HTI NTT Menyogok Peloper Untuk Sebarkan Paham Khilafah

0
308

Sangkhalifah.coHizbut Tahrir Indonesia seperti tidak mengenal lelah untuk beraksi dengan berbagai modus operandinya. Brigade Meo dan Polsek Maulafa menangkap pasutri Suryadi dan istrinya, keduanya merupakan aktivis HTI di Kupang. Mereka diamankan menjelang peringatan hari lahirnya Pancasila di Jalan Air Lobang 3, Kelurahan Sikmana, Sabtu 30/5/2020.

Dominggus Koro mengatakan bahwa “Suryadi memperalat para loper koran di Jl. El Tari, Kupang untuk menyelipkan selebran paham khilafah dalam lipatan koran yang dijual. Kepada para peloper ia beri uang sebesar Rp. 20.000 rupiah.”

“Pasangan virus berkapsul agama yang tertangkap itu ‘hanya. sesuatu yang menyembul dari timbunan. Kita terlena dengan pujian dan tepuk tangan bagi NTT sebagai wilayah bertoleransi tinggi. Kita mungkin kelewat bangga sehingga hilang waspada,” lanjutnya.

Kita menyadari bahwa kejadian itu satu yang terlihat dari sekian aksi yang dilakukan HTI. Demi menyebarkan paham sesatnya, para aktivis dan penyeru khilafah rela berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama manapun; yaitu menyogok.

“Jika kita mencermati secara sungguh video yang beredar, sesungguhnya penangkapan pasangan suami istri ini hanyalah puncak dari gunung es penyebaran Khilafah di NTT,” ungkap Yulius Riba.

Ia menambahkan juga, “Warga NTT yang ‘terkenal’ toleran tampak terlalu dininabobokan oleh stigma palsu ibu toleransi. Kita terlalu lelap terbuai slogan semu. Kita menjadi permisif dan tidak mawas pada aksi-aksi seperti ini.”

Dalam konteks Nusa Tenggara Timur, paham-paham sistem khilafah sangatlah beresiko untuk memecah belah persatuan Indonesia, sebagai bagian dari sila ketiga Pancasila. Dalam ajaran khilafah, di samping tidak memiliki legalitas kuat dalam agama Islam, terdapat dalam buku panduan mereka sebuah perlakuan diskriminatif terhadap non-Muslim seperti tidak memiliki hak yang sama dalam urusan kenegaraan.

“Jangan-jangan kita terkena sindrom tidak-enakan, takut menyinggung rasa keagamaan sesama meski melihat ada kejanggalan. Tapi, ini tidak berlaku bagi saya. Dua tiga orang asing yang lalu lalang di kompleks pasti memantik curiga saya, dan saya datangi para tokoh, juga ke imigrasi,” tutup Dominggus Koro.

Tentunya para peloper tersebut tidak mengetahui apa itu khilafah ala HTI dan bagaimana dampak negatifnya jika diterapkan di Indonesia ini. Ketidatahuan itulah dimanfaatkan aktivis HTI untuk diminta sebarkan buletin Kaffah dengan menyelipkannya dalam koran-koran yang ingin dijual.

Leave a reply

error: Content is protected !!