۗ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّهُدِّمَتۡ صَوَٰمِعُ وَبِيَعٞ وَصَلَوَٰتٞ وَمَسَٰجِدُ يُذۡكَرُ فِيهَا ٱسۡمُ ٱللَّهِ كَثِيرٗاۗ وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa

Menafsirkan ayat ini, Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munīr menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan kata masjid dalam ayat tersebut adalah seluruh hamparan bumi sebagaimana penjelasan “hamparan bumi dijadikan bagi Nabi Muhammad sebagai masjid (tempat sujud)” dengan artian semua daerah dalam peperangan; perkebunan, rumah orang, lahan pertanian, peternakan dan segala bentuk fisik berupa bangunan maupun tumbuhan dilarang untuk dirusak dan diporak-porandakan.

Sebelum ayat ini, dijelaskan kebolehan dan kelegalan bagi umat Islam memerangi orang yang menyerang umat Islam. Menujukkan larangan merusak tempat ibadah dan lingkungan sekitar hanya dalam perang.  Diperkuat dengan hadis yang merupakan pesan Nabi kepada sahabat yang akan berangkat peperangan. Hal ini bukan lantas menjadi dalil kebolehan merusak lingkungan atau fasilitas publik di saat damai, saat aksi misalnya.

Untuk memberikan status hukum pada kejadian vandalisme dalam aksi kemarin dengan menggunakan ayat-hadis di atas dan metode qiyas awlawi (hukum yang tidak disebutkan dalam teks lebih sangat daripada yang ada dalam teks): dalam perang saja, yang dimungkinkan ada emosi dan kekerasan tidak dibolehkan merusak lingkungan, apalagi dalam aksi damai menyuarakan ide-ide tentang penolakan tentang Omnibus Law seperti kemarin. Justru hukumnya lebih dilarang dan dikutuk dari pada perusakan lingkungan dalam konteks peperangan. []

Leave a reply

error: Content is protected !!