ISIS: Generasi Klik dan Pembajak Ayat

3
484

Sangkhalifah.co — Beberapa hari ini, narasi-narasi yang dibuat kelompok ISIS dan sejenisnya mempertontonkan kejahatan dalam bidang agama. Apa itu? pembajakan ayat. Kebiadaban-kebiadaban ISIS masih terus terngiang-ngiang di kuping kita. Aktivitasnya tidak lagi mencerminan akhlak Nabi Muhammad dan konsep jihad dan perang menjadi seperti akidah yang menyisihkan perkara-perkara agama lainnya.

Para pegiat damai dan manusia yang waras dengan tegas mengatakan bahwa Islam bukan agama teroris tapi agama damai. Islam menyisihkan segala bentuk kekerasan dan tindakan radikalisme dalam situasi apapun. Serangan-serangan ISIS dan kelompok radikal lainnya, tidak saja menghilangkan harta dan tahta seseorang, tetapi menghilangkan nyawa seseorang, termasuk perempuan dan anak-anak yang tidak berdosa. Perbuatan ini sangat bertentangan dengan tujuan agama, yakni terpeliharanya jiwa, dan firman Allah SWT: “dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan hak” (Qs. Al-Isrâ’ [17]: 33).

Dalam ayat tersebut, maksud dengan “membunuh jiwa” adalah jiwa orang lain atau membunuh jiwa sendiri (seperti praktik bunuh diri). ISIS dalam menafsirkan ayat lebih kejam dari Sayyiq Qutb, salah satu pemikir Ikhwanul Muslimun, yang menafsirkan “membunuh jiwa” hanya diperbolehkan pada tiga aspek, yaitu: atas dasar qishah, pembunuhan terhadap seorang muhson (laki-laki atau perempuan yang menikah atau sudah pernah menikah secara syar’i) yang berzina, dan terhadap orang yang murtad.

Situasi pandemi yang mendekatkan seseorang kepada seluruh alat teknologi menyebabkan seseorang menjadi “generasi klik”—istilah yang sering digunakan Makmun Rasyid, yang buku soal tersebut sedang ditulisnya—dan menjadi “bapak segala ilmu pengetahuan”. Bermodal berkunjung ke Google, mereka seakan telah mengalahkan ulama-ulama yang mengaji puluhan tahun. Generasi klik ini tidak saja menimpa kelompok radikalis, ekstrimis dan teroris, tapi umumnya di sebuah negara yang minim literasinya. Dan ISIS—termasuk juga pegiat khilafaters—menjadi contoh nyata dari generasi klik. Generasi ini jika dibiarkan maka lambat laun akan menjadi seorang radikalis dan berakhir teroris.

Berawal dari “generasi klik” inilah melahirkan pemahaman yang tidak utuh. Sebut saja soal jihad dan qital. Seakan keduanya merupakan sinonimitas walaupun keduanya sewaktu-waktu bisa bersatu. Jihad yang semula bermakna positif (upaya bertungkus lumus mencapai sesuatu) menjadi seputar perang seperti yang disajikan aktivis dan simpatisan ISIS. Pergeseran makna ini telah disindir oleh Syafi’i Ma’arif. Menurutnya, teologi maut yang diadopsi oleh kelompok teroris bukanlah tentang kesyahidan melainkan mereka yang tidak berani menghadapi dan menyelesaikan masalah hidup di dunia, makanya mereka mengakhirnya dengan mengorbankan nyawa secara sia-sia.

Kekeliruan pemaknaan jihad menyebabkan terjadinya praktik qital (pembunuhan). Bukti yang disajikan Rudolf Peters dalam Islam and Colonialism: The Doctrine of Jihad in Modern History 1979 menyebutkan rata-rata tindakan brutal disebabkan doktrin jihad sebagai sumber inspirasi religius dalam melawan sesuatu. Rudolf memberikan bukti dalam kasus perlawanan rakyat melawan kolonialisme Inggris di India, Abdul Wadir di Al-Jazair melawan Prancis, gerakan Mahdi di Sudan, pemberontakan Urabi Pasya melawan Inggris di Mesir, gerakan Sanusi melawan Italia di Libia, Deklarasi Jihad Utsmaniyyah di Turki. Semuanya menjadikan jihad sebagai sumber religiusnya.

Dalam Qur’an, jihad tidak seluruhnya diperuntukkan untuk perang. Dan perang hanya diperbolehkan bilamana dalam situasi darurat yang berpotensi mengancam. Sedangkan ISIS justru menciptakan perang. Disinilah sebab kesimpulan bahwa ISIS dan kelompok radikalis lainnya bukanlah mewarisi ajaran Nabi Muhamamd dan tujuan syariat itu sendiri. Mereka tepat jika disebut sebagai pembajak agama dan pelaku politisasi ayat-hadis.

Mustahil, jika menciptakan perang di jalan yang tidak dibenarkan syariat, seorang yang wafat disebut syahid. Pemberian gelar syahid hanya diperuntukkan bagi mereka yang memperjuangkan agama dengan penuh kedamaian dan tetap di bawah koridor syariat. Adagium hidup mulia atau mati syahid tidak selalu benar adanya. Sayyid Qutb ketika hendak dihukum gantung oleh penguasa Gamal Abdul Nasser menjadikan adagium itu sebagai pijakan dirinya dalam merelakan nyawanya. Walaupun asal muasal ucapan ini beradal dari Asma binti Abu Bakar saat memberi semangat putranya, ang sedang patah arang di saat peperangan.

Untuk menjadikan dasar bunuh diri dan serangan yang kejam, ISIS dan kelompoknya pun kemudian membedakan antara “bunuh diri” dan “pengorbanan diri”. Bagi mereka perbuatan mereka itu bukan bunuh diri tapi pengorbanan diri yang memperjuangkan agama. Ucapan ini pernah diungkap oleh Aiman Al-Zawahiri, salah satu tokoh Al-Qaeda, sebagaimana yang dikutip oleh Meir Hatina dalam Martyrdom in Modern Islam: Piety, Power and Politics (2014).

Aiman mengatakan bahwa perbedaan keduanya terletak pada niatnya. Apabila seseorang melakukan sesuatu atas dasar putus asa dan menyerah maka itu “bunuh diri”. Sedangkan “pengorbanan diri” adalah perbuatan yang dilakukan atas dasar kesadaran melayani agama. Logika cacat ini kerap diberikan kepada kader-kadernya untuk menguatkan perintah petingginya. Parahnya lagi, Aiman mendasari pada kisah “orang-orang pahit”—dalam literatur klasik dikenal peristiwa ashâbul ukhdûd.

Peristiwa ini dikenal menyimpan kisah adanya seorang raja zalim yang gagal berkali-kali dalam mengeksekusi seorang anak laki-laki, yang tidak mau dipaksa pindah dari agamanya. Akhirnya anak laki-laki itu kasihan melihat sang raja itu. Kemudian dia memberitahukan kepada raja zalim itu bahwa begini caranya membunuh dirinya dengan cara menyalibnya di sebuah pohon dan memanahnya. Perbuatan itu pun diiringi ucapan “atas nama anaknya Tuhan ini”. Kisah ini sangat populer dalam internal Al-Qaeda dan ISIS dan dijadikan basis motivasi dalam melancarkan aksi-aksi bom bunuh dirinya atau penyerangan kepada orang lain.

Orang-orang yang terlibat, memang dipengaruhi oleh ragam faktor. Tapi penulis menyakini bahwa itu sebab “generasi klik” yang membuat rasa penasaran terus tumbuh dan mengabaikan sisi diskursif atau membandingkan pendapat satu dengan lainnya. Fakta ini disebabkan, mereka termasuk kelompok yang menganut mazhab tekstualis-eksklusif bukan komparatif-integratif.

Generasi klik ini pun mengabaikan fatwa ulama. Mengapa? Dalam penelurusan penulis, ulama-ulama yang memberikan fatwa dalam soal-soal aktivitas mereka, kebanyakan mereka yang menjadi bagian dari sebuah pemerintahan. Ini harus disadari oleh Negara Indonesia. Di samping ulama kita yang banyak, pendidikan ke mereka atau upaya pengayoman harus diberikan kepada ulama-ulama yang tidak memiliki jabatan di pemerintahan juga—tentunya stok ulama semisal sangat banyak di Indonesia. Kenapa? bagi mereka pemerintahan dan yang ada di dalamnya adalah thagut dan pendukung hukum kafir. Maka harus dicarikan alternatif yang tidak masuk dalam perspektif mereka. []

Leave a reply

error: Content is protected !!