Implementasi Agama dan Negara Perspektif Ahmad Syafii Maarif

1
420

Sangkhalifah.co — Ahmad Syafii Maarif atau sering disapa Buya Syafii adalah salah satu tokoh pluralis abad 21 yang dimiliki oleh Indonesia. Ia dengan tegas menyuarakan konsep keislaman yang egaliter, non-diskriminasi, toleran, dan inklusif. Keislaman penganut beriman yang tidak meninggalkan nilai kemanusiaan serta mengedepankan keindonesiaan dalam bingkai kemajemukan dan persatuan.

Dalam pandangan Ahmad Syafii Maarif tentang agama dan negara, menurutnya ketika Islam di publikasikan dalam konteks keindonesiaan, maka akan muncul sebuah Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa Indonesia. Dalam bukunya, Al-Quran, Realitas Sosial, dan Limbo Sejarah (sebuah refleksi), Ahmad Syafii Maarif juga menuturkan bahwa Islam adalah  agama yang secara tegas menawarkan prinsip equilibrium atau keseimbangan kepada manusia. Dia mengenal Islam sebagai pandangan hidup. Di mana proses islamisasi itu sendiri bergerak dari tahap kuantitatif menuju tahap kualitatif dalam suatu pergumulan kreatif dan kritis.

Buya Syafii Maarif mengindikasikan bahwa manusia beriman adalah manusia yang mampu memberi arah moral bagi setiap perubahan sosial. Bahwa kita sebagai umat beragama harus mampu menunjukkan sikap humanis yang menitikberatkan perbuatan pada moralitas, bukan sebaliknya malah meniadakan kebajikan dengan alasan keimanan. Dapat dipahami, bahwa indikator manusia beriman adalah hadirnya kepekaan nurani yang kritis terhadap masalah moralitas dan keadilan.

Tidak jauh berbeda  paradigma sembiotik, memberikan sebuah penjabaran, bahwa hubungan agama dan negara berada pada posisi saling membutuhkan dan bersifat timbal balik (sembiosis mutualita). Dalam pandangan ini, agama membutuhkan negara sebagai instrumen dalam melestarikan dan mengembangkan agama. Begitu juga sebaliknya, negara juga memerlukan agama sebagai sumber moral, etika, dan spiritualitas warga negara.

Dengan begitu dapat dikatakan, bahwa agama telah menjadi kebutuhan dasar manusia yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosialnya, selain itu agama juga diyakini tidak hanya berbicara soal ritual semata, melainkan juga berbicara tentang nilai-nilai yang harus dikonkritkan dalam kehidupan sosial dan dalam ranah ketatanegaraan. Di sini ada titik terang, lahirnya agama dan negara sebenarnya adalah suatu misi untuk saling mendukung satu dengan yang lainya. Hingga bisa melahirkan paham untuk saling menjaga keutuhan NKRI.

Dalam bukunya membumikan Islam, Buya Syafii juga memberikan penjabaran, bagaimana kualitas keimanan seseorang. Beliau dengan gampang menjelaskan, bahwa Islam yang berlandaskan al-Quran senantiasa mengamalkan tentang kebaikan-kebaikan. Karena al-Quran adalah sebuah kitab suci yang menempatkan manusia dan persoalan hidupnya sebagai tema sentral. Ungkapan tentang hudan lin naas dalam surah al-Baqarah ayat 185 atau hudan lil muttaqin dalam surah al-Baqarah ayat 2 menjadi bukti bahwa al-Quran menawarkan dirinya secara fungsional untuk memimpin manusia secara moral ke arah jalan yang lurus dan benar.

Kemudian ditegaskan, untuk menciptakan pilar-pilar peradaban yang lebih stabil, Al-Quran menawarkan kekuatan fikr dan zikir untuk diintegrasikan secara mantap. Sebagaimana dalam perjalanan sejarah, dominan zikir (kesadaran mendalam tentang kehadiran Tuhan) semata dengan mengesampingkan fikr (penalaran) tidak membawa kemajuan dalam peradaban manusia. Sebaliknya pendewaan terhadap penalaran telah membawa sejarah manusia kepada satu situasi yang serba membosankan, ganas, dan kehilangan terhadap visi yang ultimate. Konsep al-Quran tentang umatan wasathan (umat penengah) adalah wujud konkret dari masyarakat yang diidamkan.

Al-Quran di sini menekankan bahwa orang-orang mukmin itu bersaudara, di lain sisi juga memberikan penegasan bahwa umat manusia merupakan satu kesatuan. Inti sarinya, orang-orang mukmin tidak halal menggunakan imannya untuk merobek-robek dan menghancurkan doktrin kesatuan umat manusia. Ini artinya, bahwa seorang muslim haruslah mengintegrasikan imannya dengan wawasan kemanusiaan.

Dari situ wawasan ilmu dan kemanusiaan yang serba terbatas perlu secepatnya diganti dengan wawasan  yang lebih kreatif. Di mana, seorang Muslim di samping menjadi warga negara secara sadar, ia pada waktu yang sama juga harus tampil sebagai warga dunia secara sadar pula. Bukankah umat Islam mengklaim bahwa risalah Muhammad itu adalah sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta). Maka menjadi sebuah kebodohan sejarah yang tidak dapat dimaafkan bila umat ini masih melanggengkan wawasan yang sempit sebagai manifestasi dari ketidaktahuan tentang makna Al-Quran bagi peradaban manusia yang bermoral. []

*Nurul Izzah, Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!