Islam dan Kecaman Terhadap Bom Bunuh Diri

0
77

Sangkhalifah.co — Bom bunuh diri masih saja digunakan oleh kelompok teror untuk melancarkan aksinya dengan mengatasnamakan ajaran Islam yaitu jihad. Alih-alih ingin menegakkan Islam, kelompok ekstrimis justru melukai ajaran Islam yang suci dan menolak tindakan melukai diri sendiri dan orang lain. Karena tindakan bom bunuh diri itu, Islam diasumsikan oleh sebagian orang sebagai agama perang dan tidak berprikemanusiaan. Dalam sebuah riwayat Imam Bukhari dan Muslim dikatakan, “Barang siapa yang bunuh diri dengan sesuatu di dunia maka kelak akan disiksa dengan sesuatu tersebut di akhirat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tindakan bom bunuh diri dengan mengatasnamakan apapun merupakan perbuatan yang dikecam oleh agama Islam. Betapa banyak riwayat-riwayat yang menyebut bahwa nabi menghormati jenazah Yahudi, bahkan hendak menshalati jenazah orang Munafik. Akan tetapi nabi menolak untuk menshalatkan orang yang mati karena bunuh diri. Dalam sebuah hadis Imam Muslim meriwayatkan, “Pernah dipasrahkan kepada Nabi Muhammad SAW jenazah yang mati karena bunuh diri. Maka kemudian Nabi meninggalkannya dan jenazah itu pun tidak ada yang menshalati.” (HR. Muslim). Terhadap bunuh diri yang melukai diri sendiri saja Nabi menolak menshalatinya, apalagi bila melukai bahkan membunuh orang lain.

Bila melihat konteks tindakan bom bunuh diri setidaknya dapat dibagi menjadi dua bentuk. Pertama, bom yang dilakukan di daerah yang tidak ada perang di dalamnya. Dan kedua, bom yang dilakukan di daerah yang memang ada peperangan di dalamnya. Pada bentuk pertama, ketika bom diledakkan, orang-orang yang menjadi korban bukan semua kafir zimmi, bahkan terdapat orang Islam sekalipun. Tindakan ini jelas dikecam oleh agama, karena sama sama dengan membunuh orang lain tanpa sebab dan alasan yang dibenarkan syariat Islam. Sedangkan pada konteks kedua, bom bunuh diri juga dilarang kecuali jika musuh menyerang terlebih dahulu. Sebagaimana pandangan Syaikh Tahir Ibn ‘Asyur dam konteks peperangan di negeri perang (Dar al-Harb).

Di dalam QS. Al-Baqarah Ayat 195 Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” Para ulama tafsir, salah satunya Imam Al-Badhawi, menyebut, jika orang-orang yang berbuat baik mereka akan disukai Allah dan mendapatkan pahala dari-Nya. Maka tidak demikian dengan orang yang menjatuhkan diri kepada kebinasaan. Mereka akan disiksa di dalam neraka jahanam tanpa ampunan dari siapapun. Tindakan melukai diri dan membinasakan diri kepada perbuatan yang merugikan, sangat tidak disukai oleh Allah.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui fatwa nomor 3 tahun 2004 tentang terorisme pada poin 2 menegaskan bahwa tindakan bom bunuh diri dengan niatan amaliyah al-isytisyhad dilarang secara mutlak karena merupakan tindakan keputusasaan (al-ya’su) dan tindakan melukai diri sendiri (ihlak an-nafs), baik dilakukan di daerah damai (Dar al-Islam) ataupun di daerah perang (Dar al-Harb). Kemudian pada poin ke 3 disebutkan jika dalam kondisi peperangan maka boleh melakukan amaliyah al-Isytisyhad (tidak dengan bom bunuh diri) untuk menakuti musuh Islam. Dari dua poin fatwa di atas, MUI menolak dan melarang secara mutlak tindakan bom bunuh diri baik dalam kondisi damai maupun perang.

Di lain itu, hasil Musyawarah Nasional (MUNAS) NU pada tahun 2002 di Pondok Gede tegas mengatakan bahwa bom bunuh diri adalah tindakan dosa besar. Tindakan mengorbankan jiwa memang dibolehkan bahkan dapat dibilang tindakan syahadah dengan syarat untuk melawan kezaliman melalui 3 syarat, yaitu benar-benar untuk melawan kezaliman, bukan melukai diri. Kedua, tidak ada cara yang lain selain mengorbankan jiwa. Dan ketiga, mengenai langsung sasarannya, yaitu orang yang menjadi dalang adanya kezaliman. Tindakan bom bunuh diri seperti di Poso, menurut NU, sungguh jauh dari ajaran Islam dan tuntunan agama.

Terkait dengan klaim kelompok teroris yang mengatakan bahwa jihad selalu dilakukan dengan bom adalah pemahaman yang terlalu gegabah. Di dalam Al-Qur’an tidak ada nash yang mengatakan kalau bom bunuh diri adalah jihad. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menyebut ragam jihad di dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah jihad dengan Al-Qur’an. Yaitu dengan membaca, menghayati dan menganalisa serta mengamalkannya, adalah sebentuk jihad yang dianjurkan di dalam kitab suci umat Islam. Selain itu jihad dengan jiwa (bukan badan), yang dapat dilakukan dengan bekerja, menafkahi keluarga, melawan korupsi, dan segala upaya untuk melahirkan keadilan di tengah masyarakat. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!