Insider Eks HTI Memandang Hizbut Tahrir Indonesia

0
1099

Sangkhalifah.co — Masyarakat pesantren, di mana pun, pada masa belajarnya telah mengenal istilah “khilafah”. Istilah ini bukan hal baru dalam tradisi keilmuwan Islam, khususnya kajian-kajian Fikih. Fikih ini merupakan derivasi praktikal dari ajaran Al-Qur’an Al-Karim dan hadis, yang menjadi dermaga terakhir seorang Muslim dalam kehidupannya. Siapapun dia, harus berujung tunduk pada keduanya. Segala bentuk eksprementasi, tafsiran dan pemaknaan bukanlah Qur’an dan hadis itu sendiri. Teks dan tafsir adalah dua hal yang berbeda, namun keduanya bisa saling melengkapi guna memahamkan kepada pembaca.

Dalam konteks Indonesia, perkembangan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan evolusi penafsiran yang sangat cepat bukanlah ada dengan sendirinya, melainkan sebuah proses yang terus menerus dan bersifat niscaya. Teori “permanensi” telah terbantahkan seiring perjalanan Indonesia. Misalnya bagi Nahdlatul Ulama, penerimaan ideologi Pancasila dan sistem demokrasi tidaklah menjadikan ajaran dan nilai-nilai Islam stagnan dan tidak bisa diaplikasikan. Nahdlatul Ulama percaya bahwa interpretasi ulang dalam mengkaji teks-teks Fikih untuk mencari konteks barunya adalah keharusan yang tidak terhindarkan.

Di saat Hizbut Tahrir Indonesia masih berada dalam bayang-bayang masa lalu dan terus menerus mencari klaim kebenaran tafsirannya, Nahdlatul Ulama telah melahirkan gagasan-gagasan progresif dan komunikatif dalam mencari titik temu dalam setiap problematika, khususnya agama dan negara. Relasi keduanya hingga kini masih terus mewarnai pergulatan intelektual Muslim. Di Indonesia, perdebatan itu melahirkan dua kelompok utama: mereka yang masih mendukung terwujudnya Negara Islam (seperti Khilafah Islamiyah, Daulah Islamiyah atau lainnya) dan mereka yang setia pada konsep negara bangsa. Keduanya memiliki konsekuensi yang berbeda dalam praksisnya.

Terobosan berani yang dilakukan penulis dalam buku ini adalah memasukkan kelompok Hizbut Tahrir Indonesia sebagai “khawarij”, yang menurutnya sebagai agen radikalisme dan merusak sendi-sendi dalam bernegara. Sematan “khawarij” ini menurut kami (pihak penerbit) sungguh beralasan. Dimana HTI, memang secara keagamaan telah keluar dari pakem dan kelaziman pendapat mayoritas Muslim dunia.

Pendiri Hizbut Tahrir telah mengeluarkan pendapat yang hingga kini tidak bisa dinalar, yakni berkenaan dengan berdosanya seorang yang tidak memperjuangkan Khilafah Islamiyah—sebagai pengembangan dari tafsir khalifah dalam literatur keislaman. Sedangkan dari sisi kenegaraan, HTI dianggap “khawarij” karena tidak mengakui Pancasila sebagai dasar negara dan terbukti ingin menggantinya.

Ketidaklaziman pendapat HTI ini perlu diulas dan di-counter, agar masyarakat tidak terbuai dan terkena virus—meminjam istilah Ayik Heriansyah. Keutuhan negara dan kemaslahatan beragama harus dipelihara dari segala rongrongan dan marabahaya. Dimana sesungguhnya, Indonesia sudah menemukan konsensus bersamanya yakni negara yang berasaskan Pancasila dan sudah final. Keabsahan dan keutamaan berada di bawah naungan Pancasila lebih banyak ketimbang Khilafah Tahririyah yang digagas oleh Hizbut Tahrir.

Penerbit Sang Khalifah merasa bangga bisa menerbitkan buku Mantan Ketua DPD HTI Bangka Belitung. Naskah ini disajikan penuh keistimewaan. Sebab, ditulis berdasarkan pengalaman, kajian yang didapati dan ditafsirkan secara vulgar dan lugas. Adalah Ayik Heriansyah, penulis buku Dosakah Menjadi Indonesia; Eks HTI Menjawab.

Akhir kata, dihaturkan terima kasih kepada Ayik Heriansyah yang telah berani menyerahkan dan mempercayakan kepada penerbit untuk mencetaknya dan memperbanyak naskah ini. Selamat membaca!

Pemesanan Klik: Penerbit Sang Khalifah

Leave a reply

error: Content is protected !!