Hikmah Memperingati HUT Kemerdekaan RI

0
433

Sangkhalifah.co — Hari ini, 17 Agustus 2021, kita semua merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-76. Sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan bangsa yang telah berjuang memerdekakan Indonesia, upacara bendera digelar di banyak instansi, bendera Merah Putih dipasang di tempat-tempat strategis dan di depan rumah. Memperingati hari kemerdekaan sesungguhnya juga melatih kita untuk pandai bersyukur atas kemerdekaan yang telah Tuhan beri untuk bangsa Indonesia. Lebih sederhana dan ini menjadi perintah agama; peringatan hari ulang tahun kemerdekaan bisa menjadi ajang silaturahmi satu dengan yang lain antar anak bangsa.

Namun, perayaan hari kemerdekaan ini justru dianggap bid’ah oleh kelompok ekstrim seperti HTI dan Wahabi. Pada situs www.konsuktasisyariah.com disebutkan tidak ada perayaan dalam Islam kecuali Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Ini, kata web yang dikelola oleh Wahaboy itu, memberi arti bahwa perayaan selain keduanya, termasuk merayakan kemerdekaan Indonesia, tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Perayaan HUT RI, masih kata Wahaboy, merupakan bentuk mengada-ada apa yang tidak diperintah oleh Rasulullah, dan bisa dianggap bid’ah sesat menyesatkan. Bagi Wahaboy, tidak ada istilah HUT Kemerdekaan Bangsa di dalam Al-Qur’an maupun Hadits, sehingga harus ditolak.

Situs Konsultasi Syariah, dengan mengutip hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, terkait siapa saja yang memperbaharui apa yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi maka konsekuensinya harus ditolak (Hadits Imam Bukhari). Termasuk hal ini, kata website itu, adalah perayaaan HUT Kemerdekaan 17 Agustus. Artikel yang dibaca hampir 10 ribu ini juga mengklaim perayaan HUT RI merupakan perayaan yang diadakan karena menyerupai kaum non Muslim, yang tidak boleh diikuti oleh umat Islam. “Man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum; Siapa yang menyerupai dengan suatu kaum maka ia masuk dalam kategori orang itu.”

Apa yang disampaikan kelompok Wahaboy ini jelas bertentangan dengan ajaran agama Islam baik secara historis, fakta teks agama, dan bertolakbelakang dengan konteks zaman yang menuntut adanya kemaslahatan dan keadilan. Secara historis, Nabi menghargai negeri yang menjadi tempat kelahirannya. Disebutkan dalam buku “Sejarah Peradaban Islam” Nabi pernah menangis karena haru akan meninggalkan kota Makkah. Nabi, tidak ingin jauh dari tempat kelahirannya. Begitu para sahabat Nabi saat di Madinah, apa yang mereka panjatkan dalam doa kepada Allah adalah agar diberikan ketenangan dan betah selama di Madinah, seperti mereka ingin menjadi warga Madinah yang setia, pantang menyerah sebelum diajak Rasulullah.

Inti dari memperingati kemerdekaan adalah mengenang jasa-jasa pahlawan agar kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran di balik kejadian perebutan kemerdekaan bangsa dari penjajah. Misi kemerdekaan adalah kebebasan, kebersamaan, dan kemandirian. Dengan memperingati hari kemerdekaan, kita bisa lebih teguh dalam berbangsa dan bernegara. Lebih dari itu, hikmah memperingati hari kemerdekaan Indonesia adalah lebih mencintai tanah Air sendiri. Sebab, cinta tanah Air adalah sebagian dari keimanan.

Syaikh Muhammad Ali dalam kitab Dalil Al-Falihin halaman 37 tegas mengatakan, “Hubbul Wathon minal Iman; cinta tanah Air sebagian dari iman”. Anjuran untuk mencintai bangsa Indonesia di hari kemerdekaan ini juga diisyaratkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari, sebagai berikut, “Suatu hari ketika Rasulullah akan pergi meninggalkan Madinah menuju kota Makkah, beliau melihat dinding-dinding Madinah dan sontak langsung menangis. Nabi sampai-sampai menggerakkan  binatang yang dikendarainya”. Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad sangat mencintai negerinya, tempat kelahirannya.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan beberapa hikmah dibalik diperingatinya hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia; pertama, memperingati hari kemerdekaan dapat mempertebal keimanan, karena memperingatinya menambah kecintaan pada negeri, sedang cinta pada tanah air bagian dari keimanan. Kedua, menambah rasa syukur kepada Allah SWT, atas pemberian kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, sehingga kita bisa beribadah dengan tenang di atas bumi pertiwi. Bersyukur adalah perintah agama yang sangat mulia. Dan ketiga, hikmah dibalik memperingati hari kemerdekaan mengokohkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Dengan persatuan dan kesatuan ini, menjadikan bangsa kokoh dari rongrongan kelompok ekstrim dan radikal. []

Leave a reply

error: Content is protected !!