Ikhtiar Santri Membungkam Radikalisme Agama

2
334

Sangkhalifah.co — Sejarah telah mencatat bahwa radikalisme adalah masalah klasik. Bisa dikatakan tidak ada satu jejak peradaban pun yang tumbuh dan berkembang tanpa ditimpa gerakan radikal. Bahkan Islam mengakui, peradaban Islam telah diterpa aksi radikalisme semenjak masa Sahabat Nabi SAW. Puncaknya adalah ketika muncul kelompok intoleran dan eksklusif yang dikenal dengan sebutan Khawarij.

Gerakan ini berawal dari terjadinya perang Shiffin antara kelompok Sayyidina Ali dan Mu’awiyyah Ketika perang berkecamuk dan kelompok Sayyidina Ali hampir merebut kemenangan, kubu Mu’awiyyah menawarkan jalur perundingan sebagai penyelesaian konflik, dan Sayyidina Ali menerima tawaran tersebut. Kelompok ini secara tegas menolak tawaran perundingan yang diterima Sayyidina Ali. Menurut mereka, permusuhan bisa diselesaikan hanya dengan hukum Tuhan, bukan dengan jalur perundingan. Akhirnya kelompok Sayyidina Ali dianggap kafir dan dituduh sebagai pengecut oleh Khawarij. Hal tersebut yang menyebabkan Khawarij berani melegitimasi tindakan teror mereka terhadap umat muslim yang tidak sependapat.

Dengan berjalannya waktu, tindakan kelompok Khawarij ini terus berkelanjutan. Mereka mewariskan pola dasar (prototype) bagi gerakan-gerakan ekstrem di masa-masa selanjutnya. Terbukti, di abad ke-18 muncul kaum ekstremis Wahabi yang diprakarsai oleh Muhammad bin Abdul Wahab di semenanjung Arabia. Mereka mewarisi pola gerakan purifikasi (pemurnian) ajaran agama Islam. Begitu pula munculnya organisasi Ikhwanul Muslimin yang di masa selanjutnya banyak membidani lahirnya aktivis pemikiran dan aktivis pergerakan yang mana buku-buku mereka sering menjadi penyebab beberapa aksi terorisme dan tokoh-tokohnya menjadi pemimpin beberapa organisasi jihad seperti Al-Qaedah atau pun Islamic State in Iraq and Syria (ISIS), seperti Sayyid Qutb atau Abdullah Azam yang memengaruhi tokoh-tokoh radikal pada dekade delapann puluh hingga sembilan puluhan.

Berkaca dari fakta sejarah, paham keislaman bernuansa ekstrem kanan atau radikal keberadaannya bisa dikatakan sangat beresiko. Biasanya, gerakan-gerakan kelompok radikal juga memiliki akibat yang tidak sederhana. Sehingga banyak kewajiban-kewajiban agama yang terbengkalai dan olehnya, banyak nyawa yang dikorbankan untuknya, dan lebih banyak kerusakan yang timbul karenanya.

Baca: Jihad Santri Dalam Kontra Narasi di Media Sosial

Dalam hal radikalisme agama, ketidakstabilan kehidupan sosial ditengarai dapat menimbulkan gerakan radikal keagamaan—bahkan gerakan radikal secara keseluruhan—bisa tumbuh dan berkembang. Karena beberapa kelompok Islam radikal menganggap bahwa universalisme Islam mampu mengatur seluruh sendi-sendi kehidupan termasuk tata cara bernegara. Tak heran sosial-politik menjadi medan perjuangan mereka.

Di sisi lain, ada indikasi atas ketidakjujuran ilmiah demi kepentingan tertentu. Kelompok Islam radikal menggariskan pemahaman-pemahaman tersebut dari dalil-dalil keagamaan secara tekstualis dan tidak sesuai dengan metodologi penggalian hukum. Sehingga mengabaikan konteks atau kondisi dan situasi yang melatarbelakangi sebuah permasalahan mengakibatkan ketimpangan berpikir.

Di Indonesia, radikalisme agama mengemuka di masyarakat seiring terbukanya kran kebebasan berpendapat sejak masa Revolusi. Hal ini pun mendapat legitimasi melalui UU Nomor 9 tahun 1998 tentang Kebebasan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Sejak saat itu, organisasi-organisasi yang cenderung memiliki haluan yang tidak sejalan dengan ruh Pancasila mulai bermunculan. Bahkan aksi-aksi radikal yang berujung pada tindakan terorisme telah disaksikan publik di tahun 2002, yakni pada tragedi Bom Bali.

Hingga saat ini, radikalisme agama di Indonesia belum menemukan titik surut. Tatanan kehidupan dengan kecanggihan teknologi disadari oleh para aktivis gerakan Islam fundamentalis dan kelompok ektremis. Mereka memanfaatkan kecanggihan teknologi digital sebagai tunggangan untuk menyebarluaskan ideologi radikal di Indonesia. Bagi mereka, menebar doktrin serta propaganda melalui media informasi dan komunikasi memiliki nilai efektivitas yang cukup tinggi. Konten-konten berupa kajian Islam intoleran mewabah, berita hoax dan ujaran kebencian menyebar, seruan sikap anti pemerintah dan adu domba merajalela.

Baca: Penafsiran Ahistroris: Antara Sayyid Qutb dan HTI

Mereka telah menjadi ancaman serius bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, kaum santri sebagai salah satu elemen bangsa memiliki tanggung jawab dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terus diuji eksistensinya. Dalam konteks radikalisme agama sebagai ancaman keutuhan bangsa, barisan santri dan kiai berkewajiban untuk memberikan kontribusi secara nyata dalam memperkokoh semangat persatuan melalui internalisasi nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks ini, penyelarasan ide-ide keislaman dan kebangsaan secara ideal dan proporsional dibutuhkan dalam rangka meneguhkan Islam berwawasan kebangsaan yang moderat (Tawassuth), seimbang (Tawazun), adil (Ta’adul) dan toleran (Tasamuh).

Bagi para santri, kepekaan untuk menerjemahkan setiap zaman menjadi modal penting dalam membaca situasi kondisi keumatan. Karenanya, Fakhruddin ar-Razi (wafat 606 H.)—ulama pakar tafsir kenamaan—menyampaikan pesan utama dalam kitabnya yang berjudul Mafatih al-Ghaib:

“Hendaknya orang yang berakal menjadi pribadi yang menjaga lisannya, mengetahui perkembangan zamannya dan menunaikan tugas-tugasnya.”

Era milenial telah membawa para santri pada tantangan yang jauh berbeda dengan para pendahulu-pendahulunya. Perubahan sosio-kultural masyarakat menyebabkan terjadinya kesenjangan dengan generasi sebelumnya. Sehingga strategi dan arah dakwah harus disesuaikan dengan karakter dan kepribadian umatnya sendiri. Santri saat ini dihadapkan dengan kultur masyarakat modern yang bergantung pada teknologi. Karakter tersebut harus menjadi pertimbangan bagi kiai muda sebagai upaya dalam menyesuaikan misi dakwah dengan segmentasi sasarannya (al-Mad’u).

Lahirnya kemajuan teknologi di era digital ini seharusnya membuat para santri mengoptimalkan jejaring sosial sebagai media penunjang dakwah tanpa menghilangkan prinsip dan pedoman para pendahulunya. Dunia siber dan teknologi inilah yang dijadikan sebagai wahana dalam melindungi masyarakat dari propaganda gerakan Islam radikal, fundamentalis dan kelompok ekstremis.

Langkah kongkrit yang bisa ditempuh santri, pertama, mengedepankan nilai-nilai rahmat; kedua, menolak paham radikalisme dan yang bertentangan dengan empat pilar bangsa, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945; ketiga, memanfaatkan peluang kemajuan teknologi digital dalam menolak segala bentuk caci maki, berita hoax, ujaran kebencian, dan provokasi; keempat, mengajak seluruh elemen bangsa untuk senantiasa menjaga persatuan nasional dan keharmonisan hidup beragama, berbangsa dan bernegara. []

*Nasikhun Amin, Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Kediri dan Mahasiswa Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!