Hikmah Dibalik Mengapa Allah Menciptakan Keragaman

0
580

Sangkhalifah.co — Disadari atau tidak manusia diciptakan di muka bumi dalam keragaman yang amat besar. Keragaman itu sudah nampak sejak pada fisiknya. Manusia diciptakan dengan beragam anggota badan, dari mulai jari kaki, kaki, paha, perut, telinga, kepala, dan selainnya yang tidak bisa dihitung jumlahnya. Keragaman manusia kemudian nampak dalam wilayah keluarga. Di dalam keluarga terdiri dari seorang ayah, ibu, dan anak-anak dengan berbagai karakternya. Keragaman dalam keluarga bukan hanya dalam karakter yang dimiliki satu sama lain, akan tetapi juga dalam hal hobi, minat, baakat, dan lain sebagainya. Keragaman itu kemudian tergambar juga dalam kehidupan di masyarakat. Keragaman baik dalam agama, keyakinan, kepentingan sosial dan politik, adalah sederet keragaman yang tidak bisa dikesampingkan.

Lalu pertanyaannya, apa hikmah Allah menciptakan manusia dalam keragaman? Apa tujuan Allah sebagai pencipta alam semesta menciptakan manusia yang satu sama lain berbeda? Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah memberikan gambaran mengapa manusia diciptakan dalam keadaan beragam, termasuk dalam beragama dan berkeyakinan. Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an ini menegaskan bahwa manusia diciptakan beragam agar mereka memiliki sikap untuk bisa memilih sesuatu yang baik dan memiliki watak berprinsip. Hanya dengan memilih yang terbaik bagi dirinya di antara hal-hal baik lainnya manusia akan dilatih menjadi insan yang pandai dalam memilih dan berprinsip. Sebab itu, sampai pada detik ini manusia memiliki jalan hidup masingmasing, yang tidak lain disebabkan karena adanya prinsip yang dipilih manusia yang kadang tidak disadari atau bahkan dilupakan begitu saja.

Fakta demikian berbeda dengan sebagian orang yang mengaku Islam akan tetapi tidak memiliki prinsip dan keyakinan akan kenyataan keragaman umat manusia, khususnya dalam beragama dan bernegara. Sebut saja kelompok Islam radikal dan teror, mereka mengatasnamakan agama untuk menolak keniscayaan keragaman. Menyikapi demikian Grand Syaikh Al-Azhar Ahmad Thayyib menegaskan bahwa kelompok yang demikian karena dua alasan. Pertama, mereka tidak memahamai esensi agama Islam. Dan kedua, hanya menjadikan agama sebagai komoditas dan kepentingan politiknya. Kenyataan keragaman yang Allah tetapkan pada manusia tidak mau diterima dengan alasan tidak sejalan dengan agama yang diyakininya. Hingga pada akhirnya memerangi mereka yang tidak sekeyakinan.

Di dalam QS. Yunus ayat 99 Allah SWT berfirman: “Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya”.

Secara filosofis, ayat ini dapat dipahami sebagai pelajaran penting agar manusia tidak menjadi pribadi yang rakus dalam beragama. Memaksa orang lain untuk percaya keyakinan dan agamanya adalah sebuah tindakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan yang jelas menolak adanya keseragaman. Allah kembali menegaskan dalam QS. Al-An’am ayat 35, “Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk.” Akan tetapi Allah tidak berkehendak untuk melakukan semua itu.

Hikmah yang juga penting dalam menyadari adanya keragaman pada manusia adalah untuk meneguhkan prinsip tauhid manusia khususnya mereka yang memeluk agama Islam. Nur Rofi’ah dalam pernyataan menegaskan bahwa prinsip ketauhidan seharusnya menjadikan seseorang tunduk akan ajaran agama, termasuk dalam kenyataan adanya keragaman manusia. Menghargai keragaman adalah menyatakan bahwa tauhidnya hanya karena Allah, bukan karena keyakinan dan atau agama yang diinterpretasikan oleh dirinya. Sebaliknya, seseorang yang tidak menghargai kenyataan keragaman umat manusia dikarenakan ada keyakinan lain selain Tuhan atas interpretasinya. Oleh sebabnya, prinsip tauhid seharusnya meniscayakan seseorang untuk menghargai keragaman.

Tidak hanya sekali atau dua kali Allah mengingatkan manusia akan keniscayaan keragaman. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, Allah menegaskan, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan bahwa melalui ayat ini Allah hendak menegaskan bahwa diciptakannya manusia agar satu sama lain saling mengenal, saling berbagi pengalaman, dan saling sharing ilmu dan kebaikan. Dengan begitu manusia akan menjadi diri yang terbuka dan toleran satu sama lain.

Maka sebab demikian, seseorang yang tidak meyakini akan keniscayaan keragaman pemikirannya ekslusif dan mudah marah jika menemukan adanya perbedaan dan keragaman. Kelompok teroris adalah wujud dari orang yang memiliki watak demikian. Sekalinya melihat orang liyan, yang ada pada kepalanya hanyalah salah, sesat dan bid’ah dan halal darahnya. Berbeda dengan manusia yang moderat dalam beragama, ia akan meyakini dan meniyakan adanya keniscayaan keragaman manusia.

Keyakinan demikian akan menumbuhkan jati diri manusia untuk menjadi pribadi yang santun, toleran dan pandai dalam bergaul di manapun berada. Maka, hanya dengan menyadari adanya keragaman umat manusia, seseorang akan menjadi pribadi yang toleran. Hanya dengan kesadaran tersebut, umat Islam akan menjadi umat yang pandai dalam meneguhkan prinsip tauhid yang sebenarnya. []

Leave a reply

error: Content is protected !!