Islam Eks HTI dan ISIS; Nampak Simbolik, Nol Dalam Substansi

0
388

Sangkhalifah.co — Yusuf Qardhawi dalam karyanya “Kaifa Nata’ammal Ma’a al-Sunnah al-Nabawiyyah” menyebutkan bahwa dalam Islam ada dua hal yang penting, yaitu sasaran dan sarana. Sasaran itu substansi ajaran Islam yang mesti digapai dengan benar dan maksimal, sedangkan sarana itu alat untuk menggapainya. Sasaran sifatnya ajeg atau tidak berubah-ubah (tsâbit) sedangkan sarana sifatnya tidak ajeg atau berubah-ubah (al-mutaghayyir). Di manapun dan kapanpun, sasaran akan selalu bersifat stagnan, sedangkan sarana senantiasa menyesuaikan zaman dan tempat. Namun sayangnya, sebagian umat Islam sekarang banyak yang terkecoh, tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu, mana yang substansial dan mana yang hanya sekadar sarana.

Yang terjadi hari ini adalah sarana menjadi orientasi tiada henti, sementara sasaran atau substansinya kadang ditinggalkan. Yang dikedepankan adalah formalitas, sedangkan yang substansial diabaikan. Lihat saja kelompok ISIS, mereka gemar kampanye mengatasnamakan jihad, hijrah, bendera tauhid, mencatut Islam, namun mereka abai dengan persatuan, perdamaian, dan keadilan. Di mana-mana ISIS kerap menyuarakan tauhid, tetapi kepada perempuan dan anak-anak saja mereka menyiksa dengan pedih bahkan sampai mati. Mereka membom fasilitas-fasilitas Negara atas nama jihad. Mereka mengelabuhi masyarakat dunia agar tergiur dengan kelompoknya, dan dilantik agar menjadi radikal dan teror.

Tidak berbeda dengan ISIS adalah HTI. HTI adalah salah satu kelompok yang paling getol mengatasnamakan Islam, namun perilakunya banyak bertentangan dengan Islam. Mereka terlibat kudeta pemerintahan sah di berbagai negara. Mereka gemar menganggap sesama Muslim sebagai penyembah Taghut, kufur, hanya karena berbeda pandangan dalam konsep bernegara. Bahkan sebagaimana menurut Dina Y. Sulaeman, HTI banyak terlibat kekerasan dan terorisme dengan terlibat bersama jaringan Jamaah Anshar Ad-Daulah (JAD). Padahal dalam ajaran Islam, kita tak boleh menuduh orang lain kafir, sesat, selagi ia masih bersyahadat. Akan tetapi HTI lebih parah, kadang, mereka menganggap penyembah taghut ulama-ulama yang tak mendukung khilafahnya. Mereka merasa lebih pintar dibanding yang lain.

Karena perilaku ISIS dan HTI ini Islam seringkali dituduh sebagai agama kekerasan, utamanya oleh Barat. Bruce B Lawrence pernah menyatakan bahwa anggapan Barat bahwa Islam adalah agama kejam, iblis, tak berperikemanusiaan, semua berasal dari cara pandang mereka akan Islam dengan merujuk pada Islam Timur Tengah. Bahkan, Max Weber, Sosilog, menyatakan bahwa Islam adalah agama perang (warrior religion). Dalam konteks ini maka ISIS dan HTI adalah sebagian kelompok Islam yang berasal dari Timur Tengah yang masuk dalam klasifikasi Lawrence sebagai kelompok Islam yang menampilkan Islam sebagai agama kekerasan dan kejahatan. Maka jelas, perilaku ISIS, HT, dan HTI, termasuk yang diimpor ke Indonesia dan dipahami secara bodoh oleh simpatisannya merupakan perilaku yang sangat merugikan Islam. Karena perilaku bodoh mereka, semua umat Islam diklaim sebagai umat yang gemar melakukan kekerasan atas nama agama.

Perilaku yang dilakukan oleh ISIS dan HTI ini juga berujung pada lahirnya islamophobia di dunia luas. Tindak kekerasan, terorisme, radikalisme dan separatisme yang kerap dilontarkan simpatisan kelompok garis keras itu membuat orang takut mengenal Islam. Apalagi itu sudah terjadi sejak setelah adanya serangan kelompok terorisme internasional yang menyerang World Trade Center (WTC) Amerika Serikat, pada September 2011. Sebut saja Survei Open Soceity Institute (OSI) pada 2004 yang menyatakan bahwa delapan dari sepuluh warga Inggris merasa tidak nyaman dengan keagamaan. Sejak kejadian WTC itu, media di Inggris enggan lagi perhatian pada nilai agama. Phobia Islam yang maksudnya takut mengenal Islam berawal dari adanya tindakan kekerasan, bom bunuh diri, tindakan rasisme, yang dilakukan oleh kelompok teror.

Pada akhirnya, apa yang dilakukan oleh ISIS dan HTI hanyalah menjual agama demi kepentingan kelompoknya. Mereka terlihat islami dalam simbol dan ucapan, namun nol dalam tindakan. Ayat-ayat Allah diperjualbelikan atas nama dakwah untuk menarik masa untuk sama-sama memperjuangkan nafsu kekuasaan di atas nama agama. Perilaku demikian lebih menjijikkan daripada apapun, bahkan lebih dikecam daripada orang Munafik yang dalam Al-Qur’an masih belum lihai dalam beragama namun membaca ayat Al-Qur’an demi mendapatkan keuntungan. Sedangkan ISIS dan HTI terlihat bisa membaca Al-Qur’an, bahkan sebagian mengaku alim dalam ilmu agama, namun hal itu hanya digunakan untuk memanipulasi kecerobohan beragama atas nama agama. Bukan hanya ayat Al-Qur’an, Hadis Nabi, sejarah Islam, dan Nash agama lainnya diperjualkan untuk mencapai satu titik beragama yang ekslusif, yang berujung pada tindakan radikal, bahkan teror.

Sudah jauh-jauh Al-Qur’an mengingatkan kepada umat Islam bahwa Islam yang hakiki adalah Islam yang subtansif, Islam yang mengedepankan nilai-nilai akhlak, persatuan, toleransi, dan keadilan. Dalam QS. Fushilat: 33 Allah memberi isyarat kuat bahwa Islam yang sejati adalah Islam yang pemeluknya baik dalam ucapan, selalu mengajak kepada Allah, dan positif dalam tindakan. Nilai-nilai universal ini mencakup keadilan, persatuan, toleransi, dan saling menghormati satu sama lain. Seorang Muslim yang sejati tidak akan merendahkan orang lain yang berbeda, menghargai manusia atas dasar kemanusiaan. Ia menghindari ucapan-ucapan kotor seperti menuduh kafir, taghut, musyrik, dan sejenisnya. Sebaiknya, Islam simbolik adalah Islam yang pemeluknya selalu membawa atas nama Islam, tauhid, khilafah, hijrah dan jihad, namun hanya berhenti pada ucapan. Akan tetapi semua itu nol dalam tindakan. Sebagaimana para simpatisan HTI dan ISIS yang selalu bawa simbol Islam, namun akhlaknya jauh dari agama Islam. Orang demikian dikecam oleh Allah melalui Al-Qur’an QS. Al-Ma’un: 1-5. []

Leave a reply

error: Content is protected !!