Ijtihad Dalam Jihad: Untuk Melawan Radikalisme

0
442

Sangkhalifah.co — Ijtihad merupakan bentuk masdar dari kata kerja ijtahada-yajtahidu-ijtihādan. Kata ini mempunyai makna secara bahasa bersungguh-sungguh, memeras pikiran, bekerja semaksimal mungkin. Ijtihad dikenal dalam Islam sejak Nabi Saw. masih ada. Dibuktikan dengan sabdanya, dari Amr bin al-‘Ash “apabila seorang hakim berhukum lalu berijtihad dan benar, maka baginya dua pahala dan apabila ia berhukum lalu berijtihad dan salah, maka baginya satu pahala” (HR. Abu Daud, no. Hadis; 3103). Dalam Hadis lain disebutkan ketika Nabi hendak mengutus Mu’az bin Jabal ke Yaman untuk menjadi hakim, sebelum berangkat Nabi bertanya sumber yang akan digunakan Mu’az dalam memberikan putusan. Mu’az menjawab, dengan kitabullah (Al-Quran), sunnati rasulillahi dan jika tidak ada dalam keduanya, ajtahidu ra’yī (berijtihad dengan akalku).

Kata ini juga didefinisikan oleh para ulama fikih karena pada teks Hadis tersebut ijtihad adalah bagian dari pengungkapan hukum. Sehingga para ulama ushul fiqh mendefinisikan ijtihad adalah menghabiskan kesanggupan dalam mendapatkan suatu hukum syara’ yang amali (berupa perbuatan) dengan jalan mengeluarkannya dari teks agama: Al-Quran dan Hadis. Definisi ini menunjukkan bahwa Al-Quran dan Hadis yang sudah final dituntut untuk menjawab kasus-kasus hukum selalu ada yang baru dan tak pernah terjadi pada zaman nabi. Dalam literatur Islam, orang yang berijtihad dikenal dengan mujtahid. Seorang mujtahid inilah yang nantinya akan memunculkan hukum yang digali dari Al-Quran dan Hadis bagi kasus-kasus baru yang tidak muncul pada masa Nabi.

Selain kata ijtihad, dalam Islam ada yang disebut jihad. Memiliki akar kata yang sama dengan ijtihad, jahada. Kata jihad kerap kali disebutkan dalam ayat Al-Quran tetapi kata ini kerap kali juga kontroversial. Kata ini awalnya multimakna (memeliki banyak makna), namun akhirnya mengerucut ke satu makna yaitu perang melawan musuh Islam (orang yang di luar Islam). Maka hari ini jika seseorang mendengar kata jihad, yang akan terbayang adalah medan perang, aksi menghancurkan penguasa yang zalim melalui aksi kekerasan atau mengharcurkan kemaksiatan yang dirasa sudah menjadi biasa dan dilegalkan. Padahal kata jihad dalam Al-Quran multimakna sehingga banyak makna dari hanya selain perang,

Sebagai kata yang sudah mengerucut ke satu makna, perang. Jihad akan sering sekali berkaitan dengan orang di luar Islam dan kata ini membuat mereka terasa terancam, bukan hanya non-muslim yang terancam, bahkan yang muslim pun sering kali merasa terancam dengan satu makna jihad ini. Pasalnya, kelompok yang hanya memaknai jihad sebagai peperangan ini sering dikenal dengan kelompok radikal. Sebuah kelompok yang selalu meresahkan dunia dengan doktrin jihad versi mereka yang diadopsi dari Al-Quran dan terjemahnya. Jihad dalam Al-Quran menjadi rigid dan kaku. Doktrin jihad mereka dengan terjemah Al-Quran sering menyasar lawan politik, kelompok yang berbeda pandangan dan tentu saja orang di luar Islam.

Kegiatan memunculkan makna dan praktek jihad dari kelompok radikal ini dengan hanya melihat terjemah lalu melakukan praktek jihad dengan konsep mereka. Para kelompok radikal ini biasanya untuk mengelabui tergetnya dengan menyuguhkan kata jihad dalam Al-Quran dan maknanya, untuk mengajak mereka ikut angkat senjata menghadapi musuh mereka, tentunya orang yang mereka anggap di luar Islam. tanpa tahu konteks ayat tersebut diturunkan, bagaimana tafsir dari para ulama, atau dalam bahasa saya tanpa ijtihad. Begitulah, hanya modal terjemahan.

Al-Quran memang sering mengungkapkan kata jihad yang berarti qital (peperangan) atau kata qital  langsung untuk menunjukan salah satu bentuk jihad tapi dalil tidaklah bisa selalu digunakan untuk mendorong memerangi orang-orang di luar Islam khususnya dalam konteks Indonesia hari ini. Jihad qital  dalam sejarahnya dilalui dengan kasus intimidasi terhadap kaum muslimin; larangan beribadah bagi orang Islam. Sehingga ayat-ayat jihad (qital) ditafsirkan oleh para ulama hanya bisa dilakukan ketika umat Islam dalam keadaan tertekan, lalu jihad bisa dilaksanakan sebagai bentuk pembelaan (ofensif) bukan penyerangan (defensif).

Berusaha untuk mengetahui alasan atau sebab turunnya sebuah ayat, atau konteks diturunkannya dalam keadaan tertentu adalah bentuk dari ijtihad. Usaha ijtihad yang tidak lagi ditempuh oleh para pejihad –yang hanya memaknai jihad dengan qital- menjadikan jihadnya ‘konyol’; bom bunuh diri, serang rumah ibadah yang beda agama. Qital dinggap jihad yang paling besar, siapa yang tidak berani berperang akan dianggap takut dalam melaksanakan jihad, tentu dalam versi mereka.

Padahal jelas, jihad berupa qital adalah pertempuran kecil, sebagaimana sabda Nabi setelah kembali dari perang Badar:

رجعتم من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر فقيل وما جهاد الأكبر يا رسول الله؟ فقال جهاد النفس (رواه البيهق)

Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran yang kecil menuju pertempuran yang besar. Sahabat bertanya, “apakah pertempuran yang besar itu wahai, Rasulullah?” Nabi menjawab “Jihad memerangi hawa nafsu”.

Pada Hadis di atas, jihad melawan musuh yang jelas di depan mata dikatakan jihad kecil oleh Nabi. Justeru jihad yang besar kata Nabi adalah jihad melawan musuh yang menyelinap pada diri sendiri; nafsu sendiri. Dalam situasi krisis upaya ijtihad, seperti kejadian pada kelompok Islam radikal, tentu jihad yang besar hari ini adalah upaya memerangi kebodohan yang melekat dalam diri agar tidak mengedepankan ego ketika hendak menafsirkan kalam ilahi. Hingga jihad (qital) tak sembarangan lagi dipraktikkan tanpa tahu alasan, asbab dan kondisi ayat-ayat itu diturunkan. []

Leave a reply

error: Content is protected !!