Islam dan Indonesia Perspektif Muslim Milenial

0
102

Sangkhalifah.co — Dalam membahas Islam dan Indonesia diperlukan pembacaan yang komprehensif untuk  menghindari penilaian yang memunculkan prasangka-prasangka dan menjadi tidak objektif. Sesuatu yang dianalisis hanya dengan melihat dari luar, maka yang ada hanya prjudice dan streotif-streotif negatif. Islam dan Indonesia adalah dua entitas yang sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia senantiasa terlibat di dalam pergumulan. Pada tahun (1956-1959) adalah puncak pergumulan keduanya di dalam Sidang Majelis Konstituante. Di dalam forum tersebut terdapat dua sekte kelompok yang membawa gagasan dan landasan masing-masing, antara sekte Islam dan nasionalis sekuler. Kelompok Islam bersikukuh memperjuangkan Islam sebagai dasar negara, sementara kelompok nasionalis sekuler bersikukuh menjadikan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia.

Berangkat dari sejarah, walaupun sejarah ini memiliki kesan traumatis untuk diulang kembali. Namun, dengan pendekatan historis kita bisa menemukan kausa yang mempengaruhi perkembangan Islam dan Indonesia sampai saat ini. Begitu banyaknya persoalan yang tidak tuntas, terpendam dalam jati diri muslim milenial sebuah pandangan kebangsaan yang dianggapnya belum tuntas.

Disisi lain, ada muslim milenial ingin sekali mencabut tanaman persoalan dahulu. Tidak ingin membawa masa lalu yang kelam ke dalam kehidupan masa kini dan seterusnya. Dan harus sampai kapan persoalan ini akan selesai. Karena ini adalah salah satu penghalang dalam menjalankan pengembangan kemajuan masa depan yang lebih baik. Al-Qur’an yang memiliki peran, salah satunya merupakan basis filosofis yang mengajarkan prinsip semua manusia yang beriman adalah bersaudara. Kita diperintahkan agar sesama manusia yang memiliki perselisihan untuk berusaha rekonsiliasi dan berusaha mendapatkan rahmat-Nya (Nurcholis Madjid, 1992).

Muslim milenial berusaha menolak warisan buruk masa lalu. Kalau terus diwariskan akan mempengaruhi perkembangan yang menguntungkan untuk bangsa-negara. Tentu sejarah mencatat dari tahun 1991-2002 banyak sekali varian Islam yang muncul di Indonesia. Tetapi, perbedaan adalah keniscayaan yang tidak akan punah sampai kapanpun. Kalau melihat ke belakang, berapa banyak konflik yang terjadi akibat haus kekuasaan yang berlandaskan egosentris. Di dalam wacana kekuasaan itu terdapat banyak sekali ide hebat yang muncul dari kalangan cendekiawan muslim maupun nasionalis. Namun, tidak semua para aktor itu memiliki wacana kekuasaan semata.

 Landasan Fundamental Muslim Milenial dalam Wacana Progresifitas

Pengembangan dan pembangunan tidak terlepas kaitannya dari sains, ekonomi dan politik. Tan Malaka dalam Madilog-nya menuliskan bahwa ekonomi, politik dan sains adalah paduan yang tidak bisa dipecah-pecahkan. Dan itu adalah hal yang paling fundamental yang harus dimiliki oleh muslim milenial saat ini. Dan apa saja yang menjadi landasan sebelum mengekskusi wacana tersebut:

Pertama, “Nasionalis Consciousness”. Muslim milenial dalam wacana ini adanya kesadaran nasional. Kita berjuang sehari-hari untuk meneruskan para pejuang dalam membangun peradaban Indonesia secara bertahap tanpa harus mendisrupsi. Kedua, “Religious Consciousness”. Basis fundamental yang kedua adalah kesadaran keagamaan. Sebagai generasi muda kita harus berangkat dari kejumudan keberagamaan.

Ketiga, “Science Consciousness”. Basis fundamental yang ketiga adalah kesadaran sains. Muslim milenial harus sadar bahwa tidak bisa mengerjakan suatu perubahan tanpa ilmu pengetahuan, tidak bisa melakukan pembangunan tanpa ada metode terbarukan sesuai zaman yang dialami. Keempat, “Culutural Consciousness”. Basis fundamental yang keempat adalah memiliki kesadaran budaya dan tradisi daerah sendiri. Berupaya menjaga tradisi lama dan mengembangkan tradisi baru yang relevan tanpa menghilangkan nilai-nilai dan norma-norma yang ada di daerah sendiri. Walaupun zaman sudah maju, teknologi sangat pesat dalam perjalanannya tetapi kita sebagai putra-putri daerah harus tetap bisa menjaga tradisi.

Beberapa karakteristik partisipatoris tersebut harus dibentuk sejak awal sebagai basis fundamental dalam wacana progresifitas ini. Sinkronisasi ekonomi, politik, dan sains harus sama-sama satu tujuan dan berdasarkan basis kesadaran tersebut.

Sebagai muslim milenial sudah saatnya memulai merancang dan menggagas apa yang diharapkan bangsa ini. Dengan landasan progresifitas yang membawa Islam dan Indonesia lebih baik lagi. Sudah bukan lagi saaatnya menciptakan konflik! Saatnya kita untuk membangun dan mengembangkan, mulai dari sisi intelektual, teknologi, pembangunan fasilitas sumber daya manusia dan lain-lain. Begitulah kurang lebih pembahasan terkait Islam dan Indonesia dengan menggunakan pendekatan dekonstruksi (definitif-transformatif) di mata muslim milenial. [Faiz]

Leave a reply

error: Content is protected !!