Iming-Iming Kesejahteraan Dibalik Propaganda ISIS

1
359

Sangkhalifah.co — Dari sekian banyak kelompok ekstrim yang menggunakan cara kekerasan dalam “berdakwah” adalah Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). ISIS telah banyak membunuh dan memenggal kepala masyarakat Suriah yang tidak mendukung dan sejalan dengan keyakinan keagamaannya. Dengan dalil memperjuangkan Islam sebagai perintah Allah dan taat kepada syariat mereka rela menumpahkan darah manusia, bahkan kepada Muslim sekalipun. Padahal, Islam melarang membunuh manusia kecuali karena sebab hukum qishas yang berlaku di sebuah tempat. Tidak hanya membunuh yang dilarang Islam, mengusir seseorang dari Negaranya saja tidak dibenarkan dalam Islam. Kesemuanya memberi pesan yang cukup kuat bahwa ISIS meskipun mengklaim diri sebagai gerakan pendukung Islam tetapi sebetulnya bukan Islam yang diperjuangkan.

Masih banyak masyarakat tertipu oleh ISIS karena ketidaktahuannya. ISIS sendiri sebenarnya merupakan gerakan sempalan dari Al-Qaeda, kelompok ekstrim yang dilabeli sebagai terorisme internasional oleh PBB. Mus’ab Al-Zarqawi adalah pendiri kelompok ISIS, yang sebelumnya mengalami perseteruan dengan Al-Zuhiri, pemimpin kedua Al-Qaeda setelah Osama Bin Laden. Al-Zarqawi lepas dari kelompok Al-Qaeda dan mendirikan ISIS dengan klaim sebagai perjuangan menegakkan syariat Islam secara total.

Dari sini dipahami bahwa ISIS jelas-jelas bukanlah pejuang Islam dan syariat Islam. ISIS adalah kelompok teroris sempalan Al-Qaeda yang telah banyak melakukan aksi teror di belahan dunia. Satu peristiwa yang mengagetkan dunia adalah tragedi penghancuran gedung World Trade Center (WTC) New York (2001) yang diakui oleh Bin Laden sebagai perbuatan kelompoknya. Selain itu, para peneliti terorisme juga menyebut peristiwa-persitiwa terorisme di belahan dunia kerapkali diakui oleh Osamah sebagai tanggungjawab Al-Qaeda.

Lantas apakah yang selama ini diperjuangkan ISIS adalah jihad? Nasser Abbas, seorang peneliti gerakan terorisme menyebutkan bahwa apa yang dilakukan ISIS tidak ada nilai jihad sedikitpun. Dalam video yang beredar di YouTube, ISIS secara terang-terangan membunuh, memenggal, menembak siapa saja yang tidak taat kepada diri mereka. Termasuk tidak taat dengan keinginan melampiaskan nafsu sex mereka. Perbuatan seperti ini jelas sangat bertentangan dengan Islam. Dan sama sekali bukan jihad.

Jihad dalam Islam memiliki aturan yang ketat, di mana misalnya tidak boleh membunuh orang-orang yang tak berdosa, wanita dan anak-anak. Sementara ISIS dengan bodohnya secara jelas membunuh orang tanpa berdosa, maka kita bisa memastikan gerakannya bukanlah jihad, tapi pembantaian orang tak berdosa yang dikecam oleh agama manapun. Sebagian aturan jihad Islam juga, ketika ada kelompok musuh yang mati tidak boleh umatnya memotong kuping, telinga, dan hidung. Sedangkan ISIS dengan dungunya melakukan pembunuhan seenak sendiri dengan menembak bagian mana saja yang mereka mau atas orang yang tidak mau mengikuti nafsunya.

Apa yang dilakukan oleh ISIS bukan memperjuangkan agama, tetapi politik. Abdul Mu’thi Sekretaris Muhammadiyah menegaskan bahwa sejak awal berdirinya ISIS bukan bertujuan membangkitkan keagamaan di Suriah dan Irak. Akan tetapi tujuan politik yaitu untuk menggulingkan Bashar Ashad. Sebab itu umat jangan mudah terprovokasi dengan berita-berita hoax tentang keislaman ISIS. Sebab dari awal gerakan ini dibangun atas dasar politik, bukan agama Islam. Penyataan ini dikonfirmasi juga oleh salah satu Jurnalis Perancis yang hendak mewawancarai “Tentara Allah” (sebutan ISIS atas anggotanya).

Jurnalis tersebut penasaran dan ia menyamarkan namanya dengan nama “Said Ramzy”. Ketika ia mendapati kegiatan dan aktivitas kelompok ISIS ia kaget sebab di dalamnya seperti tidak ada kegiatan Islam, yang ada hanyalah pemuda-pemuda yang sedang frustasi, stress, galau, dan ia didoktrin dengan melakukan jihad ala ISIS. Padahal, apa yang dimotivasi itu tujuannya adalah politik untuk menguasai wilayah Suriah dan Irak serta bahkan dunia.

Sebagian masyarakat yang tertipu dengan ISIS karena diiming-imingi adanya kesejahteraan yang melimpah jika seseorang bergabung dengan ISIS. Kisah Nur Dhania, anak perempuan umur 15 tahun yang pernah bergabung dengan ISIS harus menjadi pelajaran bagi semua orang. Nur Dhania yang mempelajari ISIS dan aktivitasnya melalui Media Sosial menemukan bahwa ISIS adalah kelompok Islam yang akan menjanjikan surga. Bergabung dengan ISIS akan diberikan kesejahteraan berupa pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan hidup yang penuh dengan nilai-nilai Islam.

Tidak tanggung-tanggung, Dhania berhasil mempengaruhi keluarganya hingga Nenek, saudara perempuan, paman, bibi, dan orang tuanya berangkat ke Suriah bergabung dengan ISIS. Sesampainya di sana, sebagaimana pengakuan Dhania setelah pulang, yang ia rasakan bertolakbelakang dengan nilai Islam. Yang ada hanya kekerasan, ditempatkan di tempat kotor, pemaksaan, dan sama sekali tidak diberi kesejahteraan. Hanya ada orang-orang yang beraktivitas karena nafsunya, bukan karena Islam dan kesejahteraan rakyatnya. Dengan lika-liku yang panjang, Dhania pun menyesali dan kabur dari ISIS. Apa yang dialami Dhani membuktikan bahwa ISIS bukan kelompok islami, ia adalah kelompok teroris yang mengatasnamakan Islam.

Kejadian yang di alami Dhania menjadi teguran bagi keluarga agar anak-anak bisa lebih dijaga dan diperhatikan supaya tidak terjerumus kepada tipuan kelompok ISIS yang tidak memperjuangkan Islam sedikitpun. Islam adalah agama kasih sayang dan kemanusiaan. Islam mengasihi, bukan menyakiti. Islam bukan agama laknat, tetapi agama rahmat, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada seluruh alam. Suatu hari ketika Nabi Muhammad hendak bepergian ke Thaif, Nabi disuguhi adegan adanya seorang laki-laki yang hendak menyembelih Kambing.

Sewaktu Kambing itu dirobohkan dan hendak disembelih, laki-laki itu baru mengasah pedangnya di depan Kambing tersebut. Rasulullah menegurnya agar tidak mengasah alat potong kambing itu di depan Kambing yang hendak disembelihnya. Sirah ini memberi isyarat yang kuat agar umat Islam tidak melakukan intimidasi dan teror, bahkan kepada binatang sekalipun. Perbuatan teror adalah perbuatan yang tidak memiliki tempat di dalam agama Islam. Sebab Islam murni merupakan agama rahmat bagi seluruh alam.

Apa yang dilakukan oleh ISIS sama sekali tidak mewakili Islam. Sehingga salah jika ada orang yang phobia dengan Islam karena menuniversalkan perbuatan teror ISIS bagi semua umat Islam. ISIS hanya berlindung di bawah agama untuk melancarkan nafsu kekuasaan dan nafsu sexnya. Umat Islam di Indonesia jangan sampai tertipu ke sekian kalinya oleh ISIS yang bukan Islam itu. Umat Islam di Indonesia harus menyadari akan kerahmatan Islam dalam konteks negara Indonesia.

Jihad dalam konteks kini dapat dilakukan dengan meningkatan kesejahtaraan ekonomi, pendidikan, budaya, politik, untuk kemajuan bangsa. Islam di Indonesia pun telah menyiapkan surga bagi mereka yang dapat berislam secara santun, toleran, mengedepankan perdamaian, dan saling menghormati antar sesama manusia, baik Muslim atau non-Muslim. Nilai-nilai Islam di Indonesia akan terus membaik dan sempurna dengan kebaikan umatnya dalam bergotong royong dalam memajukan agama dan bangsa. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!