ISIS: Neo-Khawarij dan Doktrin Mengadili Orang Lain

1
642

Sangkhalifah.co — Dalam sejarah pemikiran, ide tidak akan sepenuhnya hilang. Akan ada orang yang mewarisi ide itu di masa yang akan datang. Kadang  di daerah yang sangat jauh dari tempat ide itu muncul. Hal ini yang membuat ISIS menjangkau person-person yang berda jauh dari tempat kekuasaannya. Teritorial tidak begitu berpengaruh pada penyebaran ide dan gagasan ISIS yang buruk itu, Suriah dan Irak jauh secara geografis jauh dari benua Asia, akan tetapi menjadi dekat ketika menyebarkan ide dan gagasan melalui media; utamanya media sosial.

Soal ISIS ini, ia bukan pembuat ide baru, ia hanya menyusun kembali kerangka berpikir kelompok khawarij masa lalu dan membungkusnya dengan nama kelompok yang berbeda. Sebelum ISIS lahir, al-Qaeda sebagai kelompok dengan ide yang sama –katanya–berhasil ditumbangkan dengan terbunuhnya pimpinan kelompok tersebut, Osama bin Laden pada tahun 2011. Dikira jika pimpinan kelompoknya tumbang, ide dan gagasannya akan hilang, tidak sama sekali. Jawapos kala itu menuliskan judul berita tentang terbunuhnya Osama dengan “Al-Qaeda, Mati Satu Tumbuh Seribu”.

Benar saja pepatah itu dituliskan, pada 2014 ISIS berhasil mendeklarasikan dirinya sebagai organisasi yang akan menegakkan hukum syariah di dunia dengan cara berjihad. Tentu saja tujuan tersebut direalisasikan oleh ISIS dengan memperlebar sayapnya dengan menyebarkan ide dan gagasannya sebagai umpan supaya lebih banyak lagi yang terperangkap dalam jaring kelompoknya.

Di Indoonesia khususnya, ISIS benar-benar berhasil melebarkan ajarannya, berdirinya JAD (Jamaah Anshar al-Daulah) adalah bukti nyata ISIS sebagai neo-khawarij tidak hanya menjangkau daerah Suriah dan Irak namun juga Asia. JAD yang tidak hanya mendapat pasokan ide dan gagasan dari ISIS namun juga pasokan finansial melalui Saefullah seorang afiliasi ISIS, sebagaimana diungkap oleh pihak kepolisian dan dilansir oleh tirto.id membuat Indonesia harus selalu waspada akan sebuah ancaman perang saudara seperti di Suriah, Irak, Afghanistan dan daerah-daerah kekuasaan  ISIS sekarang.

Secara garis besar neo-khawarij (al-Qaeda, ISIS, JAD dll) dan khawarij di masa munculnya sebagai kelompok dalam Islam mempunyai kesamaan. Kesamaannya adalah doktrin yang didahulukan adalah semangat mengadili orang lain atau dengan bahasa yang lebih ­familiar yang berbeda dengan pendapatnya maka ia salah, begitulah doktrin yang membuat kelompok ini susah untuk berkompromi dan menerima perpedaaan pendapat.

Lebih bahayanya lagi, doktrin mengadili orang lain ini menindak secara fisik bukan hanya mengadilinya dengan ideologi yang berlawanan sehingga sering kali membuat kerusuhan dan tindakan kriminal, baik pada orang diluar Islam maupun sesama muslim. Dengan mengaplikasikan ayat-ayat Al-Quran tentang jihad pada kelompok yang berbeda paham dengannya menjadi bukti riil neo-khawarij sangat berbahaya bagi sebuah negara karena terancam perang saudara dan bagi Islam karena akan merusak esensi dan makna Islam yang berupa agama yang selalu menyampaikan pesan damai.

Pemerintah Indonesia sudah berbagai ikhtiar sudah dilakukan untuk mencegah akan merebaknya kelompok neo-khawarij ini; penanganan yang dilakukan oleh pemerintah melalu BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) dan Densus 88 dari kepolisian sebagai aparatur negara guna menertibkan kelompok neo-khawarij yang mengancam keamanan negara. Penanganan ini harus dibarengi dan didukung oleh seluruh umat Islam Indonesia karena bahaya dari neo-khawarij ini bukan hanya pada keamaan negara, begitu juga melindungi tudingan miring terhadap Islam sebagai agama yang mengajarkan kedamaian, toleransi dan moderat.

Neo-khawarij sebagai ideologi penangannya butuh peran masyarakat muslim yang mana harus diisi oleh kaum santri sebagai person  yang mempunyai pemahaman bersanad sehingga pemahaman yang melenceng dari esensi ajaran Islam bisa dicounter dan diluruskan dan media sosial adalah media utama untuk mewujudkan agenda tersebut. Mengingat neo-khawarij hari ini melakukan penyebaran di media sosial yang sangat mudah diakses oleh khalayak umum.

Peran ini tidak bisa dilakukan sendirian, butuh orang banyak dan  butuh kerjasama kolektif dan saling support antar media sehingga pemahaman tentang Islam yang sebenarnya memenuhi platform media  sosial.  Perjuangan men-counter dan meluruskan penjelasan Islam dari neo-khawarij ini tentunya akan menjadi ladang amal sebagai dakwah menyebarkan Islam damai, toleran dan moderat di tengah tuduhan Islam sebagai agama yang intoleran. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!