Ibnu Taimiyah, Doktrin Khilafah HTI: Menyalahi Quran dan Hadis

0
491

Sangkhalifah.co — Andai Ibnu Taimiyah saat ini masih hidup dan menyaksikan bagaimana HTI begitu “getol” mengampanyekan ide-ide khilafah yang sangat politis sebagai bagian dari ajaran Islam (politik-religius), maka bisa jadi sang pelopor Islam puritan itu akan mengatakan sembari menegur.

Benar bahwa di dalam Quran dan hadis telah ada istilah yang pasca kewafatan Nabi Muhammad sering dikaitkan atau diasosiasikan dengan konsep-konsep politik (negara), yaitu istilah khalifah. Istilah tersebut sering dipejorasikan menjadi istilah yang berkaitan dengan politik dalam dunia Islam pasca wafatnya Nabi Muhammad. Akan tetapi, menurut Ibnu Taimiyah, penyebutan istilah-istilah tersebut dalam Quran maupun hadis sejatinya tidak ada yang memiliki signifikansi arti sebagai negara (politik) maupun religius.

Sejauh Ibnu Taimiyah mengamati kata khalifah yang dipergunakan dalam Quran maupun hadis hanya dikenakan kepada seorang yang menggantikan atau mewakili seseorang lainnya.

الاستعمال الموجد في الكتاب والسنة يدل علي ان هذاالاسم بتناول كل من خلف غيره سواءاستخفه اولم بستخلفه

Pengertian demikian, menurut Ibnu Taimiyah, muncul dalam beberapa ayat Quran dan hadis berikut.

ثُمَّ جَعَلۡنَٰكُمۡ خَلَٰٓئِفَ فِي ٱلۡأَرۡضِ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ لِنَنظُرَ كَيۡفَ تَعۡمَلُونَ

Artinya: Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat (Surat Yunus: 14).

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗ

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”… (Surat Al-Baqarah: 30).

وَلَوۡ نَشَآءُ لَجَعَلۡنَا مِنكُم مَّلَٰٓئِكَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَخۡلُفُونَ

Artinya: Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun (Surat al-Zukhruf: 60).

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ

Artinya: Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan (Surat Shad: 26).

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Surat Ali Imron: 190).

Menurut Ibnu Taimiyah, penggunaan kata khalifah dalam ayat-ayat di atas memiliki arti menggantikan atau mewakilkan dan bukan berarti politik (religius). Khusus untuk dua ayat di atas, yaitu penjelasan tentang penunjukan Nabi Adam dan Nabi Dawud sebagai khalifah di bumi, menurut Ibnu Taimiyah haruslah dipahami bahwa keduanya itu menggantikan para pendahulu mereka, seperti malam menggantikan siang. Bukan menggantikan atau mewakili Allah, seperti dipahami oleh sebagian orang.

Selain itu, Ibnu Taimiyah juga memperkuat argumennya, bahwa istilah khalifah dipahami sebagai pengganti, dengan mengutip beberapa hadis. Di antaranya:

قال النبى صلى الله تعالى عليه وسلم في الحديث الصحيح من جهزغازيافقدغزاومن خلفه في اهله بخير فقد غزا

Artinya: Nabi Muhammad Saw. bersabda dalam hadis yang sahih; barangsiapa yang memberikan perlengkapan peperangan, maka sejatinya ia seakan telah ikut berperang dan barangsiapa yang mewakili (khalafa) seseorang yang pergi berperang di dalam keluarganya, maka seakan-akan ia sendiri ikut berperang.

في الحديث الاخر اللهم انت الصاحب في السفروالخليفة في الاهل اللهم اصحبنا في سفرنا اخلفنا فى اهلنا

Artinya: Di dalam hadis yang lain; Ya Allah, Engkau adalah sahabat di dalam perjalanan dan khalifah di dalam keluarga. Ya Allah, temanilah kami di dalam perjalanan kami dan wakilkanlah kami di dalam keluarga kami.

Penggunaan kata khalifah oleh Nabi Muhammad dalam dua hadis di atas menurut Ibnu Taimiyah tidak lain adalah dimaksudkan sebagai pengganti atau wakil. Dengan demikian, ia semakin meyakini bahwa sejatinya istilah khalifah dalam tradisi Islam (semasa Nabi Muhammad masih hidup) tidaklah digunakan dalam pengertian politik (religius).

Lebih jauh, Ibnu Taimiyah juga menghadirkan penggunaan istilah khalifah dalam hadis, yang pengertiannya sedikit berbeda dengan hadis-hadis dan ayat-ayat di atas, tetapi memiliki pengertian yang lebih tegas berpisah dengan pengertian khalifah sebagai politik (religius). Hadis tersebut berbunyi demikian:

قال النبى صلى الله عليه وسلم عليكم بسنتى وسنة الخلفاءالراشدين المهديين من بعدى قالواومن خلفاؤك يارسول الله قال الذى يحيون سنتى ويعلمونهاالناس

Artinya: Nabi Muhammad bersabda, “Ialah tetap (wajib) atas  kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah pengganti-penggantiku yang lurus dan mendapat pentunjuk, dari sebagian orang-orang setelah aku nanti”. Para sabahat bertanya, “Siapakah pengganti-penggantimu itu ya Rasulallah?” Nabi menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkan kepada yang lain.”

Menurut Ibnu Taimiyah, jika hadis tersebut sahih, maka ia merupakan bukti yang paling kuat bahwa penggunaan istilah khalifah dalam tradisi Islam (masa Nabi Muhammad), adalah sama sekali tidak mengandung pengertian politik (religius), sebagaimana dipahami pada masa setelah Nabi. Namun, kalaupun seandainya hadis tersebut tidak sahih, maka—dengan mangacu pada ayat-ayat dan hadis-hadis yang sebelumnya—tetaplah istilah khalifah itu hanya memiliki pengertian sebagai pengganti dan bukan politik (religius).

Akhirnya, secara ringkas dapat dikatakan bahwa sejatinya, Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa khilafah (politik/negara) itu merupakan hal yang harus dibedakan (diferensiasi) dengan agama. Penjelasan-penjelasan di atas, secara gamblang menunjukkan bahwa Ibn Taymiyah adalah seorang pemikir yang sangat tidak setuju dengan adanya upaya sakralisasi politik, seperti doktrin khilafah-nya HTI. []

*Muhammad Arif, Pengajar di Prodi Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga

Leave a reply

error: Content is protected !!