HTI: Penghayal Terbesar Abad 21

4
398

Sangkhalifah.co — Islam dan kepemimpinan politik adalah persoalan yang tidak akan pernah habis dibicarakan. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, umat Islam terus bersentuhan dengan politik. Salah satu karakteristik agama Islam yang paling menonjol di era awal yakni kemajuan dan kejayaan di bidang politik. Islam sebagai agama dipandang erat kaitannya dengan kenegaraan. Negara Madinah atau Mitsâq Al-Madînah adalah warisan luhur Nabi Muhammad, yang nilai-nilainya tak akan terhapus dari ingatan umat Muslim. Satu-satunya warisan yang menjadi inspirasi dan diserap di pelbagai negara di dunia, sekalipun bentuknya tidak sama.

Dalam konsepsi modern, terdapat tiga pemikir yang saling bertautan satu sama lain: Al-Maududi adalah tokoh yang membuka jalan; Sayyid Qutb mengonseptualisasikan; dan Taqiyuddin Al-Nabhani membangun jalannya. Ketiganya tidak bisa dipisahkan dalam perbincangan tentang konsepsi Negara Islam, khususnya khilâfah sebagai sistem pemerintahan. Di Indonesia, simpatisan Taqiyuddin Al-Nabhani mendapat tempat bertani dan berternak ide khilâfah yang dibawa dari Palestina. Sejak awal, Hizbut Tahrir cukup getol membumikan gagasan khilâfah di Indonesia.

Ainur Rofiq Al-Amin—mantan hizbiyyîn yang telah bergelut dengan kelompok Hizbut Tahrir sejak tahun 1990-an—melalui bukunya Membongkar Proyek Khilafah mengungkapkan betapa sadisnya para kader HTI dalam mempolitisasi ayat-ayat Qur’an dan bukti kesejarahan. Produk khilâfah yang diserukan HTI, menurut Ainur sebagai “politisasi agama dalam proses sosial” yang sangat mencolok. Penulis sampai menyimpulkan, “memaksa umat untuk meyakini bahwa mendirikan khilâfah ala HTI adalah kewajiban yang paling agung”, tidak lebih sebagai interpretasi yang gegabah dan ahistoris. HT bukanlah gerakan dakwah an sich, dakwah (syiar agama) hanyalah pelengkap, tujuan akhir yang sebenarnya adalah politik dan kekuasaan.

Tujuan akhir berupa kekuasaan itu tidak membuat mereka berhenti walau secara hukum telah tamat; alias tidak legal beroperasi. Menurut Makmun Rasyid, Founder The Centre for Indonesian Crisis Strategic Resolution (CICSR) menyebutkan pasca tamat itu mereka semakin leluasa dalam menyebarkan paham anti-Pancasila. Mereka utamanya beroperasi di media sosial dan adapula yang membuat entitas dan lembaga baru; ada yang pakai embel-embel khilafah dan ada yang tidak. Hal itu tidak terlepas dari tingkat keberanian tokoh atau kader yang bersangkutan.

Agama yang menjadi tameng itu sebagai penutup jubah kepentingan politik mereka. Sebab, sebagaimana Makmun, Sofi Mubarok—penulis buku Kontroversi Dalil-Dalil Khilafahmenyebutkan bahwa konsep Negara Islam yang dikatakan given dan applicated oriented itu tidak ditemukan buktinya; baik secara historis maupun tingkat leap of faith. Bahkan klaim Piagam Madinah sebagai bukti kongkrit dari ejawantah Negara Islam merupakan kegagalan dalam membaca sejarah kenabian dan pesan politik Nabi.

Dalam Islam, sebenarnya sederhana. Nabi memerintahkan untuk mengikuti pendapat mayoritas—walau Nabi tidak memperbolehkan untuk menafikan eksistensi dan pendapat minoritas. Namun pesan Nabi, “sepeninggalku akan ada huru-hara yang terjadi terus-menerus. Jika di antara kalian melihat orang yang memecah belah al-Jama’ah atau menginginkan perpecahan dalam urusan umatku bagaimana pun bentuknya, maka perangilah ia. Karena tangan Allah itu berada pada Al-Jama’ah. Karena setan itu berlari bersama orang yang hendak memecah belah Al-Jama’ah.” Makna Al-Jamaah ini memang beragam. Salah satunya maknanya sebagaimana yang diutarakan Al-Thabari adalah:

الْجَمَاعَةِ الَّذِينَ فِي طَاعَةِ مَنِ اجْتَمَعُوا عَلَى تَأْمِيرِهِ فَمَنْ نَكَثَ بَيْعَتَهُ خَرَجَ عَنِ الْجَمَاعَةِ

Orang-orang yang berada dalam ketaatan. Mereka yang berkumpul dalam kepemimpinan (pemerintahan yang sah). Siapa yang mengingkari bai’at terhadap pemimpinnya maka ia telah keluar dari Al-Jamaah.

Maka jelasnya, jika mengacu kepada pakar mufasir Sunni di atas, maka HTI telah keluar dari Al-Jama’ah. Sedangkan orang yang keluar dari Al-Jama’ah memiliki potensi lebih besar dalam bertindak keburukan dan kesalahan. Dan HTI melalui gerakan dan konsep “Negara Khilafah” telah melanggar isi dari hadis Nabi, yaitu:

من رأى من أميره شيئا يكرهه فليصبر عليه فإنه من فارق الجماعة شبرا فمات ، إلا مات ميتة جاهلية

Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai dari pemimpinnya, maka bersabarlah. Karena siapa yang keluar dari Al-Jama’ah sejengkal saja lalu mati, ia mati sebagai bangkai Jahiliah.

Artinya, HTI tidak saja keluar dari perkumpulan mayoritas, juga tidak sesuai dengan manhaj para Salafus Salih. Para pewaris kenabian, walaupun dia tidak menyukai seorang pemimpin, ia tetap bersabar dan tidak keluar kepemimpinan dan pemerintahan yang sah. Adapun HTI, telah berkali-kali melalui kadernya di berbagai dunia terus berupaya melakukan kudeta terhadap pemerintah yang sah.

Disinilah ucapan Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj ada benarnya. Ia berkata, “Khilafah dalam konteks modern adalah fatamorgana. Ia adalah sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Ormas-ormas Islam di Indonesia sudah berkomitmen dengan NKRI sebagai bentuk negara yang final.” Jika kita tafsirkan, khilafah yang disebut fatamorgana itu konsep khilafah yang sudah keluar dari pemaknaan netralnya. Sebab makna netralnya adalah “pemerintahan”. Jika yang dimaksud pemerintahan, maka Indonesia termasuk negara yang telah mempraktikkan khilafah. Namun yang menjadi soal, ketika khilafah mengalami politisasi.

HTI tidak sadar atau pura-pura tidak menyadari bahwa gagasan terokratik yang terdapat dalam sistem khilafah ala HTI akan mendorong terciptanya penguasa-penguasa otoriter yang menindas rakyat atas nama Tuhan. Begitu juga dengan kepastian adanya berlindung dibalik kuasa Tuhan. Ditambah puladengan tidak adanya jaminan dengan beralih dari demokrasi ke sistem khilafah membuat negara menjadi kuat dan makmur. Sebab itulah, hingga saat ini tidak ada negara yang menganut sistem khilafah. Bukan karena anti terhadap Islam, karena zaman tidak lagi mendukungnya. Jadi hidup ini harus realistis dan tidak berkhayal sesuatu yang mustahil.

Dengan demikian, HTI pantas mendapat piala sebagai penghayal terbesar abad ini karena proyek palsunya (khilafah) mewujudkan Negara Islam di Indonesia selalu meleset dari pridiksi-pridiksi yang selalu digaungkan para petinggi HTI. Tak terkecuali pridiksi tegaknya khilafah di tahun 2020 pun meleset, walau tanpa disadari para penulis dari HTI mengambil pemikiran dan hasil penelitian dari orang-orang non-Muslim dan mereka yang menggunakan demokrasi. Tapi demi mendukung pendapat produk palsunya, HTI rela tidak konsisten dalam menerapkan logika dan asas gerakannya. []

4 comments

  1. Virus Khilafah di Tengah Pandemi (1) – sangkhalifah 7 Juni, 2020 at 19:23 Balas

    […] Sangkhalifah.co — Apa identitas dan sesungguhnya makna khilâfah. Ia terus menerus diperjualbelikan dan didagangkan kesana-kemari tanpa lelah. Seakan-akan berdosa orang yang tidak memperjuangkan khilâfah, sebagaimana yang diutarakan Taqiyuddin Al-Nabhani, pendiri dan pejuang khilâfah dari kelompok Hizbut Tahrir. […]

Leave a reply

error: Content is protected !!