Idul Adha dan Isyarat Umat Harus Menolak Khilafah

0
316

Sangkhalifah.co — Idul Adha akan kembali diperingati oleh umat Islam pada tanggal 20 Juli 2021 nanti. Hari Raya ini identik dengan kisah perjuangan keluarga Nabi Ibrahim AS yang didapati di dalamnya anak dan istri beliau alaihissalam. Allah SWT dalam salah satu ayat Al-Qur’an, berfirman, Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (QS. An-Nahl: 123). Para ulama tafsir menegaskan bahwa ayat ini pada prinsipnya adalah keharusan umat Islam untuk mengikuti salah satu dari dua pilihan, yaitu pilihan yang berlandaskan Islam dan yang tidak. Saat Nabi Ibrahim, diperintah Allah untuk berkurban, meninggalkan istri dan anaknya, dan membangun Ka’bah, beliau memilih menjalankannya sebab semuanya merupakan perintah Allah.

Menarik untuk diketahui, mengapa dalam ayat di atas kata yang bermakna ‘lurus’ tidak menggunakan kata mustaqim, akan tetapi dengan kata hanifan? Jika mengutip pandangan Mohammad Syahrur, hanifan maknanya bukan lurus sebagaimana mustaqim. Hanifan adalah lurus dalam arti dinamis sesuai dengan kemaslahatan umat manusia. Syahrur misalnya memberi contoh tentang hukum potongan tangan. Maka hukum itu bernama hanifan, karena dinamis, bisa diterapkan dan atau tidak (dengan diganti menggunakan bentuk hukum lain) tergantung di mana dan kapan hukum itu diterapkan. Sementara itu, mustaqim, bermakna tegak, lurus, dan tidak bisa dirubah-rubah, sebagaimana perintah salat.

Perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk mengikuti agama (millah) Ibrahim, didasarkan pada sikap yang hanif, bukan sekadar mustaqim. Oleh sebab itu, ketika Nabi Ibrahim diperintah untuk menyembelih Ismail, beliau mengikuti hukum/perintah Allah, dan Allah menggantinya dengan hewan Kambing. Menyembelih Kambing sebagai simbol dan pengganti dari perintah asal, yaitu memyembelih Ismail. Ini maknanya bahwa, perintah Allah itu ada yang bersifat mustaqim (tetap) dan ada yang bersifat hanifan (dinamis). Dalam konteks penyembelihan Nabi Ismail yang kemudian diganti Kambing serta menjadi dasar menyembelih kurban, sifatnya adalah dinamis, karena Allah tidak memaksakan Nabi Ibrahim untuk menyembelih diri Ismail.

Rangkaian peristiwa yang masih berkaitan dengan Idul Adha adalah peristiwa dimana Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, mencarikan air untuk anaknya, Ismail. Allah memerintahkan Siti Hajar untuk mencari air dari bukit Shafa ke bukit Marwa, bahkan hingga beliau bolak-balik sebanyak tujuh kali. Peristiwa ini diabadikan sebagai ibadah Sa’i yang merupakan rangkaian ibadah haji. Ketika Siti Hajar tidak menemukan, akhirnya Allah meminta agar dia kembali ke tempat di mana Ismail ditinggal. Dan di sana Allah memberi kemudahan di mana kaki Ismail menendang-nendang bagian tanah tertentu hingga keluar air Zam-zam. Perintah Allah kepada Siti Hajar bersifat hanifan, bukan mustaqim, sehingga ia tidak dipaksa sampai benar-benar mendapatkan baru kembali kepada anaknya.

Sifat agama Ibrahim yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad yang bersifat ‘hanifan’ ini relevan dengan konteks pembentukan negara. Allah SWT tidak memaksakan umat Islam untuk mendirikan khilafah Islamiyyah, jika berpotensi mendatangkan madhorot dan keburukan di tengah umat. Maka dari itu Nabi Muhammad SAW pun saat di Madinah tidak mendirikan dan mendeklarasikan negara Islam, akan tetapi Negara Madinah. Negara Madinah yang berarti negara peradaban, yang menghargai semua perbedaan dan segala bentuk keragaman keyakinan agama. Berdirinya negara Madinah merupakan perwujudan dari perintah Allah yang bersifat ‘hanifan’, dinamis.

Dalam konteks modern seperti sekarang, pembentukan negara Islam, khilafah Islamiyyah, Daulah Islamiyyah, atau apapun namanya, juga tidak lain merupakan pemerintah yang ‘hanifan’, bukan ‘mustaqim’. Selain tidak ditemukan bukti perintah agar umat Islam mendirikan negara Islam, Nabi Muhammad dan para sahabatnya pun tidak sesekali menamakan diri sebagai orang-orang yang mendeklarasikan negara Islam. Apalagi dalam konteks keindonesiaan, yang mana masyarakatnya sangat beragam, sisi ‘hanifan’ agama perlu dijunjung tinggi, sebagaimana perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk mengikuti millah Ibrahim yang hanifan tersebut.

Idul Adha adalah momen membangun solidaritas kemanusiaan, dimana orang-orang yang mampu harus membantu mereka yang tidak mampu. Kemudian, di hari Raya Idul Adha ini juga merupakan momentum untuk mengekang hawa nafsu keduniawian, seperti keinginan mendirikan negara khilafah. Sebab, perintah-perintah Allah di dalam konteks Idul Adha bersifat ‘hanifan’, dinamis sesuai dengan perkembangan tempat dan waktu. Di balik semua itu, Idul Adha juga menjadi momentum agar umat Islam menolak khilafah Islamiyyah, yang merupakan produk gagal. Selain tidak diperintahkan oleh ayat Al-Qur’an mana pun, mendirikan khilafah juga bukan suatu yang mustaqim (tetap). Khilafah hanyalah produk sejarah manusia, bukan perintah Tuhan. [Eep]

Leave a reply

error: Content is protected !!