Islam: Antara Ko-Eksistensi dan Pro-Eksistensi

0
458

Sangkhalifah.co — Bangsa kita ini, keragamannya diyakini sebagai sebuah takdir dan pemberian dari Allah. Ia tidak diminta, melainkan anugerah dari-Nya. Selain enam agama yang banyak dipeluk oleh masyarakat, ada ratusan bahkan ribuan suku, bahasa dan aksara. Dan yang bisa menyatukan adalah Pancasila bukan khilafah Islamiyyah apalagi Daulah Islamiyah. Sebagaimana Nabi Muhammad menyatukan Madinah dengan Piagam Madinah, maka Indonesia disatukan dengan Pancasila-nya. Keduanya lahir dari rahim yang sama: kaum Muslimin. Dan sebab itulah, kaum Muslimin dituntut kembali untuk mengejawantahkan nilai-nilai agama dengan menyebarkan paham yang moderat, tidak kanan (fundamentalis) dan juga kiri (liberalis-sekuleris).

Islam sesungguhnya tidak saja bersifat ko-eksistensi lintas batas, lintas agama dan suku, tetapi pro-eksistensi tentang proyeksi kehidupan yang saling bergandengan, dengan laku tindak santun, damai dan saling pengertian. KH. Hasyim Muzadi mengatakan bahwa hakikat semua ajaran agama mengajarkan perdamaian, kesejahteraan, kelemahlembutan dan toleransi.

Jika terdapat kelompok agama melakukan anti-damai, anti-toleransi dan melakukan tindak kekerasan, pastikan bahwa dirinya telah membajak agama. Karena itu, agama harus dilepaskan dari setiap tindakan dan perilaku yang tidak sesuai dengan tujuan agama itu sendiri. Agama tidak dapat dijadikan alat untuk kepentingan politik atau ekonomi. Menciptakan perdamaian adalah kewajiban semua agama. Merebaknya islam fobia, dikarenakan tindakan dan perbuatan segelintir orang yang mengatasnamakan Islam untuk menjustifikasi tindak kekerasannya.

Perdamaian hakiki tidak akan wujud sebelum kedewasaan beragama, kesadaran bersama dan keamanan lintas agama dan komunitas terjamin dengan baik dan benar. Nilai-nilai yang dibawa oleh NU dan Muhammadiyah, merupakan manifestasi dari ajaran Islam Rahmatan lil Alamin yang menjadi upaya memperbaiki wajah baru Islam di mata dunia. Dengan mengedepankan gagasan tersebut ini maka Islam akan menjadi berkah untuk alam semesta dan menjadi agama rahmat buat semua manusia.

Konflik adalah antitesa dari perdamaian. Terjadinya sebuah konflik diakibatkan oleh perbedaan pemikiran, sikap mengerti dan menerima dari perbedaan itu. Dalam masyarakat yang homogen, banyak ditemukan konflik-konflik, terlebih jika masyarakat yang heterogen seperti di Indonesia maka konflik tidak akan hilang. Bahkan, tidak jarang konflik menjadi bisnis yang diciptakan oleh seseorang untuk menggaduhkan sebuah suasana yang harmonis.

Dalam konteks Islam sebagai Rahmatan lil Alamin, Islam telah mengatur segala tata hubungan, baik aspek teologis, ritual, sosial dan muamalah, dan humantis dan kemanusian. Pertama, aspek teologi. Dalam urusan teologis, Islam memberikan rumusan jelas, hal-hal yang diyakini dan memaknai ketauhidan secara komprehensif, meliputi keyakinan umat Muslim di dalam berdakwah kepada umat non-Muslim.

Ketika turun ayat, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Ku-cukupkan kepada kalian ni`mat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian” (Qs. al-Maidah/5: 3). Umat Muslim dituntut untuk menyampaikan kepada seluruh manusia, sebagai konsekuensi dalam berdakwah. Namun, dalam membaca agama yang sempurna, tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam, agama terakhir yang direstui Allah. “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (Qs. Al Baqarah/2: 256).

Karena, pemaksaan mengakibatkan pada tidak sah-nya seseorang dalam memeluk agama. Dan yang memeluk ke dalam Islam, tidak boleh disertai rasa ketakutan, harus tumbuh dari hati paling dalam. Keyakinan yang dimiliki sebatas menyampaikan dan menyebarluaskan secara sistematis dan komprehensif. Tanpa ada unsur pemaksaan, penindasan secara psikologis dan penindasan akal-pikiran. Karena syariat dan hukum Allah turun ke muka bumi untuk kemasalahatan umat.

Kedua, aspek-aspek ritual ibadah dalam kehidupan sehari-sehari, baik di dalam al-Qur’an dan hadis tidak boleh menjadikan sesama Islam saling bermusuhan. Aturan operasionalnya sudah terdapat pada keduanya dan untuk urusan kontemporer maka tetap berpijakan pada kedua sumber, dilengkapi dengan ijma ulama mu’tabarah (terkenal dan terpercaya) dan Qiyas. Ketika Nabi Muhammad Saw membicarakan umat Islam akan terpecah ke dalam beberapa golongan38 maka Allah pun memberitahukan kondisi perpecahan umat suatu hari nanti akibat permasalahan furu’iyah. Teguran itu termaktub dalam al-Qur’an, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Qs. al-Anfâl/8: 46).

Perpecahan merupakan akibat dari perselisihan, sekalipun tidak semua perselisihan itu perpecahan. Perpecahan adalah sebuah kepastian. Perpecahan memiliki empat unsur, yaitu al-Mufâraqah (saling berpisah), al-Mubâyanah [saling berjauhan], al-Mufâsalah (saling terpisah) an al-Inqitha’i (terputus). Perselisihan dan perbedaan adalah rahmat dari Allah Swt, sedangkan perpecahan akan mendatangkan ancaman, siksaan dan kebinasaan dari-Nya.

Ada beberapa fenomena yang terjadi di Indonesia, yang menyebabkan terjadinya perpecahan dalam internal Islam, yaitu: berlebih-lebihan (tasyaddudi) dalam beragama dan terlalu menyepelekan dan memudahkan (tasyahhuli) asas-asas agama Islam, fanatik buta terhadap salah satu ulama dalam menjadikannya sebagai payung dalam beragama, kurangnya memahami pola bermazhab dan ber-istinbat dengan baik dan benar.

Akhirnya, masalah-masalah ijtihadiah dialihkan dan diangkat menjadi masalah ajaran Islam paling tinggi, seperti peringatan Maulid Nabi Muhamamd Saw, mengucapkan selamat Natal, tarawih, tradisi tahun baru Islam, tata cara salat, qunut saat mendirikan Salat Subuh, menyemir rambut putih dengan warna hitam dan masalah cabang-cabang lainnya.

Ketiga, aspek sosial dan muamalah. Dalam konteks ini, Islam hanya berbicara ketentuan-ketentuan dasar dan pilar-pilarnya saja. Operasional dan pelaksanaannya diserahkan kepada kesepakatan bersama dan lokalitas tempat tumbuh kembangnya sebuah hukum. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Antum a’lamu bi amri dunyâkum (kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian)”. Mengambil semangat dari hadis ini, bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial dan belum pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad Saw maka diserahkan kepada orang-orang yang kompeten, kapabilitas dan menguasai ilmu agama dengan baik dan benar Tujuan dari muamalah adalah mewujudkan keberhasilan di akhirat nanti.

Contoh bidang keduniaan yang diserahkan kepada umat Nabi Muhammad Saw, seperti mendirikan “negara Islam”. Islam telah memberikan panduan nilai-nilai baku dalam al-Qur’an dan hadis dan visi Islam adalah Dâr al-Salâm, bukan “negara Islam”.

Keempat, kemanusiaan. Dasar kemanusiaan ini menjadi kunci penting dalam keberhasilan dakwah Nabi Muhammad Saw. Ajaran humanisme termaktub dengan jelas melalui pesan Nabi Muhammad Saw di Padang Arafah. Di Padang Arafah yang tandus lahirlah gagasan yang menggetarkan dunia. Ini merupakan salah satu dasar dari butir sila Pancasila, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. Orang yang berdusta dalam agama adalah orang yang bertauhid kepada-Nya tetapi tidak sampai kepada kemanusiaan. Semua manusia di mata Allah Swt sama, yang membedakan hanyalah takwa. Islam meletakkan dasar-dasar kesetaraan derajat dan hak asasi.

Karena inilah, semua pandangan yang mendiskriminasikan tertolak. Entitas Islam sebagai Rahmatan lil Alamin mengakui eksistensi pluralitas lantaran sunnatullah. Pluralitas adalah syarat determinan dalam penciptaan mahluk ke muka bumi. Konsep humanisme yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw begitu luhur, tidak saja menyerukan perdamaian lintas batas, tetapi saling menjaga dan memperat tali persaudaraan dengan siapa pun.

Dengan demikian, untuk mengelola situasi keagamaan yang ada di Indonesia ini, kita harus memiliki dan membutuhkan visi dan solusi yang dapat menciptakan kerukunan dan kedamaian dalam menjalankan kehidupan keagamaan, yakni dengan mengedepankan moderasi beragama, menghargai keragamaan dan tidak terjebak pada ekstremisme, intoleransi dan tindak kekerasan lainnya. []

Leave a reply

error: Content is protected !!