Islam; Agama Toleransi Tanpa Kompromi

0
574

Sangkhalifah.co — Islam adalah agama yang mengedepankan sikap toleransi. Kata “Islam” sendiri berasal dari kata aslama-yuslimu-islaman, yang dalam bahasa Arab berarti menyelamatkan. Tahir Ibn Asyur dalam Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir menegaskan makna kata Islam bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga bermakna mendamaikan dan membuat orang lain bertakwa. Namun sayangnya, karakter Islam sebagai agama yang damai itu seringkali dinodai oleh sebagian orang yang mengatasnamakan Islam namun digunakan untuk kepentingan kelompoknya. Alih-alih mereka beragama yang ada justru menindas orang lain yang berbeda keyakinan. Sikap intoleran menjadi watak bagi dirinya dan tidak mau dikompromikan dengan pendapat-pendapat yang lain. Seolah, apa yang diyakininya merupakan pemahaman yang langsung datang dari Tuhan, sebagaimana Nabi Muhammad mendapatkan wahyu dari-Nya.

Sikap demikian itu biasanya dimiliki oleh kelompok radikalis dan teroris, yang beragama dengan nilai-nilai kesombongan dan keangkuhan. Padahal demikian itu bertentangan dengan Islam. Suatu hari di masa dakwah Rasulullah ketika beliau berada di Makkah, para elit Kafir Quraisy seperti Walid Bin Mughirah, Al-Ash Bin Wa’il, Al-Asswad Bin Abdul Muthalib, dan Umayyah Bin Khalaf, sowan kepada Nabi Muhammad. Mereka sowan kepada beliau meminta agar nabi mau berkompromi dalam beribadah dengan agama yang mereka yakini. Demikian berawal dari kecemburuan mereka kepada Muhammad yang kian hari dakwahnya terus malang melintang. Mereka menawarkan tawaran yang unik dan menawan, berkompromi dalam beribadah.

Pertanyaannya, mengapa orang-orang Kafir ingin melakukan itu? Nurul H. Ma’arif menyebutkan agar terciptanya perdamaian dan sirnalah permusuhan di antara mereka. Orang-orang Kafir memberi pernyataan, bahwa andaikata keyakinan Nabi Muhammad benar maka orang Kafir dapat mengambil kebenaran itu. Sebaliknya, andaikata keyakinan orang Kafir yang benar, maka Nabi Muhammad bisa mengambil kebenaran dari mereka. Tawaran yang diajukan oleh orang-orang Kafir ini sungguh melampaui zaman, di mana mereka hendak berkompromi dalam soal ibadah dengan satu tujuan, yakni perdamaian (as-sulhu), bukan yang lain. Demikian menjadi catatan penting bagi semua umat beragama untuk saling menghargai kebenaran yang diyakini oleh agama-agama yang dianut oleh semua manusia.

Usulan yang dilayangkan oleh sekelompok orang Kafir itu kemudian menjadikan turunnya QS. Al-Kahfi ayat 1-6. Isi surah ini ialah menganulir tawaran yang dilayangkan oleh orang Kafir kepada Nabi Muhammad. Bahwa, tidak semestinya satu agama mengkompromikan atau mencampuradukan ajaran agama-agama yang ada. Karena setiap agama sudah ditentukan syariatnya masing-masing. Setiap agama sudah diberikan jalan kebenarannya masing-masing oleh Allah SWT, sehingga yang paling penting adalah bagaimana setiap pemeluk agama memaksimalkan kebenaran yang diyakininya, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai universal yang diyakini semua pemeluk agama untuk melahirkan harmoni antar-umat beragama.

Surah Al-Kahfi ayat 1-6 ini kemudian juga ditegaskan kembali oleh QS. Al-Ma’idah ayat 48 yang artinya: “Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.” Ayat Al-Qur’an ini mempertegas bahwa Islam adalah agama yang toleran tanpa kompromi. Islam tidak lain kecuali agama yang mementingkan nilai-nilai toleransi kepada pemeluk agama lain yang berbeda. Islam membiarkan perbedaan-perbedaan lestari dan menjadi khazanah peribadahan yang tidak perlu disamaratakan.

Tawaran kompromi ibadah orang-orang Kafir ini juga diapresiasi oleh Imam Nawawi dalam Marah Labid, di mana beliau menyatakan bahwa tawaran tersebut sangat menarik karena dilakukan pada masa jahiliyah di mana orang-orang masih banyak yang tidak mau tahu tentang Islam. Dan, tawaran orang Kafir dalam kompromi ibadah ini memiliki beberapa hikmah dan pelajaran penting di dalamnya. Pertama, tentang beragama yang menggabungkan kegiatan-kegiatan ibadah antaragama ini sudah akan pernah dilakukan. Dan, kini juga dilakukan oleh aktivis perdamaian dan toleransi. Namun demikian mereka harus tetap berada di jalur toleransi, bukan kompromi, sebab itu yang diinginkan Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW.

Pelajaran yang kedua adalah bahwa semua orang menginginkan kebenaran. Orang-orang yang baik akan menghargai kebenaran dari mana saja yang menginginkan dibalas dengan surga, berbeda dengan orang-orang buruk yang kerapkali mencari-cari kesalahan di tengah kebenaran orang lain. Mereka inilah sebagaimana kelompok radikal dan teror yang rajin menkavling kebenaran, bahkan menkavling surga dan neraka. Dan ketiga, pada hakikatnya, semua manusia ingin hidup damai dan berdampingan. Dalam batinnya yang paling dalam, semua manusia ingin hidup aman, tentram dan rukun. Setiap manusia pada dasarnya ingin selalu menghilangkan riak-riak permusuhan, karena sikap perbedaan dan kerukunan keduanya merupakan sunatullah yang tidak bisa ditawar. []

Leave a reply

error: Content is protected !!