ISIS: Dari Pelanggaran HAM Hingga Aksi Terorisme

0
123

Sangkhalifah.co — ISIS adalah sebagian kelompok teror yang mengaku Islam. Kelompok ini mengatasnamakan ‘semangat Islam’ untuk melakukan aksi-aksi terornya. Sejak kelahirannya, organisasi bengis pimpinan Abu Bakar Al Baghdadi ini dikenal dengan gerakan terornya yang sangat ganas, bahkan mengalahkan kelompok pendahulunya yaitu Al Qaeda. Catatan GTI bahkan menyebut, aksi terorisme yang terjadi sejak tahun 2017 hampir semuanya dilakukan oleh ISIS. Mengapa demikian? Karena kelompok teror ini berhasil menipu masyarakat awam. Mereka rapi memanipulasi ajaran agama untuk aksi-aksi yang jelas bertentangan dengan agama seperti membunuh orang yang tidak sepaham dan sekeyakinan. Mereka membuat narasi-narasi jahat dengan mengatasnamakan jihad untuk mengafirmasi tindakan terornya.

Meskipun ISIS berasal dari Al Qaeda, akan tetapi ia memiliki pemahaman tentang jihad yang berbeda dengan pendahulunya. Bahkan, ISIS dikenal lebih keras dan lebih berbahaya dibanding Al Qaeda. Sampai-sampai, kelompok teror Al Qaeda saja menyatakan bahwa ISIS bukan dari kelompoknya. ISIS tidak menuntut banyak kepada pengikutnya, hanya meminta agar siapapun orang Islam mengikuti keyakinannya dan hijrah bersama mereka dalam mewujudkan negara yang berbasis syariat Islam. Meskipun ISIS merupakan organisasi teror lama akan tetapi masih terkait erat dengan gerakan teror lainnya seperti The Islamic State of Iraq dan Al Qaeda in Iraq (AQI). Jadi, meskipun ia baru namun di dalamnya tetap diisi oleh para pemain lama.

Kepala Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mohammed Shi’a Al Sudani sebagaimana dikutip CNN, menyebut ISIS telah melakukan pelanggaran-pelanggaran HAM yang sangat nyata karena aksi terornya telah banyak memakan korban. Menurutnya juga, pada tahun 2015, ISIS pernah hendak berganti nama dari ISIS ke IS (Islamic State) demi untuk menutupi aksi kekerasan atas nama agama, pelecehan seksual, pemaksaan pindah agama dan penyiksaan terhadap orang lain yang tidak sepaham. Pada tahun yang sama PBB menyebut 1.2 juta jiwa manusia mengungsi karena takut pada kebrutalan ISIS dan sebanyak 1.420 orang tak berdosa telah dibunuh oleh ISIS. PBB bahkan menyebut ISIS sebagai monster teroris.

Nainggolan dalam buku Kekhalifahan ISIS di Asia Tenggara menyebut, pelanggaran HAM ISIS menyebarkan berita bohong melalui media sosial dengan meng-share foto-foto kekerasan di tempat yang berbeda dengan caption bentuk kekerasan pemerintah Myanmar kepada Muslim Rohingya. ISIS melakukan manipulasi data di media-media untuk menarik simpati dan merekrut anggota baru. Intelejen Malasyia juga menyebut para simpatisan ISIS di negaranya telah berhasil diprovokasi oleh ISIS untuk melakukan jihad pergi ke Rakhine State Myanmar melawan pemilik kekuasaan negara tersebut. Padahal tujuannya satu, yakni untuk melakukan perekrutan kelompok ISIS.

ISIS merupakan gerakan yang memiliki ideologi Salafi Wahabi jihad. Demikian sebagaimana dinyatakan oleh Fu’ad Ibrahim dalam bukunya Da’ish min an Najd ila al-Baghdad. ISIS merupakan kelompok minoritas umat Islam yang dikenal sebagai kelompok yang menghalalkan segala cara, termasuk kekerasan dan teror, dalam perjuangannya. Najih Arromadhoni menyebut, salah satu ciri khas kelompok ISIS adalah melakukan furifikasi agama dari selain Al Qur’an dan Hadis, termasuk pertimbangan aspek maslahat dan mafsadat, padahal keduanya merupakan dasar dalam hukum syariat.

Sebagaimana Wahabi, ISIS gemar menuduh kelompok di luar dirinya sebagai kelompok yang tidak mengamalkan syariat Islam, menumpang, sesat, bidah, musyrik dan kafir. Bahayanya lagi, bagi ISIS dalam beribadah menjalankan kebaikan saja tidaklah cukup. Mereka memiliki kewajiban untuk menyalahkan orang lain yang tidak sejalan dengan kebenaran yang diyakininya. Ia menjadi kelompok lahan konflik dan terorisme. Bagaimana tidak, pemahaman Islam yang ekslusif yang diyakini ISIS akan dijadikan sebagai pemahaman yang satu-satunya benar menurut versinya, sementara yang lain dianggap salah, bahkan wajib diperangi. Sehingga dalam konteks Indonesia, ISIS akan mengkafirkan semua orang yang tidak mengikuti keyakinannya.

Untuk terbebas dari pemahaman ISIS uang sangat membahayakan, kita perlu penawaran dan solusi yang komprehensif. Selain dengan security approuch, aksi dekonstruksi pemahaman-pemahaman keagamaan juga amat penting. Dalam konteks Indonesia, tugas kaum moderat seperti NU dan Muhammadiyah adalah mengupayakan penolakan kepada gerakan sekelompok orang yang berpotensi terjebur pada pemikiran ISIS. Kita patut bersyukur pemerintah telah membubarkan HTI dan FPI, sebagai upaya membendung gerakan-gerakan radikal itu masuk di tubuh bangsa Indonesia. Jika mayoritas umat Islam di Indonesia (dan dunia) terus mengkampanyekan perdamaian, moderasi, dan perdamaian, maka dengan sendirinya ISIS akan tumbang. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!